(Bukan) Tentang Penyucian Jiwa

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Dalam keseharian kita, emosi kadang muncul tak terelakkan. Tapi, namanya juga emosi, ia cepat datang, cepat pula perginya. Biasanya, emosi itu dipicu oleh kondisi penat akibat tekanan batin yang berat. Sumbernya bermacam-macam, karena masing masing orang memiliki titik sensitif dan ketersinggungan yang berbeda. Seperti, ada orang yang ketika penat, disinggung sedikit tentang mantan kekasihnya, ia langsung naik pitam. Ada pula orang yang saat penat, mudah sekali marah-marah pada orang tertentu karena ia tidak suka, baik itu omongannya benar atau salah. Jadi, emosi ini ragamnya banyak, bahkan seringkali membuat kita ‘geli’ mendengar detail kejadiannya. Sebab, ada orang yang kalau marah, spontan melepas bajunya, membanting HP padahal bukan miliknya, menjambak-jambak rambut sendiri, menampar-nampar wajah sendiri, dan masih banyak lagi perilaku aneh lain yang mengentarakan jeleknya orang marah atau emosi.

Akibat merasa jengah dan lelah dikelabui perasaan sendiri, banyak di antara kita yang sering bertanya tentang cara meredam emosi. Dan, ternyata setiap orang memiliki jawaban sendiri-sendiri. Meskipun, banyak juga yang abai hingga marah atau emosi dianggapnya biasa dan akhirnya menjadi tabiat.

Al-Qur’an, sebagai kitab suci perikemanusiaan—meskipun tidak memberikan jawaban sedetail yang diharapkan orang-orang pemarah—sebenarnya telah memberikan penawarnya. Al-Qur’an bahkan mampu menawar emosi, cukup dengan dibaca saja meski seseorang tak paham isinya.

Perlu diketahui bahwa emosi, sedih, bahagia, gundah gulana dan lain sebagainya adalah ekspresi jiwa. Jiwa sendiri, dalam Al-Qur’an disebut dengan an-nafs. Dan, dilihat dari namanya, Al-Qur’an membagi jiwa dalam dua sifat yaitu an-nafsul muthma’innah atau jiwa yang kondisinya tenang (QS. Al-Fajr [89]: 27) dan an-nafsul ammârah bis-sû’ (QS. Yûsuf [12]: 53) atau jiwa kalut yang gemar mendorong berbuat keburukan.

Penyebutan an-nafsul muthma’innah dan an-nafsul ammârah bis-sû’ dalam Al-Qur’an itu, sejatinya bukan menunjukkan kelas atau tingkatan spiritual—bahwa ada orang yang jiwanyamuthma’innah dan ada orang yang jiwanya ammârah bis-sû’—, melainkan pengetahuan akan adanya fluktuasi dalam jiwa manusia. Artinya, secara sporadis, jiwa manusia kadang tenang, kadang bergolak atau galau. Pada saat galau atau jiwa dalam keadaan ammârah bis-sû’ inilah kita biasanya mudah marah-marah.

Lantas, cara apa yang ditawarkan Al-Qur’an untuk meredam emosi dan marah-marah ini agar jiwa kembali muthma’innah? Sebenarnya, secara eksplisit Al-Qur’an tidak memberikan cara atau tips untuk meredam emosi karena jika itu yang dilakukan maka penawarnya tidak akan cukup atau sebaliknya kitab suci itu justru akan menjadi ensiklopedia tips. Artinya tidak cukup adalah jika tips yang ditawarkan Al-Qur’an ada 10 saja maka hanya kesepuluh tips itulah yang dapat diterapkan untuk meredam emosi. Padahal, emosi itu terkait dengan karakter jiwa per jiwa, sedangkan jumlah jiwa di dunia ini—dari generasi ke generasi—mencapai milyaran. Atau, jika memang Al-Qur’an secara detail memberikan tips pada setiap jiwa maka bayangkan! Berapa halaman yang dibutuhkan Al-Qur’an hanya untuk menulis tips meredam emosi? Oleh karena itu, Al-Qur’an cukup memberikan pengetahuan tentang jiwa bahwa ia adalah motivator bagi hati dan pikiran manusia. Dengan pengetahuan itu, diharapkan manusia dapat meracik sendiri penawar emosi sesuai dengan kadar yang diperlukan.

Jadi, singkat saja tanpa perlu basa-basi, kita dapatkan simpulkan bahwa dalam hidup ini kita digerakkan oleh entitas gaib yang bernama jiwa. Maka kita adalah citra dari jiwa yang kita miliki. Kenapa pemarah? Mungkin karena jiwa kita penuh amarah. Oleh karena itu, untuk meredam emosi atau untuk keperluan lain seperti memperbaiki akhlak dan budi pekerti, memperbaiki hati, atau agar otak tetap positive thinking, kita harus menjaga kesucian jiwa.

Nah, dalam upaya penyucian dan perawatan jiwa itulah, menggali pengetahuan yang dipaparkan Al-Qur’an menjadi sangat penting. Namun, kini kita tak perlu repot-repot sebab ulama zaman dahulu sudah memikirkan hal itu jauh lebih mendalam dari kita saat ini yang mungkin sudah mengabaikannya. Mereka,bahkan telah membuat konsep yang sangat terkenal hingga kini yaitu tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Pelopornya adalah ulama sufi, dari Imam Al-Ghazali hingga Ibnu Taimiyah. Dalam kitab-kitabnya yang masyhur itu, mereka mengenalkan jiwa beserta anatominya. Di sana, jiwa kita ‘ditelanjangi’ dan dibedah. Sayangnya, saya bukanlah orang yang ahli di bidang tazkiyatun nafs,sehingga belum layak dan kurang pas menjelaskan detailnya di sini.  Tapi, sebenarnya jiwa itu apa sih?

