Celetukan

ruang kecil di sudut hati

Amerika “Terancam” Timur Tengah

Amerika dianggap sebagai penggagas dan pejuang demokrasi dunia, tapi dia tidak pernah bisa menciptakan demokrasi ala Amerika. Nyatanya, demokrasi tumbuh dan berkembang dengan sendirinya bahkan seolah lepas dari induknya. Demokrasi-demokrasi di luar Amerika itulah yang kelak menjadi ancaman bagi dia. Alih-alih “membunuh” Timur Tengah dengan demokrasi, justeru Amerika sedang membuat senjata makan tuan. Amerika membantu dunia Islam dengan demokrasi, untuk bangkit, untuk menjadi mercusuar yang mengancam dunia. Jika dulu ancaman Islam berarti pedang, kelak akan berarti lain. Tak mesti perang, tak mesti pula invasi karena Islam tidak seperti yang mereka kira, hanya bisa main pedang dan menginvasi. Islam bisa dengan sangat lembut dan dingin melilit peradaban dunia, perlahan-lahan. Intinya, tesis Samuel P. Huntington, tak terbantahkan. Amerika salah besar jika berkesimpulan bahwa pemerintah otoriter itu menjadi sebab ancaman Timteng bagi dia, justru pemerintahan semacam itulah yang akan mengendapkan Timteng dan negara-negara Islam. Timteng dan negara-negara Islam akan menjadi ancaman bagi Amerika kalau mereka menjadi negara maju, dan anehnya Amerika dengan baik hati membantu mereka mati-matian untuk maju. Amerika tidak sedang meruntuhkan tesis Huntington, tapi dia sedang membuktikan kebenarannya.

Rindu Muhammad Saw

Kau tahu kampungku? Ya, aku tinggal di kampung Selawat. Begitulah namanya, karena di sini penduduknya mengeramatkan shalawat pada Nabi Muhammad Saw, mengungkapnya dalam setiap zikir pagi dan malam. Jika kau dengar ada teriak maling di kampung lain maka di kampungku akan sering kau dengar teriak shalawat. Dan entah kenapa, sejak kecil aku begitu larut jika selawat itu dilantunkan dengan nada merdu oleh orang-orang di kampongku. Sejuk dan kesyahduan rinduku pada Muhammad Saw seperti jumpa tinggal sejengkal.

Aku jadi teringat sebelas tahun yang lalu. Ustadku, Sukarto namanya, pernah bertanya, “Bardan, kamu sudah mengenal sosok Muhammad Saw sebagai nabimu?”
“Belum Pak.”
“Apa?” Beliau tampak terkejut, “sudah sebesar ini kamu belum mengenal Muhammad Saw?” Ia berpaling dan kembali duduk di meja guru, “ingat Bardan selawatmu itu hanya akan jadi nyanyian jika kamu belum mengenal Muhammad Saw. Mengerti semua?”
“Mengerti.” Serentak teman kelasku menjawab.
“Bardan. Kamu mengerti?”
“Iya, pak Ustadz, Bardan mengerti.” Saat itu aku duduk di bangku menengah pertama.
“Baiklah, mulai sekarang kamu harus membaca sejarah Muhammad Saw ini, seolah kamu ada di sampingnya.” Ustadz Sukarto menjulurkan satu buku tebal untuk aku baca.

***

Seorang lelaki belia,—mengenakan sarung yang terikat longgar di perutnya dengan peci hitam tampak lusuh akibat basah saat wudu—menenteng kitab yang hampir sebesar dirinya. Itulah aku, pada tahun-tahun pertama belajar di pesantren. Masih kuingat waktu pagi saat halaman kamarku bertabur daun kering pohon Ketapang. Aku menyisirnya dengan kaki atau kuinjak saja, saat menuju tempat belajar favoritku. Kadang aku jengkel sekali dengan sarung yang kukenakan—menggelayut kedodoran hingga mengganggu langkahku. Iri rasanya melihat teman-teman yang lain tampak nyaman mengenakannya seperti memakai celana. Itulah masa di mana aku masih bertanya kenapa harus belajar di perantauan. Sejujurnya, aku belum rela meninggalkan kampungku, aku rindu layang-layang dan pematang sawah yang hijau, rindu aliran sungai yang deras, di sana aku berenang bersama teman. Aku rindu teguran ibuku dengan teriaknya ketika senja diriku belum juga pulang.

