HADIS MURSAL

by KONSULTASI~Haji&Umroh

DIPRESENTASIKAN PADA MATA KULIAH ILMU HADIS, ISNTITUTE ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

DOSEN: DR. SYAHABUDDIN

 

A.    Pendahuluan

Ilmu Hadis adalah ilmu yang sangat penting dan bermanfaat bagi umat Islam. Dengannya umat Islam bisa mengetahui hukum halal dan haramnya sesuatu. Di antara hal penting dalam ilmu hadis sendiri adalah periwayatan. Kita yang kebetulan hidup di masa sekarang ini tidak mungkin bisa hadir sebagai saksi atau pelaku utama atas apa yang terjadi puluhan abad yang lalu. Oleh sebab itu, diperlukanlah riwayat dari orang-orang terdahulu yang menjadi saksi kunci atas suatu kejadian.

Inti dari belajar sanad hadis pun begitu, yakni membuktikan kebenaran suatu riwayat. Apakah betul suatu perbuatan atau perkataan itu terjadi di masa Nabi saw. dan diucapkan oleh beliau? Kebenaran terbukti dan diakui jika setiap generasi sepeninggal Nabi saw. ada orang “tepercaya” yang meriwayatkan perbuatan atau perkataan tersebut. Masalahnya, bagaimana jika suatu riwayat yang sampai kepada kita saat ini, tidak diriwayatkan secara runut dan sambung antara generasi ke generasi (Sahabat, Tabi’in, Atba’ Tabi’i dan seterusnya), artinya ada yang terputus? Inilah yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini.

Di dalam ilmu hadis ada satu istilah yang disebut dengan Hadis Mursal. Mudahnya, ini adalah hadis yang di generasi sahabatnya ada rawi yang dibuang atau tidak disebutkan—tapi, mengenai definisi jelasnya akan dibahas nanti di dalam makalah. Definisi semacam ini berangkat dari penilitian ulama terhadap sanad hadis—terkait ketersambungannya—bukan pada matannya. Dan, kajian sanad ini sangat penting mengingat ia memengaruhi kesahihan dan kedhaifan suatu hadis.

Oleh karena itu, izinkanlah pemakalah menyampaikan beberapa hal terkait dengan Hadis Mursal ini. Pembahasan ini, berkutat seputar definisi Hadis Mursal, contohnya, tingkatannya, karya-karya yang berkaitan dengannya, sebab-sebab munculnya Hadis Mursal, dan kehujahannya beserta diskusi yang berkaitan dengannya. Sebelumnya, mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat kekurangan. Itu tidak lain adalah karena kelemahan penulis. Jika ada hal lain yang bermanfaat maka sesungguhnya itu merupakan anugerah dari Allah swt.

  • B.     Definisi Hadis Mursal

Definisi mursal secara bahasa adalah lepas (at-takhliyah) atau meninggalkan (at-tarku).[1] Dalam sebuah ayat Allah swt. berfirman,

وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu.” (QS. Fâthir [35]: 2)

Adapun keterkaitan arti bahasa di atas dengan makna Hadis Mursal adalah seolah-olah ia (Hadis Mursal) melepaskan sanadnya. Ada juga irsâl yang secara bahasa artinya mutaqaththa’atan (مُتَقَطَّعَةً) atau terputus-putus.[2] Keterputusan itu sendiri memiliki sifat jeda atau jarak antara satu dengan yang lain. Jadi, menurut arti bahasa ini Hadis Mursal adalah hadis yang di dalam sanadnya, antara thabaqah satu dengan thabaqah yang lain tidak bertemu.

Sedangkan, mursal secara istilah atau lebih tepatnya Hadis Mursal adalah,

مَا سَقَطَ مِنْ آخِرِهِ مَنْ بَعْدَ التَّابِعِي[3]أي الحديث الذي حذف منه الصحابي ورفعه تابعي الصحابي إلى المصطفى أي نسبة إليه.[4]

“Hadis yang pada sanad akhirnya ada rawi yang gugur, tepatnya (rawi) setelah tabi’in (yakni sahabat). Atau, hadis yang di dalam sanadnya, rawi sahabat dibuang kemudian Tabi’in (yang thabaqah-nya setelah Sahabat) menisbatkan (hadis) secara langsung pada Al-Mushtafa.”

