BERIMAN PADA MALAIKAT

by KONSULTASI~Haji&Umroh

DIPRESENTASIKAN PADA MATA KULIAH TAFSIR AYAT-AYAT AKIDAH DAN SOSIAL; INSTITUTE ILMU AL-QUR’AN JAKARTA

DOSEN: PROF. DR. KHUZAEMAH TAHIDO YANGGO

A.    PENDAHULUAN

Percaya adanya malaikat adalah salah satu rukun iman. Rasululullah saw. pernah ditanya seorang lelaki yang memakai pakaian sangat putih (syadîd bayâdh ats-tsiyâb), rambutnya hitam pekat (syadîd sawâdi asy-sya’r), pakaiannya rapi seperti tidak dari perjalanan jauh (lâ yura ‘alaihi atsaru as-safar) dan sahabat tidak tahu dari mana ia datang. Lelaki itu (Jibril as.) tiba-tiba ada di depan Nabi saw. dan bertanya. Salah satu pertanyaannya adalah;

“Beritahu aku, tentang iman?”

“(Iman itu adalah) jika engkau beriman kepada Allah, pada mailaikat-malaikat-Nya, pada kitab-kitab-Nya, pada para rasul-rasul-Nya, pada Hari Akhir, dan pada takdir, baik ataupun buruknya.” Jawab Nabi saw.

“Kamu benar.” Kata lelaki itu.[1]

Jadi, iman kepada malaikat adalah percaya bahwa para malaikat itu ada. Mereka hidup di alam gaib, yang tidak ada satu pun manusia tahu hakikat mereka selain Allah swt. Kita mengetahui mereka dari ayat-ayat dan hadis-hadis saja, selebihnya kita tidak mampu menyingkap kehidupan malaikat yang sebenarnya.

Adapun orang yang tidak percaya keberadaan malaikat, ia terhitung sebagai manusia yang sangat sesat. Sebagaimana yang ditegaskan Allah swt. dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 136)

Hal itu karena, Allah swt. sudah menyinggung dalam banyak ayat Al-Qur’an mengenai keberadaan malaikat ini. Seperti dalam surah Fathir ayat 1,[2] surah Al-Furqân ayat 22,[3] surah Al-Baqarah ayat 98,[4] surah Saba’ ayat 40-41,[5] dan surah An-Nisâ’ ayat 172.[6]

Tapi, memercayai keberadaan malaikat saja itu belum cukup. Sebab, banyak kaum terdahulu, mungkin juga orang-orang yang hidup di zaman sekarang, yang memercayai adanya malaikat, tapi menyematkan jenis kelamin perempuan pada mereka. Padahal, orang-orang itu tidak pernah tahu proses penciptaan malaikat, bagaimana mungkin mereka menganggap malaikat itu perempuan? Orang-orang seperti ini kelak pada Hari Akhir akan dimintai pertanggungjawaban.

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 19)

Atau menganggap malaikat sebagai anak Allah. Nau’dzubillâh. Intinya, beriman akan adanya malaikat ini perkara yang sangat penting dalam akidah. Jika kita salah sedikit saja memahami hakikat malaikat tanpa pengetahuan yang pasti dari dalil nas, kita bisa terjerumus dalam kesesatan. Apalagi, yang percaya malaikat tidak hanya Islam, tapi juga agama-agama lain. Artinya, berbahaya sekali jika kemudian kita meyakini hakikat malaikat dari keyakinan agama lain. Mungkin, inilah tugas berat dari penjelasan makalah ini. Hanya saja, penulis belum memiliki kemampuan yang komprehensif untuk menjawab semua pertanyaan tentang hakikat malaikat. Makalah ini adalah secuil dari samudera ilmu tentang iman pada malaikat. Oleh sebab itu, mohon dimaklumi jika dalam bahasannya masih banyak tema atau sub tema yang belum tuntas atau bahkan belum ada dalam makalah ini.

  1. B.     TAFSIR SURAH AL-ISRA’, AYAT 95

قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا 

Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya di bumi ada para malaikat, yang berjalan-jalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 95)

KOSAKATA

لمَلَكُ        : Aslinya Ma’lak kata bentukan dari alûkah yang artinya ar-risâlah atau pengutusan. Untuk memudahkan ejaan menjadi malak yang bentuk jamaknya adalah malâ’ikah. Ma’lûk artinya adalah yang diutus. Artinya, malaikat hanya sekedar makhluk yang yang diutus Allah, tidak mempunyai otoritas kekuasaan independen. Ia hanya mengerjakan, atau pelaksana sesuatu hal yang menjadi kehendak yang mengutusnya yaitu Allah swt.[7]

Sebagian muhaqiqîmengatakan bahwa asal katanya adalah المِلكُ atau المَلَكُ artinya adalah المُتولِّى yang mengurus atau menguasai. Jika kata tersebut digunakan untuk menyebut malaikat maka kata المَلِكُ digunakan untuk manusia.[8]

TAFSIR

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan ayat ini, “Katakan wahai Muhammad kepada manusia seandainya di muka bumi ini ada malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang, pasti Kami (Allah) utus seorang di antara mereka kepada kalian di bumi ini. Malaikat itu hanya dapat dilihat oleh sesama mereka dan orang-orang yang dikhususkan dari kalangan manusia selain itu tidak dapat menjangkaunya (dengan panca indra mereka).”[9] Akan tetapi Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka yakni manusia.

Pengutusan seorang rasul atau nabi dari kalangan manusia merupakan kenikmatan yang amat besar bagi manusia. Sebagaimana Allah katakan dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, (QS. Ali ‘Imrân [3]: 164)

Kebutuhan manusia akan hidayah melebihi kebutuhan makan dan minum. Sebab, hidayah itulah yang akan menyelamatkan mereka di dua negeri yaitu dunia dan akhirat. Seorang rasul adalah hidayah atau petunjuk bagi umatnya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,[10]

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab  (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syûrâ [42]: 52)

Kata, “Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus” ini, menunjukkan posisi seorang rasul sebagai penyampai dan penjelas Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya. Ia memotivasi manusia agar mencintai Al-Qur’an dan menjalankan perintah yang ada di dalamnya serta menjauhi apa yang dilarang di dalamnya. Inilah, jalan yang lurus.[11]

Seandainya penduduk bumi ini adalah malaikat niscaya Allah akan mengutus seorang Malaikat kepada mereka, demikian pula jika penduduk bumi ini adalah manusia maka Allah akan mengutus seorang rasul dari kalangan mereka karena bangsa kepada bangsa yang sama akan cocok.[12] Adapun di antara malaikat-malaikat yang diberi tugas Allah adalah:

1.      Jibril ‘Alaihissalâm,

Jibril adalah malaikat yang diberi tugas menyampaikan wahyu, yang juga dikenal dengan nama Ruhul Qudus, Ruhul Amin dan Namus. Dalam salah satu surah, Allah berfirman tentang nama malaikat Jibril,

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ. مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

 

“Katakanlah (Muhammad), ‘Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.’ Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 97-98)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَلَقَدْ آَتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآَتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

 

“Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Rohulkudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?” (QS. Al-Baqarah [2]: 87)

Allah juga berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ.

Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, (QS. Asy-Syu’arâ’ [26]: 192-194)

Adapun nama Namus tidak kita jumpai dalam Al-Qur’an. Tetapi ada dalam beberapa hadis Rasulullah saw. yang shahih, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., disebutkan bahwa di awal-awal wahyu turun kepada Nabi Muhammad saw.sebagai pertanda bahwa beliau diangkat sebagai Rasul Allah, beliau betul-betul dalam keadaan takut. Beliau segera pulang ke rumahnya dari uzlah di gua Hira’. Setelah sampai di rumah Muhammad saw. menceritakan pada istri tercinta, Khadijah binti Khuwilid ra., tentang apa yang dialaminya di gua Hira’. Kemudian sang istri menghibur suami yang dicintainya itu,

“Tuan tidak apa-apa, Tuhan[13] tidak akan mencelakakan tuan. Bukankah Anda selalu berbuat baik, suka membantu orang yang susah, suka menolong orang yang lemah, menyambung silaturrahim…?”

Kemudian Khadijah ra.membawa sang suami tercinta ke rumah anak pamannya yang pada saat itu sudah amat tua, bahkan beliau sudah buta, namanya Waraqah bin Naufal. Dialah seorang yang alim lagi banyak ilmunya dan seorang penginjil. Dan setelah sampai di rumah Waraqah bin Naufal ini, Khadijah ra.berkata,

“Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan diceritakan oleh anak pamanmu ini.” Ketika itu, Waraqah bertanya kepada Muhammad saw. seraya berkata,

“Apa yang telah kamu alami?”

Kemudian Muhammad saw. pun meceritakan apa yang telah dialaminya saat di gua Hira’. Mendengar kisahnya, Waraqah berkata,

“Itu adalah Namus yang dulu pernah Allah utus pada Nabi Musa as. Alangkah baiknya jika aku masih muda, masih hidup pada saat kamu diusir kaummu sendiri.”

“Apakah mereka akan mengusirku?” Tanya Nabi saw.

“Ya. Tidak ada seorang pun yang datang seperti engkau ini melainkan akan disiksa. Sekiranya, aku masih hidup pada waktu itu, aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.”[14]

2.      Malaikat Maut

Ia adalah malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawa atau mengambil roh semua mahluk. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.’” (QS. As-Sajdah [32]: 11)

3.      Mikail ‘Alaihissalam

Ia adalah malaikat yang mengatur turunnya hujan. Malaikat ini lebih dikenal dengan nama Mikail,[15] dia diberi tugas oleh Allah mengurus tumbuh-tumbuhan sesuai dengan apa yang telah ditentukan Allah yang Maha Pengatur lagi Maha Bijaksana. Dalam hal ini, Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. yang artinya, “Ketika salah seorang lelaki berada di tanah lapang, ia mendengar bunyi suara dari awan yang mengatakan, siramlah kebun si fulan, maka bergeraklah awan tersebut yang kemudian datang menumpahkan air di suatu tanah yang berbatu hitam. Maka saluran yang ada di situ dipenuhi air seluruhnya. Ketika itu, (orang yang tadi melihat) ada seseorang yang sedang memindahkan air dengan skopnya, lalu ia mendatangi sambil bertanya kepada orang tersebut,

’Wahai Abdullah siapakah namamu?’

‘Nama saya fulan.’ Jawab orang itu. Nama yang tadi di dengarnya di awan. Lalu, orang itu balik bertanya,

’Wahai Abdullah, kenapa engkau menanyakan nama saya?’

‘Tadi saya mendengar sesuatu dari awan yang menumpahkan air  hujan ini, suara tersebut mengatakan, ‘siramlah kebu si fulan’ yang ternyata nama itu adalah nama Anda sendiri, lantas apa yang akan Anda perbuat nanti?’

‘Adapun terhadap apa yang Anda tanyakan itu, saya akan melihat apa yang akan dihasilkannya nanti. (Jika berhasil nanti dengan baik), sepertiganya akan saya sedekahkan, sepertiganya lagi saya makan dengan keluarga, sepertiganya lagi saya akan kembalikan padanya (tanaman),’” Dalam riwayat yang lain, sepertiganya lagi akan saya berikan kepada orang miskin, orang yang meminta-minta dan musafir.[16]

 

  • 4.                  Israfil ‘alaihi salam

Ia adalah Malaikat yang diberi tugas untuk meniup terompet sangkakala. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

“Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (Yakjuj dan Makjuj) berbaur antara satu dengan yang lain, dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan mereka semuanya.” (QS. Al-Kahf [18]: 99)

Sebagian ulama seperti Ibnu Al-Arabi, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir berpendapat bahwa peniupan sangkakala yang dilakukan oleh Malaikat Israfil alaihissalam sebanyak tiga kali. Pertama, tiupan yang menimbulkan ketakutan,  kedua, tiupan untuk mematikan dan ketiga, tiupan untuk kebangkitan kembali.[17]

5.                  Munkar dan Nakir

Ia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menanyai mayat yang ada di dalam kubur. Dalam hadis Rasululah saw. bersabda, “Apabila mayat salah seorang di antara kamu selesai dikuburkan, datanglah kepadanya dua malaikat yang berwarna hitam keabu-abuan. Satu bernama Munkar satunya lagi bernama Nakir.” (HR. At-Turmudzi)[18]

6.                  Penjaga Pintu Surga

Allah berfirman,

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar [39]: 73)

7.                  Zabaniyah

Ia adalah malaikat yang diberi tugas oleh Allah swt. sebagai penjaga neraka. Jumlah mereka cukup banyak. Di antara jumlah yang besar itu ada 19 malaikat sebagai pemimpin. Dan, pemimpin mereka adalah malaikat Malik. Allah berfirman dalam al-Qur’an,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ. لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ. لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ. عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ.

“Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (QS. al-Muddatstsir [74]: 27-30)

Allah juga berfirman,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

“Dan mereka berseru, ‘Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Dia menjawab, ‘Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’” (QS. Az-Zukhruf [43]: 77)

8.                  Mu’aqqibât

Mereka adalah para malaikat yang bertugas menjaga hamba-hamba Allah dalam segala keadaan. Allah berfrman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

 

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS. Ar-ra’d [13]: 11)

9.                  Kirâman Kâtibîn

Mereka adalah malaikat-malaikat yang diberi tugas oleh Allah untuk mengawasi dan mencatat segala amal perbuatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik amal baik atau buruk. Allah berfirman,

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لاَنَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

Ataukah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka. (QS. Az-Zukhruf [43]: 80)

Dan juga firman-Nya,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَاتَفْعَلُونَ.

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithâr [82]:10-12)

10.              Hâmil ‘Arsy (Penyangga ‘Arsy)

Malaikat yang bertugas sebagai penyangga ‘Arsy ini berjumlah 8 malaikat. Allah berfirman,

وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

“Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. al-Hâqqâh [69]: 17)

Disamping menyangga ’Arsy mereka juga memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang senantiasa beriman dan bertobat pada Allah. Allah berfirman,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang bernyala-nyala.’” (QS. Al-Mukmin [40]: 7)

 

  • 11.              Malaikat yang Bertugas Menjaga Rahim

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw.,

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُهَا[19]

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dihimpun penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian, pada hari itu menjadi segumpal darah kemudian. Setelah itu, diutuslah malaikat dan diperintahkan untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan menulis rezekinya, ajalnya, dan amalnya; sengsara ataukah bahagia. Maka (demi) yang tiada ilâh melainkan hanya Ia, sesungguhnya salah seorang di antara kamu ada yang melakukan perbuatan ahli surga sampai tiada jarak antara dirinya dan surga itu kecuali sehasta, akan tetapi karena didahului oleh takdir maka ia berbuat perbuatan ahli neraka sampai ia memasukinya. Dan salah seorang di antara kamu ada yang melakukan perbuatan ahli neraka sampai tiada jarak antara dirinya dan neraka itu kecuali sehasta, akan tetapi karena didahului oleh takdir maka ia berbuat perbuatan ahli surga sampai ia memasukinya.” (HR. Al-Bukhari)

12.   Malak Al-Jibâl (Yang Menjaga Gunung)

قَالَ (رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) فَنَادَانِى مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَىَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِى رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِى بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ قَالَبَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا[20]

Rasulullah saw. bersabda, “Kemudian Malak Al-Jibal memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Kemudian berkata,

‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar atas perkataan kaummu padamu dan aku adalah Malak Al-Jibal. Aku telah diutus Tuhanmu (untuk datang) padamu, agar engkau menyuruhku (membantu menyelesaikan) perkaramu. Maka, apa keinginanmu (terhadap kaum yang mengataimu)? Jika engkau mau, akan kuhimpit mereka itu dengan dua gunung batu (Abu Hubaisy dan Al-Ahmar).’

‘Jangan. Aku berharap Allah swt. melahirkan dari mereka generasi yang menyembah Allah swt. dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.’” (HR. Muslim)

13.   Malak Al-Aurâq wa Asy-Syajar (Yang Mengurusi Daun dan Pepohonan)

Dalilnya adalah Hadis Mauquf berikut ini,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَلَائِكَةٌ فِي الْأَرْضِ سِوَى الْحَفَظَة يَكْتُبُوْنَ مَا يَسْقُطُ مِنْ وَرَقِ الشَّجَرِ[21]

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat di bumi selain malaikat pencatat amal baik dan buruk, mereka mencatat setiap daun yang jatuh.” (HR. Al-Baihaqi)[22]

14.   Malak Ar-Rîh (Yang Mengatur Angin)

Dalam sebuah Hadis Mauquf dari Ali ibn Abi Thalib, ia berkata,

وَلَمْ يَنْزُل شَيْءٌ مِنَ الرِّيْحِ إِلَّا بِكيل عَلَى يَدَي مَلَكٍ

 “Dan tidak turun sehembusan angin pun kecuali diukur dengan kedua tangan seorang malaikat.” (HR. Ath-Thabari)[23]

15.   Al-Malak Al-Qâim bi Amri Asy-Syams (Yang Mengatur Matahari)

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ قَالَ لاَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ حَتَّى يَصْحَبَهَا ثَلاَثُ مِئَةِ مَلَكٍ وَسَبْعُونَ مَلَكًا[24]

“Sesungguhnya Sa’id ibn Musayyab berkata, “Matahari selalu terbit ditemani 370 malaikat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

16.  Al-Malak Al-Ladzi Yu’amminu Ad-Du’â

Rasulullah saw. bersabda,

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian sendiri kecuali yang baik karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim)

17.   Malak Al-Mathar wa As-Sahhâb (Yang Mengurus Hujan)

Rasulullah saw. pernah ditanya seorang Yahudi tentang petir dan beliau menjawab,

مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ[25]

“Itu adalah suara salah satu malaikat yang ditugasi menjaga awan. Dia membawa mikhraq (alat yang digunakan malaikat untuk menggiring awan[26]) yang terbuat dari api untuk menuntun awan ke mana saja Allah menghendaki.” (HR. At-Turmudzi, Ahmad, An-Nasa’i dan Ath-Thabrani)

Itulah sekelumit di antara sekian banyaknya para Malaikat yang telah Allah ciptakan beserta tugas-tugasnya. Seperti yang telah disebutkan bahwa mereka adalah mahluk-mahluk Allah yang suci, taat dan patuh terhadap semua yang telah menjadi ketentuan Allah. Mereka tidak mengenal kata tdak di saat Allah memerintahkannya, dan jumlah mereka sangat banyak. Dapat kita bayangkan, menurut keterangan Rasulullah saw. bahwa di Baitul Makmur—di mana Rasul menyaksikan di saat peristiwa Mikraj—setiap hari ada 70 ribu malaikat yang melakukan thawaf di tempat tersebut.

Dan dalam keterangan lain disebutkan bahwa langit, matahari, bulan dan bintang itu masing-masing ada Malaikat yang menjaganya, seperti halnya juga gunung, sebagaimana disebutkan tatkala Rasulullah saw. sedang mendapat hinaan dan pengusiran dari kaumnya maka malaikat yang bertugas menjaga gunung itu menawarkan kepada Baginda Rasulullah saw. bagaimana jika kaum itu dibinasakan dengan gunung tersebut. [27]

C.    TAFSIR SURAH AL-ANBIYA’, AYAT 26-27

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ. لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

 

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani)[28] berkata, Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak. Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.(QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 26-27)

KOSAKATA

وَلَدًا : اِسْمٌ يُجْمَعُ الوَاحِدُ وَالكَثِيْرُ وَالذَّكَرُ والأُنثَىاَلْوَلَدُ(dalam bahasa Arab kata al-walad artinya adalah anak, baik itu satu anak, banyak anak, anak perempuan ataupun anak laki-laki)[29]

عِبَادٌ  :  جَمْعٌ مِنْ عَبْدٍ وَالْعُبُوْدِيَةُ تُنَافِي الْوِلَادَة(kata ‘ibad pada ayat di atas yang berarti hamba-hamba adalah untuk menegaskan bahwa para malaikat bukanlah anak Allah, tetapi hamba-hamba-Nya. Dan, sebutan hamba itu sendiri otomatis menafikan adanya proses kelahiran.[30] Hamba adalah makhluk yang diciptakan)

 

لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ : لَا يَقُوْلُوْنَ حَتَّى يَقُوْلَ(para malaikat tidak akan bicara sebelum Allah berfirman).[31] Pendapat lain mengatakan bahwa kalimat itu bermakna bahwa para malaikat tidak akan mengutarakan sesuatu yang bertentangan dengan perkataan Allah swt. (لايقولون قولا بخلافه).[32]