Oh,..di antara sirah Muhammad Saw dalam buku yang kugenggam ini, aku mengeja kerinduan pada ibuku, pada kampung halamanku, pada masa ceriaku. Dan entah, sudah berapa tetes air mata yang kutumpahkan untuk meratapi semua ini—di pagi hari, sore hari atau tengah malam saat aku bangun tiba-tiba dan kudapati puluhan temanku tertidur pulas menikmati nasib yang sama, jauh dari ayah dan ibu.

***
Lama aku termenung, “Mungkinkah kutemukan Muhammad Saw dalam buku ini?” Aku selalu bertanya itu saat kubaca Sirah Nabawiyah pemberian guruku. Beberapa hari buku itu hanya kutimang-timang, kulihat di punggungnya tertulis jilid satu. “Membacamu seolah di sampingku ada Muhammad Saw?” Tanyaku pada buku itu. Kau tahu? Di sini tidak ada siapa-siapa selain pohon ini, menjalar bersama akarnya yang kuning kusam. Atau paling juga tumpukan al-Qur`an yang tertata berantakan di rak-rak lapuk itu. Ah, aku tidak menemukan siapa-siapa di sini. Aku tidak menemukan Muhammad Saw dalam dirimu, wahai buku. Harusnya kau tahu, aku ini lebih suka menjumpainya dengan selawat. Begitulah, setiap hari aku mencaci ketidakberdayaanku memahami buku itu.

Hari-hari berikutnya, kembali kupandangi buku sirah dari tepian taman yang kusebut Maqom itu. Saat duduk silaku menghadap kiblat terlalu lama, aku ganti berbaring sambil membuka-buka halaman tengah, balik ke halaman pertama lantas halaman belakang untuk kuakhiri dengan menutupnya. Dan selanjutnya buku itu sama sekali tidak kubaca, bahkan setelah seminggu kubawa ke mana-mana. Apalah kiranya maksud ustadzku memberi buku ini? Sepertinya tidak ada, selain menambah bebanku. Berat sekali untuk mengenal Muhammad Saw dengan buku setebal ini. Padahal Muhammad Saw sejatinya sudah kutulis dalam kalbuku beribu-ribu.

Adzan Asar tiba berkumandang, aku bergegas dan kembali ke kamar, kuletakkan buku itu di atas lemari. Ia terpajang paling tebal, bahkan sempat kulihat mata temanku yang memandang dengan iri. Akupun takut ‘Muhammadku’ diambil, maka kukunci rapat-rapat ia dalam lemari. Kutinggalkan dia sendirian dalam sepi pengapnya lemari, untuk kusimpan aroma rindu darinya dan kubawa ke mana-mana.

***

Seperti itulah aku di usia belia, sejak dulu punya cara sendiri untuk mengenal Muhammad Saw. Rasanya begitu agung untuk kuperkenalkan dia pada orang lain, seperti aku mengenal dirinya. Kini di kampungku aku pun begitu, di antara banyak mulut menganga berucap selawat, aku masih menyimpan kenangan yang indah dan kupendam rapat-rapat dalam hati dari buku-buku yang diberi ustadz Sukarto.

“Bapak menangis?” Tegur pak Arif saat kami sedang membaca selawat bersama di masjid.
“Ah tidak, Pak. Kenapa?” Aku masih belum menyadari.
“Mata Bapak sembab dan basah. Lihatlah pipi Bapak.”
“Oh, ya Allah.” Kudapati pipiku basah oleh air mata dan buru-buru aku membasuh muka.

Tanpa kembali bergabung dalam jamaah selawat aku langsung pulang ke rumah.
“Lho, Ayah sudah pulang? Acara kan belum selesai?” Tegur istriku sambil menyeterika baju-baju anakku. Tanpa kujawab, aku langsung menuju ruang tengah, tertunduk pilu di atas sajadah.
“Ya Allah, Ayah. Ayah menangis?”
“Bunda, apakah berlebihan kalau aku menangis karena rindu Muhammad Saw?”
“Masya Allah. Tentu saja tidak, Ayah. Lihatlah betapa banyak orang hanya mengenal namanya saja. Ayah bersyukur dapat sedalam ini mengenal Muhammad Saw.” Jawab istriku sambil mendekatiku, meninggalkan tumpukan baju yang belum ia setrika. Kulihat juga di tangannya ia menenteng sehelai baju anakku.
“Bunda, malam ini aku rindu Muhammad Saw, aku rindu sekali.” Curhatku dengan mata yang masih sembab.
“Aku teringat, beliau menggigil menerima wahyu pertama.”
“Aku teringat, beliau berdarah dilempari batu saat berdakwah.”
“Aku teringat, tiga tambalan bajunya saat meninggal.”
“Aku teringat, dapur Aisyah yang pernah tidak mengepulkan asap selama tiga hari.”
“Aku teringat, ketulusan hatinya menyuapi kakek buta yang mencacinya tiap hari.”
“Aku teringat saat baginda Muhammad Saw bertanya, ‘Aisyah, apakah ada yang bisa dimakan?’ Tidak ada. ‘Ya sudah, kalau begitu aku puasa hari ini.’”
“Aku rindu Bunda, aku rindu padanya.”

