Rindu Muhammad Saw

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Kau tahu kampungku? Ya, aku tinggal di kampung Selawat. Begitulah namanya, karena di sini penduduknya mengeramatkan shalawat pada Nabi Muhammad Saw, mengungkapnya dalam setiap zikir pagi dan malam. Jika kau dengar ada teriak maling di kampung lain maka di kampungku akan sering kau dengar teriak shalawat. Dan entah kenapa, sejak kecil aku begitu larut jika selawat itu dilantunkan dengan nada merdu oleh orang-orang di kampongku. Sejuk dan kesyahduan rinduku pada Muhammad Saw seperti jumpa tinggal sejengkal.

Aku jadi teringat sebelas tahun yang lalu. Ustadku, Sukarto namanya, pernah bertanya, “Bardan, kamu sudah mengenal sosok Muhammad Saw sebagai nabimu?”
“Belum Pak.”
“Apa?” Beliau tampak terkejut, “sudah sebesar ini kamu belum mengenal Muhammad Saw?” Ia berpaling dan kembali duduk di meja guru, “ingat Bardan selawatmu itu hanya akan jadi nyanyian jika kamu belum mengenal Muhammad Saw. Mengerti semua?”
“Mengerti.” Serentak teman kelasku menjawab.
“Bardan. Kamu mengerti?”
“Iya, pak Ustadz, Bardan mengerti.” Saat itu aku duduk di bangku menengah pertama.
“Baiklah, mulai sekarang kamu harus membaca sejarah Muhammad Saw ini, seolah kamu ada di sampingnya.” Ustadz Sukarto menjulurkan satu buku tebal untuk aku baca.

***

Seorang lelaki belia,—mengenakan sarung yang terikat longgar di perutnya dengan peci hitam tampak lusuh akibat basah saat wudu—menenteng kitab yang hampir sebesar dirinya. Itulah aku, pada tahun-tahun pertama belajar di pesantren. Masih kuingat waktu pagi saat halaman kamarku bertabur daun kering pohon Ketapang. Aku menyisirnya dengan kaki atau kuinjak saja, saat menuju tempat belajar favoritku. Kadang aku jengkel sekali dengan sarung yang kukenakan—menggelayut kedodoran hingga mengganggu langkahku. Iri rasanya melihat teman-teman yang lain tampak nyaman mengenakannya seperti memakai celana. Itulah masa di mana aku masih bertanya kenapa harus belajar di perantauan. Sejujurnya, aku belum rela meninggalkan kampungku, aku rindu layang-layang dan pematang sawah yang hijau, rindu aliran sungai yang deras, di sana aku berenang bersama teman. Aku rindu teguran ibuku dengan teriaknya ketika senja diriku belum juga pulang.

Oh,..di antara sirah Muhammad Saw dalam buku yang kugenggam ini, aku mengeja kerinduan pada ibuku, pada kampung halamanku, pada masa ceriaku. Dan entah, sudah berapa tetes air mata yang kutumpahkan untuk meratapi semua ini—di pagi hari, sore hari atau tengah malam saat aku bangun tiba-tiba dan kudapati puluhan temanku tertidur pulas menikmati nasib yang sama, jauh dari ayah dan ibu.

***
Lama aku termenung, “Mungkinkah kutemukan Muhammad Saw dalam buku ini?” Aku selalu bertanya itu saat kubaca Sirah Nabawiyah pemberian guruku. Beberapa hari buku itu hanya kutimang-timang, kulihat di punggungnya tertulis jilid satu. “Membacamu seolah di sampingku ada Muhammad Saw?” Tanyaku pada buku itu. Kau tahu? Di sini tidak ada siapa-siapa selain pohon ini, menjalar bersama akarnya yang kuning kusam. Atau paling juga tumpukan al-Qur`an yang tertata berantakan di rak-rak lapuk itu. Ah, aku tidak menemukan siapa-siapa di sini. Aku tidak menemukan Muhammad Saw dalam dirimu, wahai buku. Harusnya kau tahu, aku ini lebih suka menjumpainya dengan selawat. Begitulah, setiap hari aku mencaci ketidakberdayaanku memahami buku itu.

Hari-hari berikutnya, kembali kupandangi buku sirah dari tepian taman yang kusebut Maqom itu. Saat duduk silaku menghadap kiblat terlalu lama, aku ganti berbaring sambil membuka-buka halaman tengah, balik ke halaman pertama lantas halaman belakang untuk kuakhiri dengan menutupnya. Dan selanjutnya buku itu sama sekali tidak kubaca, bahkan setelah seminggu kubawa ke mana-mana. Apalah kiranya maksud ustadzku memberi buku ini? Sepertinya tidak ada, selain menambah bebanku. Berat sekali untuk mengenal Muhammad Saw dengan buku setebal ini. Padahal Muhammad Saw sejatinya sudah kutulis dalam kalbuku beribu-ribu.

Adzan Asar tiba berkumandang, aku bergegas dan kembali ke kamar, kuletakkan buku itu di atas lemari. Ia terpajang paling tebal, bahkan sempat kulihat mata temanku yang memandang dengan iri. Akupun takut ‘Muhammadku’ diambil, maka kukunci rapat-rapat ia dalam lemari. Kutinggalkan dia sendirian dalam sepi pengapnya lemari, untuk kusimpan aroma rindu darinya dan kubawa ke mana-mana.