سُبْحَانَهُ : نَزَّهَ نَفْسَهُ عَمَّا قَالُوْا(Allah mensucikan diri dari perkataan mereka atau Allah membebaskan diri dari sifat-sifat yang mereka sematkan pada-Nya).[33]

 TAFSIR

Ayat ini merupakan respons terhadap theologi atau keyakinan yang berkembang di masa Jahiliah. Terutama, orang-orang Yahudi dan kaum musyrik dari suku Khuza’ah, Juhainah, Bani Salamah, Bani Malih. Mereka berkata bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, ibu mereka adalah jin.[34] Atau, dalam kitab lain yang intinya sama dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi berkata, “Allah swt. menikahkan anaknya (malaikat) dengan jin dan menurut mereka malaikat itu juga termasuk jin.”[35]

Memang di masa Jahiliah, tepatnya sebelum Quraisy berkuasa, orang-orang Khuza’ah suka membuat-buat hal baru dalam keyakinan mereka. Mereka mengingkari agama tauhid yang sudah kokoh di Mekah pada waktu itu yakni dengan menyebarkan pemahaman-pemahaman sesat seperti anggapan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Mereka bahkan dicatat oleh sejarawan sebagai suku yang pertama kali mentradisikan paganisme di sekitar Ka’bah.[36] Jadi, akidah-akidah mereka sudah melenceng dari sejak awal. Keyakinan mereka juga tidak jelas.

Oleh sebab itulah, Rasulullah saw. diutus untuk menegakkan akidah yang benar yang pernah juga dakwahkan Nabi Ibrahim as.—tapi kemudian dirusak kaum-kaum musyrik Arab yang mengingkari tauhid dan hendak mencemari Ka’bah. Al-Qur’an dan Hadis sudah tegas dalam menjelaskan perihal malaikat ini. Penjelasannya tersebar di berbagai ayat dan hadis-hadis Rasulullah saw.

Salah satunya ada pada ayat di atas. Di sana, dijelaskan bahwa malaikat itu bukanlah anak Allah, Maha Suci Allah dari sifat ini. Mereka adalah (1) hamba Allah. Artinya, sebagai hamba tidak mungkin malaikat dilahirkan Allah, tapi diciptakan Allah. Tapi, (2) meskipun hamba, mereka kategorinya adalah hamba-hamba yang mulia. Sebab, (3) mereka tidak pernah mengutarakan ucapan yang menentang Allah atau ucapan yang bertentangan dengan firman Allah. Mereka (4) sangat patuh pada perintah-perintah Allah swt.

Masih banyak lagi informasi dari Al-Qur’an dan Hadis tentang malaikat ini, yang harus kita ketahui dan kita imani. Seperti, dijelaskan dalam hadis bahwa malaikat itu diciptakan dari cahaya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ[37]

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, dan Iblis (al-jânn adalah abu al-jin atau iblis) diciptakan dari pijar dan api, dan Adam diciptakan dari apa yang sudah disifat pada kalian (dalam Al-Qur’an).” (HR. Muslim)

1.      Malaikat Diciptakan Sebelum Manusia

Selanjutnya, yang perlu diketahui lagi adalah bahwa malaikat diciptakan sebelum manusia. Ini untuk menjawab ketika ada pertanyaan, “Kapan malaikat diciptakan?” Adapun dalilnya adalah firman Allah swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Dari ayat di atas, dapat kita pahami secara jelas bahwa sebelum manusia diciptakan malaikat sudah ada. Sebab, Allah swt. berfirman pada malaikat ketika Dia hendak menciptakan manusia (khalifah) di bumi. Lebih jelas lagi dalam surah Al-Hijr ayat 29, Allah swt. berfirman,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr [15]: 29)

Jadi, setelah kejadian manusia sempurna dan roh ditiupkan ke dalam jasad manusia, Allah swt. memerintahkan malaikat untuk tunduk hormat. Ini, sudah memperkuat bukti bahwa malaikat diciptakan sebelum manusia. Lantas, berapa sebenarnya jumlah malaikat di alam semesta ini? Ini mungkin pertanyaan yang menggelitik benak kita. Tapi, Allah sudah menjelaskan jawaban-Nya dalam Al-Qur’an,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 31)

Di dalam Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Azhîm, disebutkan bahwa para filosof Yunani mengatakan jumlah malaikat adalah 19 yang kemudian keyakinan ini diikuti banyak orang.[38] Tapi, secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa tidak ada yang tahu jumlah malaikat kecuali Allah swt. seperti yang kita pahami dari ayat di atas. Artinya, jumlah malaikat itu sangat banyak, hingga kita tak mampu menghitungnya. Pemahaman tentang “banyak” ini dapat kita ambil dari hadis sahih riwayat Abu Asy-Syaikh dari ‘Aisyah ra. dalam kitabnya, Al-‘Uzhmah sebagai berikut:

مَا فِى السَّمَاءِ مَوْضِعُ قَدَمٍ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ[39]

“Tidak ada tempat pun di langit meski itu hanya seluas tapak kaki, melainkan ada malaikat yang sedang sujud.” (HR. Abu Asy-Syaikh)

2.      Malaikat Juga Mati

Apakah malaikat mati? Pertanyaan ini mungkin sepele, tapi pengetahuan tentang hal itu termasuk bagian dari iman pada malaikat. Jawabannya, semua malaikat akan mati karena yang tidak binasa atau mati hanyalah Allah swt. sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)

Hanya saja, proses kematian malaikat ini bertahap. Dalam sebuah hadis masyhur yang menyinggung detik-detik Hari Kiamat—ketika sangkakala ditiup Israfil atau sering kita menyebutnya dengan hadîts ash-shûrdijelaskan sebagai berikut:

ثُمَّ يَأْمُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِسْرَافِيْلَ فَيَأْمُرُهُ بِنُفْخَةِ الصَّعْقِ فَيَنْفُخُ نُفْخَةَ الصَّعْقِ فَيَصْعَقُ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ وِالْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللهُ فَإِذَا هُمْ خَمَدُوْا جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الْجَبَّارِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ قَدْ مَاتَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شِئْتَ.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَهُوَ أَعْلَمُ): فَمَنْ بَقِيَ؟

فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ بَقِيْتَ أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِيْ لَا تَمُوْتُ وَبَقِيَ حَمَلَةُ عَرْشِكَ وَبَقِيَ جِبْرِيْلُ وَمِيْكَائِيْلُ وَأَنَا.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: لِيَمُتْ جِبْرِيْل وَمِيْكَائِيْل. فَيَتَكَلَّمَ الْعَرْشُ فَيَقُوْلُ يَا رَبِّ تُمِيْتُ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ؟ فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، اُسْكُتْ إِنِّيْ كَتَبْتُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَحْتَ عَرْشِيْ اَلْمَوْتَ فَيَمُوتَانِ. وَيَأْتِي مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الْجَبَّارِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُ قَدْ مَاتَ جِبْرِيْلُ وَمِيْكَائِيْلُ.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَهُوَ أَعْلَمُ): فَمَنْ بَقِيَ؟

فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ بَقَيْتَ أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِيْ لَا تَمُوْتُ وَبَقِيَ حَمَلَةُ عَرْشِكَ وَبَقَيْتُ أَنَا.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: لِيَمُتْ حَمَلَةُ عَرْشِي. فَيَمُوْتُوْنُ ثُمَّ يَأْتِي مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى الْجَبَّارِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ قَدْ مَاتَ حَمَلَةُ عَرْشِكَ.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَهُوَ أَعْلَمُ): فَمَنْ بَقِيَ؟

فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ بَقَيْتَ أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِيْ لَا تَمُوْتُ وَبَقَيْتُ أَنَا.

فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْتَ خَلْقٌ مِنْ خُلُقِيْ خَلَقْتُكَ لِمَا رَأَيْتَ فَمُتْ، فَيَمُوْتُ.[40]

Kemudian Allah memerintahkan Israfil untuk meniup sangkakala. Israfil pun meniupnya, maka seluruh penduduk langit dan bumi mati kecuali yang Allah kehendaki hidup. Ketika semua penduduk langit dan bumi mati bergelimpangan, Malaikat Maut datang menghadap Allah swt. dan berkata,

            “Ya Allah, penduduk langit dan bumi telah mati, kecuali (beberapa malaikat) yang Engkau kehendaki (agar tetap hidup).”

            “Tinggal siapa?” Tanya Allah swt. (dan pada hakikatnya Dia Maha Tahu).

            “Sekarang, tinggal Engkau, Zat yang Maha Hidup dan tidak akan mati, kemudian malaikat-malaikat yang meyangga ‘Arsy-Mu, kemudian Jibril, Mikail dan saya (Malaikat Maut).”

            “Matilah Jibril dan Mikail.” Mendengar itu, ‘Arsy bertanya (heran),

Engkau akan mematikan Jibril dan Mikail?

Diam kamu!” Jawab Allah swt.,Sudah Ku-tetapkan bahwa setiap makhluk di bawah ‘Arsy-Ku akan mati. Maka, keduanya juga akan mati. Kemudian, datanglah Malaikat Maut menghadap Allah swt. dan berkata,

“Jibril dan Mikail sudah mati.”

            “Tinggal siapa, sekarang?” Tanya Allah swt. (dan pada hakikatnya Dia Maha Tahu).

“Sekarang, tinggal Engkau, Zat yang Maha Hidup dan tidak akan mati, kemudian malaikat-malaikat yang meyangga ‘Arsy-Mu, dan saya (Malaikat Maut).”

“Matilah malaikat-malaikat penyangga ‘Arsy-Ku.” Maka mereka semua mati. Kemudian, Malaikat Maut datang menghadap Allah swt. dan berkata,

“Ya Allah. Malaikat-malaikat penyangga ‘Arsy-Mu telah mati.”

            “Tinggal siapa, lagi?” Tanya Allah swt. (dan pada hakikatnya Dia Maha Tahu).

“Sekarang, tinggal Engkau, Zat yang Maha Hidup dan tidak akan mati dan saya.”

“Engkau adalah salah satu dari makhluk-Ku. Engkau Ku-ciptakan untuk mengerjakan apa yang telah engkau lihat (mencabut nyawa). Maka matilah engkau (Malaikat Maut).” Akhirnya, Malaikat Maut pun mati.(HR. Abu Asy-Syaikh)

Hadis panjang di atas, membuktikan bahwa malaikat pun mati meskipun itu Malaikat Maut. Jadi, tak ada yang tak binasa di alam semesta ini, jika sangkakala ditiup dan Hari Kiamat tiba semua pasti mati.

3.      Malaikat Memiliki Wajah yang Bagus dan Perkasa

Selanjutnya, dari hadis-hadis yang lain kita mendapatkan informasi juga bahwa malaikat itu memiliki wajah yang bagus. Istilah bagus ini untuk menegasikan makna cantik atau ganteng karena keduanya untuk menyifati manusia yang berdasarkan jenis kelamin. Adapun dalilnya adalah firman Allah swt.,

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa)” (QS. An-Najm [53]: 5-6)

4.      Malaikat Dapat Menjelma Menjadi Manusia

Selain sifat-sifat di atas, malaikat juga memiliki kelebihan lain yang diberikan Allah swt. yakni bisa berubah wujud dan menjelma menjadi manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt.,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا. فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا. قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا. قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا.

 

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis), lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam [19]: 16-19)

Dalam sebuah hadis, yang menceritakan seorang lelaki yang bertanya pada Rasulullah saw. tentang Islam, Iman dan Ihsan disebutkan bahwa dia (lelaki) itu sebenarnya adalah malaikat Jibril. Dia datang menemui Nabi saw. menyerupai lelaki Arab Badui. Itu merupakan salah satu penyerupaan malaikat dalam bentuk manusia. Tapi, terkadang malaikat juga datang menjumpai Nabi saw. menyerupai Dihyah Al-Kalbi (seorang sahabat yang memiliki wajah ganteng). Atau, menyerupai lelaki muda. Bahkan, malaikat pernah menampakkan sayapnya yang membentang dari ujung timur hingga ujung barat.[41]

5.      Malaikat Tidak Makan dan Minum

Lalu, apakah malaikat itu makan dan minum? Tentu, kita semua tahu jawabannya. Tapi, mungkin kita semua belum tahu dalil yang kuat untuk memperkokoh keyakinan kita tersebut. Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 26-28 disebutkan dengan jelas tapi tersirat bahwa malaikat tidak makan. Allah swt. berfirman,

فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ. فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ. فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

 

“Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, ‘Mengapa tidak kamu makan.’ Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut,’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).’” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 26-28)

6.      Malaikat Tidak Tidur

Selain tidak makan, malaikat juga tidak tidur. Dalam surah Al-Anbiya’ ayat 20 dijelaskan, Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. Hebatnya lagi, mereka tidak pernah merasa lelah atau jemu. Allah swt. berfirman, Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.(QS. Fushshilat [41]: 38)

7.      Malaikat Selain Jibril as. yang Menemui Nabi saw.

Kita tahu bahwa di antara malaikat yang paling akrab dengan Nabi saw. adalah Jibril as. karena ia sering membawa wahyu Al-Qur’an. Tapi, dalam hadis sahih riwayat Muslim, ada malaikat lain yang pernah menemui Nabi saw. dan mendapat perintah yang sama seperti perintah Allah swt. pada Jibril. Malaikat itu tidak pernah turun ke muka bumi kecuali sekali saja. Dalam hadis itu disebutkan bahwa sang malaikat datang untuk memberi kabar gembira pada Rasulullah saw. tentang dua cahaya, yakni surah Al-Fatihah dan ayat-ayat terakhir dari surah Al-Baqarah. Berikut redaksi hadisnya,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَسَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ[42]