Istriku diam, kulihat wajahnya yang hening seolah merasakan hal yang sama. Ia pun berpaling, berebah di samping anakku—menghayati kerinduanku, mungkin juga kerinduannya. Segera kulanjutkan selawatku beribu-ribu. Sesekali kupejamkan mata, sambil terus kubaca seolah aku ada di dekat Muhammad Saw. Entah sudah berapa selawat yang kubaca pada malam itu. Saat kubuka mata dan selawat kuhentikan, di luar rumah sudah sepi senyap. Tak ada lagi suara kehidupan selain nyanyian katak yang bersahutan atau anak-anak jangkrik yang belajar mengerik. Tampak pula anak dan istriku lelap berpelukan di atas dipan berkelambu.

***
Azan subuh mengalun merdu, dan kudapati diriku di atas sajadah yang tadi malam kugelar. Aku bangun, berjalan tenang menuju masjid depan rumahku. Dan kembali kutatap suasana pagi kampungku. Udaranya segar. Kampung Selawat tampak masih gelap tertutup kabut berasap. Dari kejauhan, orang akan tampak seperti bayang-bayang hitam, samar-samar karena terhalang kabut tebal. Sesekali akan kau dapati lelaki dengan cangkul di pundaknya, dan sebatang rokok yang menyala di mulutnya. Kadang lewat di jalan depan rumahku ini, lelaki paruh baya menuntun sapi. Kau dengar? Bunyi kalungnya menghiasi keheningan subuh yang berembun.

Beberapa menit usai jamaah shalat, aku berangkat dengan sabit dan karung menuju perbukitan. Di ladang sayur yang hening ini kau dapat mendengar dengan jelas setiap suara, bahkan suara langkahku. Jika pagi, kami biasa bersahutan dari jauh, tanya kabar, tanya peliharaan atau sekadar menyapa.

Dan lihatlah, bulan itu samar-samar masih tampak bulat sempurna, sepertinya enggan kembali ke peraduan. Padahal matahari telah mengambil bagiannya. Mungkin ia menantang keindahan matahari untuk bersaing dan kuberi tepukan pada sinarnya yang anggun.

Aku pernah bermimpi melihat bulan dan matahari setelah kubaca selawatku berkali-kali menjelang malam. Mungkin ini pertanda bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan jika kelak aku bertemu Muhammad Saw dalam tidurku.

Di antara pohon jagung yang subur aku duduk termangu. Dan masih kurasakan sisa rindu pada nabiku yang menghampiriku semalam.

Tentang Buku Agama

Dalam menyajikan sebuah naskah, terutama naskah agama, hal penting yang patut diperhatikan oleh editor (in chief) adalah intensitas emosi dan ego penulis dalam menuangkan tulisannya. Usahakan, teks itu bersih dari kesan-kesan yang mencitrakan sosok penulis secara negatif seperti, bentuk-bentuk kalimat yang terlalu menggurui, atau kalimat-kalimat sentimentil dan sinis yang berbau rasis, dan sebagainya.

Semua itu dapat merusak kenyamanan emosi pembaca. Sebagaimana kita tahu, membaca adalah kerja otak sekaligus batin. Oleh karena itu, kenyamanan adalah hal utama dalam menyajikan sebuah teks atau naskah. Gagasan-gagasan memang selalu berangkat dari pikiran, tapi ketika menyajikan gagasan itu aspek psikologis seperti kenyamanan, keasyikan, kedamaian, keteduhan, dan semua permainan-permainan batin sama sekali tidak bisa diabaikan. Gagasan memikat akan kandas jika disampaikan dengan gaya tutur atau tulisan yang menjenuhkan batin.

Karena kita sudah tahu bahwa teks adalah representasi dari penulisnya, maka bentuk ataupun strukturnya harus benar-benar menarik. Apalagi jika yang dibicarakan teks tersebut adalah tentang agama yang mengharamkan adanya kesan-kesan batiniah bersifat negatif. Menulis buku agama memiliki karakter sendiri dibandingkan dengan buku-buku non-fiksi yang lain.

