Tentang Buku Agama

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Dalam menyajikan sebuah naskah, terutama naskah agama, hal penting yang patut diperhatikan oleh editor (in chief) adalah intensitas emosi dan ego penulis dalam menuangkan tulisannya. Usahakan, teks itu bersih dari kesan-kesan yang mencitrakan sosok penulis secara negatif seperti, bentuk-bentuk kalimat yang terlalu menggurui, atau kalimat-kalimat sentimentil dan sinis yang berbau rasis, dan sebagainya.

Semua itu dapat merusak kenyamanan emosi pembaca. Sebagaimana kita tahu, membaca adalah kerja otak sekaligus batin. Oleh karena itu, kenyamanan adalah hal utama dalam menyajikan sebuah teks atau naskah. Gagasan-gagasan memang selalu berangkat dari pikiran, tapi ketika menyajikan gagasan itu aspek psikologis seperti kenyamanan, keasyikan, kedamaian, keteduhan, dan semua permainan-permainan batin sama sekali tidak bisa diabaikan. Gagasan memikat akan kandas jika disampaikan dengan gaya tutur atau tulisan yang menjenuhkan batin.

Karena kita sudah tahu bahwa teks adalah representasi dari penulisnya, maka bentuk ataupun strukturnya harus benar-benar menarik. Apalagi jika yang dibicarakan teks tersebut adalah tentang agama yang mengharamkan adanya kesan-kesan batiniah bersifat negatif. Menulis buku agama memiliki karakter sendiri dibandingkan dengan buku-buku non-fiksi yang lain.