 

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Ketika Jibril as. duduk di samping Nabi saw., terdengar suara dari atas Jibril as. maka Jibril as. mengangkat kepalanya (mendongak). Kemudian ia berkata,

            ‘Ini suara pintu langit yang hari ini sedang dibuka. Pintu itu belum dan tidak akan pernah dibuka kecuali hari ini.’ Maka, turunlah dari pintu itu sesosok malaikat. Kemudian, Jibril as. berkata,

            ‘Ini adalah sesosok malaikat yang (ditugaskan) turun ke bumi. Dia tidak turun ke bumi kecuali hari ini.’ Lalu, sesosok malaikat itu menyampaikan salam dan berkata,

            ‘Aku datang untuk memberi kabar gembira tentang dua cahaya (nûraini). Keduanya diberikan kepadamu (Muhammad saw.) dan tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu. Yakni surah pembuka Al-Kitab (surah Al-fatihah) dan ayat-ayat terakhir dari surah Al-Baqarah. Tidak ada satu huruf pun dari dua cahaya (nûraini) yang kamu baca itu, kecuali kamu akan mendapat apa yang terkandung (atau yang tersirat) di dalamnya.” (HR. Muslim)

Tapi, tidak disebutkan secara detail, baik oleh pensyarah hadis atau ulama lain mengenai siapa sebenarnya malaikat tersebut. Kita mungkin bertanya-tanya tentang sesosok malaikat itu. Namun, perihal nama dan identitasnya itu adalah masalah gaib yang tidak bisa kita sangka atau kita duga-duga. Kewajiban kita hanyalah beriman, baik terhadap kejadian ini maupun pada keberadaan malaikat tersebut.

8.      Malaikat Memiliki Ka’bah Sendiri

Ka’bahnya para malaikat itu namanya Al-Baitu Al-Ma’mur. Dalam hadis Isra’ Mikraj yang panjang itu Nabi saw. meyinggung sedikit tentang kondisi Al-Baitu Al-Ma’mur. Beliau bersabada,

ثُمَّ رَفَعَ لِي الْبَيْتَ الْمَعْمُوْرِ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ[43]

“Kemudian, aku dinaikkan ke Al-Baitu Al-Ma’mur yang setiap harinya 70.000 malaikat masuk ke sana.” (HR. Al-Bukhari)

9.      Malaikat Memohonkan Ampun untuk Orang-orang Mukmin

Dalam surah Al-Ahzâb Allah swt. berfirman,

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.(QS. Al-Ahzâb [33]: 43)

10.  Malaikat Mengelilingi Jamaah Tilawah Al-Qur’an di Dalam Masjid

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

 

“Tidak ada suatu kaum (jamaah) yang berkumpul di dalam salah satu masjid dari masjid-masjid Allah yang di sana mereka membaca Al-Qur’an dan saling menyimak kecuali ketenangan akan turun menghampiri mereka, mereka diliputi rahmat dan dikelilingi malaikat dan Allah akan menyanjung mereka di hadapan malaikat dan para nabi.” (HR. Abu Daud)

11.  Malaikat Melaporkan pada Allah Amalnya Ahli Dzikir

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ للهِ مَلاَئِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِنْ وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ، تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ. قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا. قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ، مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالَ يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ، وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ فَيَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْكَ. قَالَ فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا. قَالَ يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ يَقُولُونَ: يَسْئَلُونَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا. قَالَ يَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا، كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. قَالَ يَقُولُ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ. قَالَ يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ يَقُولُونَ: لاَ وَاللهِ مَا رَأَوْهَا. قَالَ يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً. قَالَ فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ

قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ: فِيهِمْ فُلاَنٌ، لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ، لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.[44]

Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah asaw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan jamaah yang berdzikir pada Allah, mereka memanggil (malaikat-malaikat) yang lain:

            ‘Cepatlah kemari demi hajat kalian (untuk mendengar dzikir dan mengunjungi ahli dzikir).’ Maka malaikat-malaikat pun mengelilingi jamaah ahli dzikir itu hingga sayap mereka menembus langit dunia. Kemudian, Allah bertanya pada pada malaikat (dan sesungguhnya lebih tahu dari mereka),

            ‘Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku (itu)?’

            ‘Mereka bertasbih pada-Mu, bertakbir pada-Mu, bertahmid pada-Mu, dan memuliakan-Mu.’

            ‘Apakah mereka melihat-Ku?’

            ‘Demi Allah! Mereka tidak melihat-Mu.’

            ‘Bagaimana jika mereka melihat-Ku?’

            ‘Jika mereka melihat-Mu, tentu mereka akan lebih giat ibadahnya kepada-Mu, lebih dalam untuk memuliakan-Mu, dan lebih banyak mengucap tasbih pada-Mu.’

            ‘Apa yang mereka minta?’

            ‘Mereka meminta surga pada-Mu.’

            ‘Apakah mereka sudah melihatnya?’

            ‘Demi Allah belum, ya Rabb. Mereka belum melihatnya.’

            ‘Bagaimana jika mereka melihatnya?’

            ‘Jika mereka melihatnya, tentu mereka menjadi lebih kuat keinginannya untuk meraih surga, lebih semangat untuk mencarinya, dan lebih hebat dalam mencintainya.’

            ‘(Lalu) mereka memohon perlindungan dari apa?’

            ‘Dari api neraka.’

            ‘Apakah merekah sudah melihatnya?’

            ‘Belum. Demi Allah, mereka belum melihat neraka.’

            ‘Bagaimana jika mereka melihatnya?’

            ‘Jika mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih jauh menghindarinya, dan sangat takut padanya.’

            ‘Sekarang jadilah kalian saksi bahwa sesungguhnya aku telah mengampuni mereka.’

            ‘Kemudian sesosok malaikat berkata, ‘Di dalam jamaah dzikir itu ada seseorang yang bukan termasuk mereka. Ia datang untuk tujuan lain.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Mereka adalah jamaah yang (dengan mendatangi) majlis-majlisnya tidak membuat (mereka) rugi.’” (HR. Al-Bukhari)

 

  • D.    KESIMPULAN

Keyakinan atau keimanan akan adanya Allah merupakan pondasi aqidah dalam kehidupan. Beriman berarti meyakini dengan sepenuh hati dibarengi dengan komitmen amal. Islam meletakkan cabang iman lebih dari 70, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan dan yang paling tinggi adalah mengucapkan lâ ilâha illallâh (tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah). Tetapi, dasar-dasar pokok keimanan dalam Islam sekurang-kurangnya ada enam. Di antara yang 6 tersebut adalah beriman kepada malaikat. Beriman kepada malaikat berarti yakin akan keberadaan makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya itu.

Keberadaan malaikat memang tidak dapat dijangkau panca indra karena ia bagian dari mahluk gaib (tidak nyata). Dari sini, kemudian orang-orang yang ingkar pada agama Islam mengatakan bahwa malaikat adalah anak Allah, bahkan mereka mengatakan Jibril berjenis kelamin. Padahal, malaikat tiada lain adalah utusan Allah.