Rindu Kenangan

Saat jaga dan lelap aku sepi darimu

Tapi kulihat senyata-nyata

Kaulah itu yang kutunggu beribu-ribu

 

Maka

Kutulis sekuntum puisi ini untukmu

Supaya kelak mengisi ruang

Dari rindu dan kenangan yang pernah kau tabur

 

Bilakah masa dapat kuputar dan kau di sisiku,

Mengeja huruf atas hati yang terkunci,

Saat kita terikat rasa dan suasana merdu

 

Ah,

Itulah dia waktu

Awal kita mengenal cinta

Tumor Ganas dan Bisul di “Tubuh” Kita

Sesuatu yang rumit, kadang lebih mudah dijelaskan dengan perumpamaan atau analogi. Seperti permasalahan yang dihadapi negeri ini. Belum selesai satu kasus korupsi, muncul kasus lain dengan modus yang lebih canggih. Semakin ditebas, korupsi makin tumbuh liar bercabang-cabang. Diskusi diadakan silih bergantian mengguyurkan solusi, tapi ia tak kunjung padam. Solusi-solusi itu, bukannya menjadi air malah menjadi spiritus bagi api korupsi. Sekilas, itulah gambaran rumitnya kasus korupsi di negara ini. Makanya, perlu analogi untuk menjelaskannya.

Terkait analogi, sebenarnya Al-Farabi pernah mengajarkannya pada kita. Beliau menganalogikan sebuah negara dengan tubuh manusia. Dengan analogi itu, Al-Farabi hendak memudahkan para pemimpin dunia, tentang cara mudah mengelola sebuah negara. Agar mereka sadar posisi dan dapat menempatkan komponen-komponen pemerintah sesuai dengan fungsi yang semestinya sehingga melahirkan sosok negara yang berkarakter dan survive menghadapi perkembangan zaman.

Merujuk pada cara Al-Farabi dalam beranalogi, sebenarnya saya sedang berusaha keras memahami kondisi negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Jadi, di benak saya, Presiden adalah kepala, isinya otak kecil, otak besar dan otak tengah. Mereka adalah analogi dari gubernur, bupati dan lurah. Lalu, DPR dan MPR yang memiliki keputusan tertinggi, saya analogikan dengan jantung sebagai organ pokok manusia.

Tangan dan kaki beserta jemarinya adalah para menteri. Menteri yang suka menjilat ada di jempol karena suka ngasih “like” jika Presiden bicara dan ngasih “like” setiap keputusannya. Menteri dari partai koalisi ada di jari telunjuk karena kenyatannya mereka hanya pesuruh, ditunjuk ke sana, ditunjuk ke sini. Sedangkan, para menteri koalisi yang berkhianat ada di jari tengah. Artinya, jika Presiden marah, jari itu bisa diacungkan sendirian ke arah mereka.

Di jari manis adalah menteri-menteri yang menguntungkan, untuk dijadikan “sapi perah”. Analogi ini berangkat dari kebiasaan kita yang suka menggunakannya untuk meletakkan perhiasan seperti cincin dari emas atau yang bermata berlian. Itulah makanya “sapi perah”. Perut sebagai sumber energi bagi manusia setelah mengonsumsi makanan adalah analogi yang tepat untuk Bank Indonesia. Sedangkan para pengusaha adalah alat vitalnya.

Sekarang, di dalam kepala, jantung, tangan dan kaki, perut serta alat vital seorang yang bernama “Indonesia” itu, terdapat tumor ganas yang bernama korupsi. Biasanya, orang yang mengidap tumor ganas di satu anggota tubuh saja, katakan di otak, bisa surut harapan hidupnya. Bayangkan! Ini ada seorang bernama “Indonesia” yang mengidap tumor ganas di enam anggota tubuh penting. Jika “Indonesia” adalah beneran orang, bukan lagi analogi, mungkin tiap hari ia lemas menunggu deadlinemati.

Sebagai rakyat jelata, kita adalah sel-sel tubuh. Oleh karena itu, jika salah satu dari 6 tumor itu diangkat demi hidup “Indonesia” yang lebih sehat, di antara kita pasti ada yang akan mati menjadi korban. Mati terikut tumor yang diangkat atau dalam bahasa Jawanya, kanthil. Sondang contohnya,kanthil saat tumor di kepala terdeteksi. Ingat! Baru dideteksi, belum diangkat. Korban Mesuji, adalah sel yang kanthil saat tumor di alat vital juga coba diangkat. Saat tumor di perut “Indonesia” nanti diangkat, pasti juga ada sel yang akan kanthil dan mati. Mati dalam arti yang sebenarnya, atau mati karena tak dapat lagi beraktivitas karena terpenjara.