Menurut saya, jiwa atau an-nafs adalah entitas yang memengaruhi, menginspirasi dan menggerakkan jasad dalam beraktivitas, berpikir dan merasa. Oleh karena itu, di Hari Penghitungan nanti, dialah yang bertanggung jawab atas amal perbuatan manusia. Dalam surah Az-Zumar, ayat 70, Allah berfirman, “Dan kepada setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya,” pada surah Al-Mu’min, ayat 17, juga disebutkan, “Pada hari ini (Hari Kebangkitan) setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.” Sedangkan, kaki-kaki bersaksi, tangan kanan dan kiri berbicara, semua mengutarakan secara jujur tentang baik buruknya motivasi yang diberikan jiwa pada mereka. Dalam surah Yâsîn, ayat 65, Allah berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Jadi, dalam hidup ini jiwalah aktor utamanya. Dialah identitas ‘aku’ yang sebenarnya. Sehingga, cara pertama untuk berubah dan berbenah diri adalah dengan mengubah dan membenahi jiwa, bukan sekadar hati dan pikiran. Sebab, keduanya akan baik jika jiwa kita baik dan akan buruk jika jiwa kita buruk.

Terdapat kisah menarik terkait jiwa ini. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khaththab pernah berkata di tengah-tengah para sahabat Nabi saw., “Mimpi itu sungguh menakjubkan, Di antaranya, ada orang yang dalam mimpinya mengalami suatu peristiwa, kemudian benar-benar ada di alam nyata. Tapi, ada pula mimpi yang tidak masuk akal di alam nyata.” Mendengar cletukan Umar ra., sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, “Perkenan aku memberi sedikit penjelasan tentang hal itu, wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Allah memegang jiwa seseorang pada saat kematiannya dan jiwa seseorang yang belum mati ketika ia tidur (QS. Az-Zumar [39]: 42).’ Itu artinya, Allah swt. sama-sama memegang jiwa orang yang mati ataupun orang yang hidup dalam tidurnya. Dan, ketika seseorang bermimpi sedang jiwanya dalam genggaman Allah maka mimpi itu adalah mimpi yang nyata (ar-ru’ya ash-shadiqah). Tapi, nahasnya, saat jiwa dikembalikan pada jasad terkadang setan mengambilnya di tengah jalan kemudian membohongi jiwa itu dan mendoktrin banyak hal tentang kebatilan.'” (HR. As-Suyuthi, Jami’ Al-Ahadits, Musnad Ali bin Abi Thalib)

Itulah jiwa menurut Imam Ali, entitas bening yang mudah dicekal setan dan malaikat tentunya. Jika kita, atas nama jiwa, tidak mengolah waktu dan intensitas untuk bersama siapa? Setan akan segera merebut kuasa. Jangan biarkan itu terjadi, dekat-dekatkan jiwa pada bisikan malaikat dan doktrin mereka.

Lantas, apa bedanya jiwa dengan roh?

Roh atau ar-rûh adalah entitas batin yang menandai adanya kehidupan, ia tenang dalam tempat yang tak satu pun manusia tahu. Dan, semua roh itu suci. Saking sucinya, Allah memuliakan roh atas semua ciptaan-Nya dengan kalimat, wa nafakhtu fîhi min rûhî. Kalimat tersebut adalah bagian dari ayat ke-72 surah Shâd. Dalam Bahasa Arab, kalimat min rûhî ini, tidak bisa diartikan dengan, “dari roh-Ku,” karena bentuknya bukan idhâfah ba’dhiyah, melainkan idhâfah at-tasyrîf wa at-ta’zhîm. Jadi, arti yang selamat adalah “dari roh ciptaan-Ku”. Penggunaan idhâfah at-tasyrîf wa at-ta’zhîm, ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan roh. Rohnya apa saja, bisa hewan atau manusia dan roh siapa saja, baik itu orang jahat atau orang baik. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada istilah roh jahat kecuali jiwa yang jahat, mungkin yang itu banyak!

Roh, sebagai tanda kehidupan, ia menjadi penghubung setiap makhluk kepada Dzat yang Mahahidup (al-hayyu alladzi lâ yamût). Jika ada orang mengatakan, “Memangnya Tuhan tidak ada pekerjaan mengamati perbuatan kita orang per orang?” maka sebenarnya ia belum mentas dari proses pencarian relasi makhluk dan Khalik. Padahal, karena roh itulah Dia lebih dekat dari urat nadi (aqrabu min hablil warîd), mengetahui apa yang terbesit dalam hati (ya’lamu mâ fis-shudûr), dan mengetahui rahasia serta yang lebih tersembunyi (ya’lamus sirra wa akhfâ).

Atas dasar ini, kemudian saya berasumsi bahwa manusia memiliki tiga entitas dalam dirinya yaitu roh, jiwa dan jasad. Jin memiliki dua entitas dalam dirinya, yaitu roh dan jiwa. Sedangkan, malaikat hanya memiliki satu entitas saja yaitu roh. Makanya, malaikat Jibril disebut juga dengan Rûhul Qudus. Allah swt. berfirman dalam surah An-Nahl, ayat 102, “Katakanlah, ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).’” Dan, diperkuat lagi dengan firman Allah dalam surah Maryam, ayat 17, “lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”

Maaf, jika kemudian pembahasan ini sampai pada roh-roh segala. Tapi, ini penting, mengingat roh, jiwa dan jasad adalah bagian tak terpisahkan dari diri makhluk terutama manusia seperti kita. Semoga bermanfaat.