Tumor Ganas dan Bisul di “Tubuh” Kita

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Sesuatu yang rumit, kadang lebih mudah dijelaskan dengan perumpamaan atau analogi. Seperti permasalahan yang dihadapi negeri ini. Belum selesai satu kasus korupsi, muncul kasus lain dengan modus yang lebih canggih. Semakin ditebas, korupsi makin tumbuh liar bercabang-cabang. Diskusi diadakan silih bergantian mengguyurkan solusi, tapi ia tak kunjung padam. Solusi-solusi itu, bukannya menjadi air malah menjadi spiritus bagi api korupsi. Sekilas, itulah gambaran rumitnya kasus korupsi di negara ini. Makanya, perlu analogi untuk menjelaskannya.

Terkait analogi, sebenarnya Al-Farabi pernah mengajarkannya pada kita. Beliau menganalogikan sebuah negara dengan tubuh manusia. Dengan analogi itu, Al-Farabi hendak memudahkan para pemimpin dunia, tentang cara mudah mengelola sebuah negara. Agar mereka sadar posisi dan dapat menempatkan komponen-komponen pemerintah sesuai dengan fungsi yang semestinya sehingga melahirkan sosok negara yang berkarakter dan survive menghadapi perkembangan zaman.

Merujuk pada cara Al-Farabi dalam beranalogi, sebenarnya saya sedang berusaha keras memahami kondisi negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Jadi, di benak saya, Presiden adalah kepala, isinya otak kecil, otak besar dan otak tengah. Mereka adalah analogi dari gubernur, bupati dan lurah. Lalu, DPR dan MPR yang memiliki keputusan tertinggi, saya analogikan dengan jantung sebagai organ pokok manusia.

Tangan dan kaki beserta jemarinya adalah para menteri. Menteri yang suka menjilat ada di jempol karena suka ngasih “like” jika Presiden bicara dan ngasih “like” setiap keputusannya. Menteri dari partai koalisi ada di jari telunjuk karena kenyatannya mereka hanya pesuruh, ditunjuk ke sana, ditunjuk ke sini. Sedangkan, para menteri koalisi yang berkhianat ada di jari tengah. Artinya, jika Presiden marah, jari itu bisa diacungkan sendirian ke arah mereka.

Di jari manis adalah menteri-menteri yang menguntungkan, untuk dijadikan “sapi perah”. Analogi ini berangkat dari kebiasaan kita yang suka menggunakannya untuk meletakkan perhiasan seperti cincin dari emas atau yang bermata berlian. Itulah makanya “sapi perah”. Perut sebagai sumber energi bagi manusia setelah mengonsumsi makanan adalah analogi yang tepat untuk Bank Indonesia. Sedangkan para pengusaha adalah alat vitalnya.

Sekarang, di dalam kepala, jantung, tangan dan kaki, perut serta alat vital seorang yang bernama “Indonesia” itu, terdapat tumor ganas yang bernama korupsi. Biasanya, orang yang mengidap tumor ganas di satu anggota tubuh saja, katakan di otak, bisa surut harapan hidupnya. Bayangkan! Ini ada seorang bernama “Indonesia” yang mengidap tumor ganas di enam anggota tubuh penting. Jika “Indonesia” adalah beneran orang, bukan lagi analogi, mungkin tiap hari ia lemas menunggu deadlinemati.

Sebagai rakyat jelata, kita adalah sel-sel tubuh. Oleh karena itu, jika salah satu dari 6 tumor itu diangkat demi hidup “Indonesia” yang lebih sehat, di antara kita pasti ada yang akan mati menjadi korban. Mati terikut tumor yang diangkat atau dalam bahasa Jawanya, kanthil. Sondang contohnya,kanthil saat tumor di kepala terdeteksi. Ingat! Baru dideteksi, belum diangkat. Korban Mesuji, adalah sel yang kanthil saat tumor di alat vital juga coba diangkat. Saat tumor di perut “Indonesia” nanti diangkat, pasti juga ada sel yang akan kanthil dan mati. Mati dalam arti yang sebenarnya, atau mati karena tak dapat lagi beraktivitas karena terpenjara.

Adapun demonstrasi di jalan TOL Cikampek adalah bisul di alat vital. Akibatnya, mulut mengerang kesakitan sambil menunjuk-nunjuk—dengan jari telunjuk—dimana letak bengkaknya.

Di tubuh seorang bernama “Indonesia” yang sudah sakit-sakitan ini, kita sebagai sel harus mandiri. Bergerak aktif menyuplai darah yang sehat pada organisme yang rusak. Bahkan, jika perlu, kita geser tumor itu ke luar tubuh atau ke dalam usus agar lenyap menjadi kotoran. Ini jauh lebih baik daripada dokter rumah sakit Internasional yang melakukan operasi bedah.

Sebagai sel, kita memang dirugikan karena tubuh kita “Indonesia” dihancurkan dan digerogoti oleh kepentingan sesaat para organ penting. Tapi, bersama-sama menciptakan bisul, bukanlah solusi yang tepat. Sebab, jika fisik “Indonesia” dihajar bertubi-tubi dengan penyakit, khawatir jiwanya juga ikut rusak. Kemudian, menjadi pesimis, hilang arah, dan tak punya harapan. Yang parah—dan ini bukan menjadi kehendak kita semua—adalah jika “Indonesia” bunuh diri tak kuasa menahan beban hidupnya yang penuh dengan penyakit mematikan.

Intinya, dalam kondisi seperti ini, kita semua harus sadar sebagai satu dalam tubuh yang bernama “Indonesia”. Bukannya saling serang dan saling tikam karena jika hancur, hancurlah kita semua, jika mati matilah kita semua. Lebih baik optimis sembuh meski sakit, daripada sehat mengumpulkan penyakit. Semoga bermanfaat.