Adapun demonstrasi di jalan TOL Cikampek adalah bisul di alat vital. Akibatnya, mulut mengerang kesakitan sambil menunjuk-nunjuk—dengan jari telunjuk—dimana letak bengkaknya.

Di tubuh seorang bernama “Indonesia” yang sudah sakit-sakitan ini, kita sebagai sel harus mandiri. Bergerak aktif menyuplai darah yang sehat pada organisme yang rusak. Bahkan, jika perlu, kita geser tumor itu ke luar tubuh atau ke dalam usus agar lenyap menjadi kotoran. Ini jauh lebih baik daripada dokter rumah sakit Internasional yang melakukan operasi bedah.

Sebagai sel, kita memang dirugikan karena tubuh kita “Indonesia” dihancurkan dan digerogoti oleh kepentingan sesaat para organ penting. Tapi, bersama-sama menciptakan bisul, bukanlah solusi yang tepat. Sebab, jika fisik “Indonesia” dihajar bertubi-tubi dengan penyakit, khawatir jiwanya juga ikut rusak. Kemudian, menjadi pesimis, hilang arah, dan tak punya harapan. Yang parah—dan ini bukan menjadi kehendak kita semua—adalah jika “Indonesia” bunuh diri tak kuasa menahan beban hidupnya yang penuh dengan penyakit mematikan.

Intinya, dalam kondisi seperti ini, kita semua harus sadar sebagai satu dalam tubuh yang bernama “Indonesia”. Bukannya saling serang dan saling tikam karena jika hancur, hancurlah kita semua, jika mati matilah kita semua. Lebih baik optimis sembuh meski sakit, daripada sehat mengumpulkan penyakit. Semoga bermanfaat.

Merayakan Hari Lahir Nabi saw. dengan Berpuasa

Manusia adalah makhluk seremonial yakni gemar merayakan banyak hal dalam hidupnya. Dari pertunangan, berlanjut ke pernikahan, kelahiran anak, hingga kematian, manusia punya cara untuk membuat perayaannya. Dan, seremonisme ini—baik yang bersifat keagamaan, kenegaraan atau yang sekadar suka-suka—saya kira telah mengakar dalam budaya manusia sejak berabad-abad yang lalu. Bisa jadi, sama tuanya dengan umur manusia di bumi. Sebab, dalam benak saya, terbayang sekumpulan orang pra sejarah sedang menari bersama dan berteriak mengangkat tombak setelah mendapat buruan yang banyak. Maksudnya, ada budaya seremonial di zaman mereka.

Setua umurnya, seremoni kini tumbuh dan mengalami evolusi dalam jumlah yang tak terhingga. Mungkin, perlu ensiklopedia berjilid-jilid untuk menjelaskannya secara detil, satu per satu. Tapi, meskipun banyak macamnya, Islam melihat seremoni-seremoni itu hanya dengan dua standar yakni baik dan tidak baik. Dan, sebagai umatnya, hanya kebaikan yang bisa kita terima dan kita lakukan, sebab itulah asas dalam beragama.

Oleh karena itu, setiap seremoni, asalkan baik dan bermanfaat maka layak atau bahkan harus kita apresiasi. Tujuh belas Agustus, misalnya, harus kita apresiasi karena ia adalah hari kemerdekaan RI, yang jika dirayakan dapat menumbuhkan nasionalisme kita sebagai warga negara. Begitu juga dengan seremoni-seremoni lainnya, seperti Hari Ibu, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda dan lain sebagainya. Semua itu seremoni baik dan menyimpan sejuta makna.