Malaikat merupakan makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya. Ia disebut sebagai hamba al-mukramûn (المكرمون) yang dimuliakan. Disebut juga as-safarah (السفرة) perantara Allah kepada Rasul-Nya, yang memiliki sifat al-kirâm (الكرام) mulia, baik akhlak atau penciptaannya dan juga sifat al-bararah (البررة) suci, baik dzat maupun sifatnya. Mereka senantiasa menaati Allah dan tidak pernah bermaksiat pada-Nya. Bukanlah, laki-laki atau perempuan jenis kelaminnya dan maha suci Allah dari perkataan dan tuduhan orang-orang yang durhaka serta zalim yang mengatakan malaikat adalah anak Allah.[45]

Dalam keteraturan tugas dan kedudukan, malaikat mempunyai kesamaan dalam sebuah sistem. Disebutkan malaikat Jibril, Mikail dan Israfil. Mereka adalah pemimpin para Malaikat karena tugas  mereka sebagai “monitor” kehidupan. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu. Wahyu itu kunci kehidupan hati dan roh. Mikail bertugas mengatur dan menurunkan hujan dari langit. Air hujan sumber kehidupan bumi dan tumbuh-tumbuhah dan hewan. Sedangkan Israfil bertugas sebagai meniup sangkakala yang itu merupakan kehidupan makhluk setelah kematiannya (Hari Berbangkit).[46]

 E.     DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahnya

Abu Al-‘Izz, Ali bin Ali bin Muhammad, Syarhu al-Aqîdah Thahawiyah, (Beirut:  Muassasah Arrisalah, 2000) h. 408

Ad-Dinuri, Ibnu Qutaibah, Ta’wîl Mukhtalif Al-Hadîts, (Beirut: Dar Al-Jil, 1972)

Ad-Dimasyqi, Abu Al-Fida’ Ibn Katsir, Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Azhîm, (Saudi Arabia: Dar Thayyibah li An-Nasyr wa At-Tauzi’, 1999)

Ahmad ibn Ahmad Al-Fasi Abu Al-‘Abbas, Al-Bahr Al-Madîd, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 2002)

Ali bin Ali bin Muhammad Abu Al-‘Izz, Syarhu al-Aqidah Thahawiyah, (Beirut:  Muassasah Arrisalah, 2000)

Ali Hukmi, Hafizh Ibnu Ahmad, Ma’ârij al-Qabûl, (Mesir: Daar al-Shafwa, 2006)

Al-Ashbihani, Abu Asy-Syaikh, Al-‘Uzhmah, (Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, 1408 H)

Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Îman, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1410 H)

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma’il, Al-Jami’ Ash-Shahîh  Al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987)

Al-Kharbuthli, Ali Husni, Târîkh Ka’bah, (Beirut: Dar Al-Jil, 2004)

Al-Minawi, Muhammad Abdurrauf, Faidh Al-Qadir, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1994)

Al-Qurthuby, Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ahmad, Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân, (Riyadh: Dar ‘Alam Al-Kutub, 2003)

Ath-Thabari, Muhammad ibn Jarir, Jami’ Al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, (Riyad: Muassasah Ar-Risalah, 2000)

Al-Qusyairi, Muslim ibn Al-Hajjaj, Al-Jami’ Ash-Shahîh, Kitab Az-Zuhd, Bab fi Ahadits Mutafarriqah (Beirut: Dar Al-Jil, t. th.)

Ar-Razi, Fakhruddin, MafâtihAl-Ghaib, (Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, 2000)

As-Samarqandi, Abu Al-Laits, Bahrul ‘Ulûm, (Beirut: Dar Al-Fikr, t.th.)

As-Sam’ani, Abu Al-Muzhaffar, Tafsîr Al-Qur’ân, (Riyad: Dar Al-Wathan, 1997)

At-Turmudzi, Muhammad Abu ‘Isa, Al-Jami’ Ash-Shahih Sunan At-Turmudzi, (Beirut: Dar Ihya’ At-Turats, t. th.)

Az-Zamakhsyari, Abu Al-Qasim Mahmud, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn Al-Aqâwil fî Wujûh at-Ta’wîl, (Beirut: Dar Ihya’ At-Turats, t.th.)

Ibnu Mandzur, Lisân Al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, t. th.)

Nuruddin ‘Itr, Manhaj An-Naqdi fi ‘Ulum Al-Hadits, (Suriah: Dar Al-Fikr, 1997)


[1] Disarikan dari hadis riwayat Imam Muslim. Adapun teks asli hadisnya sebagai berikut:

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ. (رواه مسلم في صحيحه، كتاب الإيمان، باب مَعْرِفَةِ الإِيمَانِ وَالإِسْلاَمِ وَالْقَدَرِ وَعَلاَمَةِ السَّاعَةِ)

[2] Teks ayatnya sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fâthir [35]: 1)

[3] Teks ayatnya sebagai berikut:

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا

“(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka melihat para malaikat, pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, ‘Hijran mahjura.’” (QS. Al-Furqân [25]: 22)

[4] Teks ayatnya sebagai berikut:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 98)

[5] Teks ayatnya sebagai berikut:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ.

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, Apakah kepadamu mereka ini dahulu menyembah?Para malaikat itu menjawab, Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.’” (QS. Saba’ [34]: 40-41)

[6] Teks ayatnya sebagai berikut:

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (QS. An-Nisâ’ [4]: 172)

[7] Abdul Aziz bin Muhammad Abdul Latif, Kitab Tauhid, (Solo: Assalam, 2011) hal. 77.

[8] Abdul hamid Handawi, Jâmi al-Bayân fî Mufradat al-Qur’ân, (Riyadh: Maktabah Rusyd, 2007) Vol. III. Hal. 854.

[9] Muhammad ibn Jarir At-Thabari, Jami’ Al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, (Riyadh: Muassasah Ar-Risalah, 2000) Jil. VIII. Hal. 151.

[10] Abdul Aziz bin Muhammad abdul Latif, Kitab Tauhid, hal. 77.

[11] Abu Abdullah Abdurrahman ibn Nashir As-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân, (Beirut: Dar Ihya Turats ‘Arabiy, 1999) Hal. 918.

[12] Fakhruddin Ar-Razi, Mafâtih al-Ghaib, (Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, 2000) Jil. XXI. Hal. 50.

[13] Tuhan menurut Khadijahra.pada waktu itu tentu bukanlah Tuhan (Allah) yang dipahami setelah beliau masuk Islam.

[14] Muhammad ibn Isma’il Al-Bukhari, Al-Jâmi’ Ash-Shahîh Al-Mukhtashar, Hal. 1

[15] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhîm, Jil. I, Hal. 167.

[16] Muslim ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Al-Jâmi’ Ash-Shahîh, Kitab Az-Zuhd,Bab Shadaqah fi Al-Masakin, Hadis No. 45.

