Merayakan Hari Lahir Nabi saw. dengan Berpuasa

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Manusia adalah makhluk seremonial yakni gemar merayakan banyak hal dalam hidupnya. Dari pertunangan, berlanjut ke pernikahan, kelahiran anak, hingga kematian, manusia punya cara untuk membuat perayaannya. Dan, seremonisme ini—baik yang bersifat keagamaan, kenegaraan atau yang sekadar suka-suka—saya kira telah mengakar dalam budaya manusia sejak berabad-abad yang lalu. Bisa jadi, sama tuanya dengan umur manusia di bumi. Sebab, dalam benak saya, terbayang sekumpulan orang pra sejarah sedang menari bersama dan berteriak mengangkat tombak setelah mendapat buruan yang banyak. Maksudnya, ada budaya seremonial di zaman mereka.

Setua umurnya, seremoni kini tumbuh dan mengalami evolusi dalam jumlah yang tak terhingga. Mungkin, perlu ensiklopedia berjilid-jilid untuk menjelaskannya secara detil, satu per satu. Tapi, meskipun banyak macamnya, Islam melihat seremoni-seremoni itu hanya dengan dua standar yakni baik dan tidak baik. Dan, sebagai umatnya, hanya kebaikan yang bisa kita terima dan kita lakukan, sebab itulah asas dalam beragama.

Oleh karena itu, setiap seremoni, asalkan baik dan bermanfaat maka layak atau bahkan harus kita apresiasi. Tujuh belas Agustus, misalnya, harus kita apresiasi karena ia adalah hari kemerdekaan RI, yang jika dirayakan dapat menumbuhkan nasionalisme kita sebagai warga negara. Begitu juga dengan seremoni-seremoni lainnya, seperti Hari Ibu, Hari Kebangkitan Nasional, Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda dan lain sebagainya. Semua itu seremoni baik dan menyimpan sejuta makna.

Terkait masalah ini, sebenarnya saya ingin sedikit berwacana bahwa di antara ibadah kita sebenarnya ada yang seremonial. Yakni puasa hari Senin. Ia termasuk seremonial karena dilakukan Nabi saw. untuk merayakan hari lahirnya dan hari diturunkannya Al-Qur’an. Dasarnya, suatu ketika Nabi saw. pernah ditanya, “Wahai Rasulullah! Kenapa Anda berpuasa Senin-kamis? Beliau menjawab, ‘Karena pada hari itu (Senin) aku dilahirkan dan pada hari itu pula, kepadaku, Al-Qur’an diturunkan.’” (HR. Abu Dawud)

Hadis di atas sangat menarik, karena menyiratkan pelajaran tentang perayaan yang benar untuk hari kelahiran Nabi saw. dan hari diturunkannya Al-Qur’an. Barangkali, Nabi saw. telah membaca tabiat umatnya yang sulit melepas diri dari seremoni-seremoni. Sehingga, Nabi saw. berpesan dalam hadis itu tentang tata cara yang baik untuk merayakan hari lahir beliau dan hari diturunkannya Al-Qur’an yakni dengan ibadah. Tujuannya, jelas agar umatnya tidak terjerumus pada pesta sia-sia dan hura-hura.

Tapi, puasa hari Senin bukan sekadar seremonial untuk menghormati hari kelahiran Nabi saw. dan turunnya Al-Qur’an belaka. Di sisi lain, puasa hari Senin memiliki manfaat ritual, seperti halnya ibadah-ibadah sunah yang telah melembaga ke dalam syariat. Dalam sebuah hadis riwayat At-Turmudzi disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Catatan amal perbuatan manusia itu dihaturkan pada Allah di hari Senin dan Kamis, dan aku lebih suka amal perbuatanku dihaturkan saat aku sedang berpuasa.”

Intinya, berpuasa hari Senin memiliki banyak hikmah dan manfaat. Tidak sekadar untuk menambah pahala, tapi juga untuk menggali postulat cinta, cinta kepada baginda Nabi saw. dan cinta kepada Al-Qur’an yang akhirnya mendorong kita suka ria untuk membuat perayaan bagi keduanya dengan ibadah.

Terlepas dari semua itu, yang jelas dan pasti, sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas, akan menjadi tabungan di akhirat. Dan, semoga puasa sunah kita menjadi bagian terikhlas dari aktivitas di hari Senin. Selamat berpuasa. Semoga bermanfaat.