Terkait masalah ini, sebenarnya saya ingin sedikit berwacana bahwa di antara ibadah kita sebenarnya ada yang seremonial. Yakni puasa hari Senin. Ia termasuk seremonial karena dilakukan Nabi saw. untuk merayakan hari lahirnya dan hari diturunkannya Al-Qur’an. Dasarnya, suatu ketika Nabi saw. pernah ditanya, “Wahai Rasulullah! Kenapa Anda berpuasa Senin-kamis? Beliau menjawab, ‘Karena pada hari itu (Senin) aku dilahirkan dan pada hari itu pula, kepadaku, Al-Qur’an diturunkan.’” (HR. Abu Dawud)

Hadis di atas sangat menarik, karena menyiratkan pelajaran tentang perayaan yang benar untuk hari kelahiran Nabi saw. dan hari diturunkannya Al-Qur’an. Barangkali, Nabi saw. telah membaca tabiat umatnya yang sulit melepas diri dari seremoni-seremoni. Sehingga, Nabi saw. berpesan dalam hadis itu tentang tata cara yang baik untuk merayakan hari lahir beliau dan hari diturunkannya Al-Qur’an yakni dengan ibadah. Tujuannya, jelas agar umatnya tidak terjerumus pada pesta sia-sia dan hura-hura.

Tapi, puasa hari Senin bukan sekadar seremonial untuk menghormati hari kelahiran Nabi saw. dan turunnya Al-Qur’an belaka. Di sisi lain, puasa hari Senin memiliki manfaat ritual, seperti halnya ibadah-ibadah sunah yang telah melembaga ke dalam syariat. Dalam sebuah hadis riwayat At-Turmudzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Catatan amal perbuatan manusia itu dihaturkan pada Allah di hari Senin dan Kamis, dan aku lebih suka amal perbuatanku dihaturkan saat aku sedang berpuasa.”

Intinya, berpuasa hari Senin memiliki banyak hikmah dan manfaat. Tidak sekadar untuk menambah pahala, tapi juga untuk menggali postulat cinta, cinta kepada baginda Nabi saw. dan cinta kepada Al-Qur’an yang akhirnya mendorong kita suka ria untuk membuat perayaan bagi keduanya dengan ibadah.

Terlepas dari semua itu, yang jelas dan pasti, sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas, akan menjadi tabungan di akhirat. Dan, semoga puasa sunah kita menjadi bagian terikhlas dari aktivitas di hari Senin. Selamat berpuasa. Semoga bermanfaat.

(Bukan) Tentang Penyucian Jiwa

Dalam keseharian kita, emosi kadang muncul tak terelakkan. Tapi, namanya juga emosi, ia cepat datang, cepat pula perginya. Biasanya, emosi itu dipicu oleh kondisi penat akibat tekanan batin yang berat. Sumbernya bermacam-macam, karena masing masing orang memiliki titik sensitif dan ketersinggungan yang berbeda. Seperti, ada orang yang ketika penat, disinggung sedikit tentang mantan kekasihnya, ia langsung naik pitam. Ada pula orang yang saat penat, mudah sekali marah-marah pada orang tertentu karena ia tidak suka, baik itu omongannya benar atau salah. Jadi, emosi ini ragamnya banyak, bahkan seringkali membuat kita ‘geli’ mendengar detail kejadiannya. Sebab, ada orang yang kalau marah, spontan melepas bajunya, membanting HP padahal bukan miliknya, menjambak-jambak rambut sendiri, menampar-nampar wajah sendiri, dan masih banyak lagi perilaku aneh lain yang mengentarakan jeleknya orang marah atau emosi.

Akibat merasa jengah dan lelah dikelabui perasaan sendiri, banyak di antara kita yang sering bertanya tentang cara meredam emosi. Dan, ternyata setiap orang memiliki jawaban sendiri-sendiri. Meskipun, banyak juga yang abai hingga marah atau emosi dianggapnya biasa dan akhirnya menjadi tabiat.

Al-Qur’an, sebagai kitab suci perikemanusiaan—meskipun tidak memberikan jawaban sedetail yang diharapkan orang-orang pemarah—sebenarnya telah memberikan penawarnya. Al-Qur’an bahkan mampu menawar emosi, cukup dengan dibaca saja meski seseorang tak paham isinya.

Perlu diketahui bahwa emosi, sedih, bahagia, gundah gulana dan lain sebagainya adalah ekspresi jiwa. Jiwa sendiri, dalam Al-Qur’an disebut dengan an-nafs. Dan, dilihat dari namanya, Al-Qur’an membagi jiwa dalam dua sifat yaitu an-nafsul muthma’innah atau jiwa yang kondisinya tenang (QS. Al-Fajr [89]: 27) dan an-nafsul ammârah bis-sû’ (QS. Yûsuf [12]: 53) atau jiwa kalut yang gemar mendorong berbuat keburukan.