[17] Umar Sulaiman Al-Asyqar, Al-Qiyâmah Al-Qubra, (Kuwait: Maktabah Al-Falah, 1986) Hal. 40-41.

[18] At-Tirmidzi, Sunan At-Turmudzi, Kitab Janaiz, Bab Mâ Jâ’ fî ‘Adzâbi Al-Qabri, Hadis No. 1077.

[19] Muhammad ibn Isma’il Al-Bukhari, Al-Jâmi’Ash-Shahîh Al-Mukhtashar, Kitab Bad’ Al-Khalq, Hadis No. 3208.

[20] Muslim ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Al-Jami’ Ash-Shahîh, Kitab Al-Jihâd wa As-Sair, Bab Ma Laqiya An-Nabiyu Min Adza Al-Musyrikin wa Al-Munâfiqîn, jil. V. Hal. 181.

[21] Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Îman, Ats-Tsalits wa Khamsûn min Syu’ab Al-Imân, Bab fi At-Ta’âwun ‘ala Al-Birri wa At-Taqwa (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1410 H) Jil. VI. Hal. 128.

[22] Hadis ini diriwayatkan secara marfu’ oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya, kemudian ia berkomentar bahwa itu merupakan satu-satunya sanad yang menegaskan bahwa hadis ini diriwayatkan dari Nabi saw. Adapun Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa hadis ini sanadnya hasan, gharib jiddan. Sedangkan As-Sakhawi, menganggap hadis ini hasan. Al-Haitsami berpendapat bahwa rawi-rawi yang ada dalam hadis ini semuanya tsiqah. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis ini dalam Syu’ab Al-Îmân secara mauquf dengan dua sanad yang kesemua rawinya tsiqah. Dan, yang paling kuat dari riwayat ini adalah hadis yang mauquf riwayat Al-Baihaqi. Oleh karena itu, penulis mengambil dari hadis yang sanadnya mauquf bukan yang marfu’ ila an-nabiy. Meskipun hadis ini mauquf, tapi fi hukmi al-marfu’ karena ada qarinah-nya yakni mengabarkan sesuatu yang bukan wilayah akal (lâ majâla lir ra’yi). Qarinah inilah yang kemudianmenegaskan bahwa tidak mungkin sahabat (Ibnu ‘Abbas) mendengar kecuali dari Nabi saw. Nuruddin ‘Itr menjelaskan dalam kitabnya, Manhaj An-Naqdi fi ‘Ulum Al-Hadits, bahwa jika hadis mauquf itu memiliki qarinah maknawi atau lafdzi yang menunjukkan ke-marfu’-annya maka dia hukumnya sama dengan hadis marfu’ dan bisa dijadikan hujah. Lihat, Nuruddin ‘Itr, Manhaj An-Naqdi fî ‘Ulûm Al-Hadits, (Suriah: Dar Al-Fikr, 1997) Hal. 328.

[23] Hadis ini digunakan juga oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Lihat, Abu Al-Fida’ Ibn Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Azhîm, jil. VIII. Hal. 210.

[24] Ibnu Abi Syaibah Al-Kufi, Mushannaf ibn Abi Syaibah, Kitab Al-Adab Bab Man Kariha Asy-Syi’r wa An Ya’îhi fi Jaufih.

[25] Muhammad Abu ‘Isa At-Turmudzi, Al-Jami’ Ash-Shahih Sunan At-Turmudzi, (Beirut: Dar Ihya’ At-Turats, t. th.) Jil. V. Hal. 294.

[26] Muhammad Abdurrauf Al-Minawi, Faidh Al-Qadir, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1994) Jil. IV. Hal. 73

[27] Ali bin Ali bin Muhammad Abu Al-‘Izz, Syarhu al-Aqidah Thahawiyah, (Beirut:  Muassasah Arrisalah, 2000) h. 409

[28] Abu Al-Laits As-Samarqandi, Bahrul ‘Ulûm, (Beirut: Dar Al-Fikr, t.th.) jil. II. Hal. 387.

[29] Ibnu Mandzur, Lisân Al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, t. th.) Jil. III. Hal. 467.

[30] Abu Al-Qasim Mahmud Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn Al-Aqâwil fî Wujûh at-Ta’wîl, (Beirut: Dar Ihya’ At-Turats, t.th.) Jil. III. Hal. 113.

[31] Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthuby, Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân, (Riyadh: Dar ‘Alam Al-Kutub, 2003) Jil. XI. Hal. 281.

[32] Abu Al-Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsîr Al-Qur’ân, (Riyadh: Dar Al-Wathan, 1997) Jil. III. Hal. 376.

[33] Abu Al-Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsîr Al-Qur’ân, jil. III. Hal. 376.

[34] Ahmad ibn Ahmad Al-Fasi Abu Al-‘Abbas, Al-Bahr Al-Madîd, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 2002) Jil. IV. Hal. 500.

[35] Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, jil. XVIII. Hal. 428.

[36] Ali Husni Al-Kharbuthli, Târîkh Ka’bah, (Beirut: Dar Al-Jil, 2004) Hal. 8.

[37] Muslim ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Al-Jami’ Ash-Shahîh, Kitab Az-Zuhd, Bab fi Ahadits Mutafarriqah (Beirut: Dar Al-Jil, t. th.) Jil. VIII. Hal. 226.

[38] Abu Al-Fida’ Ibn Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsîr Al-Qur’an Al-‘Azhîm, (Saudi Arabia: Dar Thayyibah li An-Nasyr wa At-Tauzi’, 1999) Jil. VIII. Hal. 270.

[39] Abu Asy-Syaikh Al-Ashbihani, Al-‘Uzhmah, (Riyadh: Dar Al-‘Ashimah, 1408 H) Jil. III. Hal. 984.

[40] Abu Asy-Syaikh Al-Ashbihani, Al-‘Uzhmah, jil. III. Hal. 826. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya.

[41] Ibnu Qutaibah Ad-Dinuri, Ta’wîl Mukhtalif Al-Hadîts, (Beirut: Dar Al-Jil, 1972) Hal. 127.

[42] Muslim ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Al-Jami’ Ash-Shahîh, Kitab Shalât Al-Musâfirîn, Bab Fadhlu Al-Fatihah wa Khawâtim Sûrah Al-Baqarah, jil. II. Hal. 198.

[43] Muhammad ibn Isma’il Al-Bukhari, Al-Jami’ Ash-Shahîh  Al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987) Jil. III. Hal. 141.

[44] Muhammad ibn Isma’il Al-Bukhari, Al-Jami’ Ash-Shahîh  Al-Mukhtashar, jil.V. Hal. 235.

[45] Hafizh Ibnu Ahmad Ali Hukmi, Ma’ârij al-Qabûl, (Mesir: Daar al-Shafwa, 2006) Hal. 40.

[46] Ali bin Ali bin Muhammad Abu Al-‘Izz, Syarh al-Aqîdah Ath-Thahâwiyah, (Beirut:  Muassasah Arrisalah, 2000) Hal. 408