***

Seperti itulah aku di usia belia, sejak dulu punya cara sendiri untuk mengenal Muhammad Saw. Rasanya begitu agung untuk kuperkenalkan dia pada orang lain, seperti aku mengenal dirinya. Kini di kampungku aku pun begitu, di antara banyak mulut menganga berucap selawat, aku masih menyimpan kenangan yang indah dan kupendam rapat-rapat dalam hati dari buku-buku yang diberi ustadz Sukarto.

“Bapak menangis?” Tegur pak Arif saat kami sedang membaca selawat bersama di masjid.
“Ah tidak, Pak. Kenapa?” Aku masih belum menyadari.
“Mata Bapak sembab dan basah. Lihatlah pipi Bapak.”
“Oh, ya Allah.” Kudapati pipiku basah oleh air mata dan buru-buru aku membasuh muka.

Tanpa kembali bergabung dalam jamaah selawat aku langsung pulang ke rumah.
“Lho, Ayah sudah pulang? Acara kan belum selesai?” Tegur istriku sambil menyeterika baju-baju anakku. Tanpa kujawab, aku langsung menuju ruang tengah, tertunduk pilu di atas sajadah.
“Ya Allah, Ayah. Ayah menangis?”
“Bunda, apakah berlebihan kalau aku menangis karena rindu Muhammad Saw?”
“Masya Allah. Tentu saja tidak, Ayah. Lihatlah betapa banyak orang hanya mengenal namanya saja. Ayah bersyukur dapat sedalam ini mengenal Muhammad Saw.” Jawab istriku sambil mendekatiku, meninggalkan tumpukan baju yang belum ia setrika. Kulihat juga di tangannya ia menenteng sehelai baju anakku.
“Bunda, malam ini aku rindu Muhammad Saw, aku rindu sekali.” Curhatku dengan mata yang masih sembab.
“Aku teringat, beliau menggigil menerima wahyu pertama.”
“Aku teringat, beliau berdarah dilempari batu saat berdakwah.”
“Aku teringat, tiga tambalan bajunya saat meninggal.”
“Aku teringat, dapur Aisyah yang pernah tidak mengepulkan asap selama tiga hari.”
“Aku teringat, ketulusan hatinya menyuapi kakek buta yang mencacinya tiap hari.”
“Aku teringat saat baginda Muhammad Saw bertanya, ‘Aisyah, apakah ada yang bisa dimakan?’ Tidak ada. ‘Ya sudah, kalau begitu aku puasa hari ini.'”
“Aku rindu Bunda, aku rindu padanya.”

Istriku diam, kulihat wajahnya yang hening seolah merasakan hal yang sama. Ia pun berpaling, berebah di samping anakku—menghayati kerinduanku, mungkin juga kerinduannya. Segera kulanjutkan selawatku beribu-ribu. Sesekali kupejamkan mata, sambil terus kubaca seolah aku ada di dekat Muhammad Saw. Entah sudah berapa selawat yang kubaca pada malam itu. Saat kubuka mata dan selawat kuhentikan, di luar rumah sudah sepi senyap. Tak ada lagi suara kehidupan selain nyanyian katak yang bersahutan atau anak-anak jangkrik yang belajar mengerik. Tampak pula anak dan istriku lelap berpelukan di atas dipan berkelambu.

***
Azan subuh mengalun merdu, dan kudapati diriku di atas sajadah yang tadi malam kugelar. Aku bangun, berjalan tenang menuju masjid depan rumahku. Dan kembali kutatap suasana pagi kampungku. Udaranya segar. Kampung Selawat tampak masih gelap tertutup kabut berasap. Dari kejauhan, orang akan tampak seperti bayang-bayang hitam, samar-samar karena terhalang kabut tebal. Sesekali akan kau dapati lelaki dengan cangkul di pundaknya, dan sebatang rokok yang menyala di mulutnya. Kadang lewat di jalan depan rumahku ini, lelaki paruh baya menuntun sapi. Kau dengar? Bunyi kalungnya menghiasi keheningan subuh yang berembun.

Beberapa menit usai jamaah shalat, aku berangkat dengan sabit dan karung menuju perbukitan. Di ladang sayur yang hening ini kau dapat mendengar dengan jelas setiap suara, bahkan suara langkahku. Jika pagi, kami biasa bersahutan dari jauh, tanya kabar, tanya peliharaan atau sekadar menyapa.

Dan lihatlah, bulan itu samar-samar masih tampak bulat sempurna, sepertinya enggan kembali ke peraduan. Padahal matahari telah mengambil bagiannya. Mungkin ia menantang keindahan matahari untuk bersaing dan kuberi tepukan pada sinarnya yang anggun.

Aku pernah bermimpi melihat bulan dan matahari setelah kubaca selawatku berkali-kali menjelang malam. Mungkin ini pertanda bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan jika kelak aku bertemu Muhammad Saw dalam tidurku.

Di antara pohon jagung yang subur aku duduk termangu. Dan masih kurasakan sisa rindu pada nabiku yang menghampiriku semalam.