Penyebutan an-nafsul muthma’innah dan an-nafsul ammârah bis-sû’ dalam Al-Qur’an itu, sejatinya bukan menunjukkan kelas atau tingkatan spiritual—bahwa ada orang yang jiwanyamuthma’innah dan ada orang yang jiwanya ammârah bis-sû’—, melainkan pengetahuan akan adanya fluktuasi dalam jiwa manusia. Artinya, secara sporadis, jiwa manusia kadang tenang, kadang bergolak atau galau. Pada saat galau atau jiwa dalam keadaan ammârah bis-sû’ inilah kita biasanya mudah marah-marah.

Lantas, cara apa yang ditawarkan Al-Qur’an untuk meredam emosi dan marah-marah ini agar jiwa kembali muthma’innah? Sebenarnya, secara eksplisit Al-Qur’an tidak memberikan cara atau tips untuk meredam emosi karena jika itu yang dilakukan maka penawarnya tidak akan cukup atau sebaliknya kitab suci itu justru akan menjadi ensiklopedia tips. Artinya tidak cukup adalah jika tips yang ditawarkan Al-Qur’an ada 10 saja maka hanya kesepuluh tips itulah yang dapat diterapkan untuk meredam emosi. Padahal, emosi itu terkait dengan karakter jiwa per jiwa, sedangkan jumlah jiwa di dunia ini—dari generasi ke generasi—mencapai milyaran. Atau, jika memang Al-Qur’an secara detail memberikan tips pada setiap jiwa maka bayangkan! Berapa halaman yang dibutuhkan Al-Qur’an hanya untuk menulis tips meredam emosi? Oleh karena itu, Al-Qur’an cukup memberikan pengetahuan tentang jiwa bahwa ia adalah motivator bagi hati dan pikiran manusia. Dengan pengetahuan itu, diharapkan manusia dapat meracik sendiri penawar emosi sesuai dengan kadar yang diperlukan.

Jadi, singkat saja tanpa perlu basa-basi, kita dapatkan simpulkan bahwa dalam hidup ini kita digerakkan oleh entitas gaib yang bernama jiwa. Maka kita adalah citra dari jiwa yang kita miliki. Kenapa pemarah? Mungkin karena jiwa kita penuh amarah. Oleh karena itu, untuk meredam emosi atau untuk keperluan lain seperti memperbaiki akhlak dan budi pekerti, memperbaiki hati, atau agar otak tetap positive thinking, kita harus menjaga kesucian jiwa.

Nah, dalam upaya penyucian dan perawatan jiwa itulah, menggali pengetahuan yang dipaparkan Al-Qur’an menjadi sangat penting. Namun, kini kita tak perlu repot-repot sebab ulama zaman dahulu sudah memikirkan hal itu jauh lebih mendalam dari kita saat ini yang mungkin sudah mengabaikannya. Mereka,bahkan telah membuat konsep yang sangat terkenal hingga kini yaitu tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Pelopornya adalah ulama sufi, dari Imam Al-Ghazali hingga Ibnu Taimiyah. Dalam kitab-kitabnya yang masyhur itu, mereka mengenalkan jiwa beserta anatominya. Di sana, jiwa kita ‘ditelanjangi’ dan dibedah. Sayangnya, saya bukanlah orang yang ahli di bidang tazkiyatun nafs,sehingga belum layak dan kurang pas menjelaskan detailnya di sini.  Tapi, sebenarnya jiwa itu apa sih?

Menurut saya, jiwa atau an-nafs adalah entitas yang memengaruhi, menginspirasi dan menggerakkan jasad dalam beraktivitas, berpikir dan merasa. Oleh karena itu, di Hari Penghitungan nanti, dialah yang bertanggung jawab atas amal perbuatan manusia. Dalam surah Az-Zumar, ayat 70, Allah berfirman, “Dan kepada setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya,” pada surah Al-Mu’min, ayat 17, juga disebutkan, “Pada hari ini (Hari Kebangkitan) setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.” Sedangkan, kaki-kaki bersaksi, tangan kanan dan kiri berbicara, semua mengutarakan secara jujur tentang baik buruknya motivasi yang diberikan jiwa pada mereka. Dalam surah Yâsîn, ayat 65, Allah berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Jadi, dalam hidup ini jiwalah aktor utamanya. Dialah identitas ‘aku’ yang sebenarnya. Sehingga, cara pertama untuk berubah dan berbenah diri adalah dengan mengubah dan membenahi jiwa, bukan sekadar hati dan pikiran. Sebab, keduanya akan baik jika jiwa kita baik dan akan buruk jika jiwa kita buruk.

Terdapat kisah menarik terkait jiwa ini. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khaththab pernah berkata di tengah-tengah para sahabat Nabi saw., “Mimpi itu sungguh menakjubkan, Di antaranya, ada orang yang dalam mimpinya mengalami suatu peristiwa, kemudian benar-benar ada di alam nyata. Tapi, ada pula mimpi yang tidak masuk akal di alam nyata.” Mendengar cletukan Umar ra., sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, “Perkenan aku memberi sedikit penjelasan tentang hal itu, wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah berfirman, ’Allah memegang jiwa seseorang pada saat kematiannya dan jiwa seseorang yang belum mati ketika ia tidur (QS. Az-Zumar [39]: 42).’ Itu artinya, Allah swt. sama-sama memegang jiwa orang yang mati ataupun orang yang hidup dalam tidurnya. Dan, ketika seseorang bermimpi sedang jiwanya dalam genggaman Allah maka mimpi itu adalah mimpi yang nyata (ar-ru’ya ash-shadiqah). Tapi, nahasnya, saat jiwa dikembalikan pada jasad terkadang setan mengambilnya di tengah jalan kemudian membohongi jiwa itu dan mendoktrin banyak hal tentang kebatilan.’” (HR. As-Suyuthi, Jami’ Al-Ahadits, Musnad Ali bin Abi Thalib)

Itulah jiwa menurut Imam Ali, entitas bening yang mudah dicekal setan dan malaikat tentunya. Jika kita, atas nama jiwa, tidak mengolah waktu dan intensitas untuk bersama siapa? Setan akan segera merebut kuasa. Jangan biarkan itu terjadi, dekat-dekatkan jiwa pada bisikan malaikat dan doktrin mereka.

Lantas, apa bedanya jiwa dengan roh?

Roh atau ar-rûh adalah entitas batin yang menandai adanya kehidupan, ia tenang dalam tempat yang tak satu pun manusia tahu. Dan, semua roh itu suci. Saking sucinya, Allah memuliakan roh atas semua ciptaan-Nya dengan kalimat, wa nafakhtu fîhi min rûhî. Kalimat tersebut adalah bagian dari ayat ke-72 surah Shâd. Dalam Bahasa Arab, kalimat min rûhî ini, tidak bisa diartikan dengan, “dari roh-Ku,” karena bentuknya bukan idhâfah ba’dhiyah, melainkan idhâfah at-tasyrîf wa at-ta’zhîm. Jadi, arti yang selamat adalah “dari roh ciptaan-Ku”. Penggunaan idhâfah at-tasyrîf wa at-ta’zhîm, ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan roh. Rohnya apa saja, bisa hewan atau manusia dan roh siapa saja, baik itu orang jahat atau orang baik. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada istilah roh jahat kecuali jiwa yang jahat, mungkin yang itu banyak!

Roh, sebagai tanda kehidupan, ia menjadi penghubung setiap makhluk kepada Dzat yang Mahahidup (al-hayyu alladzi lâ yamût). Jika ada orang mengatakan, “Memangnya Tuhan tidak ada pekerjaan mengamati perbuatan kita orang per orang?” maka sebenarnya ia belum mentas dari proses pencarian relasi makhluk dan Khalik. Padahal, karena roh itulah Dia lebih dekat dari urat nadi (aqrabu min hablil warîd), mengetahui apa yang terbesit dalam hati (ya’lamu mâ fis-shudûr), dan mengetahui rahasia serta yang lebih tersembunyi (ya’lamus sirra wa akhfâ).

Atas dasar ini, kemudian saya berasumsi bahwa manusia memiliki tiga entitas dalam dirinya yaitu roh, jiwa dan jasad. Jin memiliki dua entitas dalam dirinya, yaitu roh dan jiwa. Sedangkan, malaikat hanya memiliki satu entitas saja yaitu roh. Makanya, malaikat Jibril disebut juga dengan Rûhul Qudus. Allah swt. berfirman dalam surah An-Nahl, ayat 102, “Katakanlah, ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).’” Dan, diperkuat lagi dengan firman Allah dalam surah Maryam, ayat 17, “lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”

Maaf, jika kemudian pembahasan ini sampai pada roh-roh segala. Tapi, ini penting, mengingat roh, jiwa dan jasad adalah bagian tak terpisahkan dari diri makhluk terutama manusia seperti kita. Semoga bermanfaat.

Doa Nabi Khidir

yaa man laa yusyghiluhu sam’un ‘an sam’in

yaa man laa tughlithuhul masaa`il

yaa man yatabarromu bi ilhaahil malhiin

adziqnii burda ‘afwika wa halaawata rohmatika

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.