           Atau lebih mudahnya, Hadis Mursal adalah jika rawi dari kalangan Tabi’in—baik itu Tabi’in Muda (shighâr at-tâbi’în) atau Tabi’in Senior (kibâr at-tâbi’în)—berkata, “Rasulullah saw. bersabda…”. Hadis semacam ini dinamakan dengan Hadis Mursal. Hadis ini tidak lazim karena sebuah hadis itu aturan bakunya harus diriwayatkan dari Sahabat dari Nabi saw., bukan dari Tabi’in langsung dari Nabi saw. Istilah mudahnya, Hadis Mursal ini adalah hadis yang dalam sanadnya, rawi Sahabat “diloncati”.

Tapi, definisi di atas dianggap oleh banyak ahli hadis belum cukup. Sehingga, mereka mengacu pada definisi       berikut ini;

مَا رَفَعَهُ التَّابِعِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ كَانَ ذَلكَ التَّابِعِي مِنْ كِبَارِ التَّابِعِيْنَ أَوْ مِنْ صِغَارِهِمِ[5]

“Hadis yang periwayatannya dinisbatkan langsung oleh Tabi’in pada Rasulullah saw., baik itu dari Tabi’in Muda atau Tabi’in Senior.”

Namun begitu, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani masih kurang sreg dengan definisi ini. Terutama pada kata, “at-tabi’î”. Menurutnya, ada orang yang di masa kafirnya pernah mendengar ucapan Nabi saw., kemudian setelah masuk Islam dia meriwayatkan ucapan Nabi saw. tersebut. Seperti Ka’b Al-‘Ubadi atau Ka’b ibn ‘Adi yang sering disebut dengan At-Tanukhi, utusan Raja Herkules. Secara definisi, dia memang masuk kategori Tabi’in, tapi periwayatan hadis darinya yang disandarkan langsung pada Nabi saw. tidak bisa dihukumi irsâl, melainkan ittishâl.

Oleh sebab itu, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani merasa definisi di atas perlu pengecualian karena—sesuai fakta dan pejelasan di atas—tidak semua rawi yang disebut Tabi’in (yang menyandarkan riwayatnya langsung pada Nabi saw.), hadisnya dihukumi mursal. Ada rawi yang masuk kategori Tabi’in yang riwayatnya meski disandarkan secara langsung pada Nabi saw. dihukumi ittshâl seperti riwayat dari At-Tanukhi, misalnya.

Ini merupakan bukti kejelian dan kehati-hatian Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam membuat sebuah definisi. Bagi beliau, jika definisi itu sudah mengesampingkan satu orang atau sesuatu yang sangat jarang maka ia dianggap tidak jâmi’ dan perlu diubah atau minimal dibuat pengecualiannya. Akhirnya, muncullah definisi Hadis Mursal dari beliau yang lebih luas cakupannya yakni,

 مَا أَضَافَهُ التَّابِعِي إِلَى النَّبِيِّ e مِمَّا سَمِعَهُ مِنْ غَيْرِهِ[6]

“Sesuatu yang disandarkan Tabi’in pada Nabi saw. dari riwayat yang (notabene) ia dengar (bukan langsung dari Nabi saw. melainkan) dari orang lain yang (satu thabaqah dengannya).”  

           Inilah definisi Hadis Mursal menurut ulama hadis muta’akhkhirîn. Jadi, sesuai definisi Ibnu Hajar Al-‘Asqalani di atas, apa yang didengar Tabi’in dari Tabi’in lain kemudian diriwayatkan dengan menyandarkan langsung pada Nabi saw. hukumnya mursal. Tapi, kasus ini berbeda jika yang mendengar itu Sahabat dari Sahabat lain, kemudian ia meriwayatkannya dengan menyandarkan langsung pada Nabi saw., maka hadis ini dihukumi muttashil. Riwayat semacam ini sering juga disebut dengan mursal ash-shahabi.

Tapi, ada juga riwayat Sahabat yang—jika ia menyandarkan langsung pada Nabi saw.—hadisnya dihukumi mursal, yakni Sahabat yang melihat Nabi saw. saat ia belum mumayyiz. Kebanyakan Sahabat dalam kategori ini meriwayatkan hadis justru dari Tabi’in Senior. Adapun, Sahabat yang bertemu (adraka) dan mendengar langsung (sami’a) dari Nabi saw. di usia dewasa, kecil kemungkinannya meriwayatkan dari Tabi’in Senior.[7]

Itulah, sedikit polemik tentang definisi Hadis Mursal dan ini terus berkembang. Bahkan, beberapa ahli hadis mutaqaddimîn(ulama yang hidup di abad ke-3 dan beberapa paruh abad ke-4 Hijriah)menyamakan definisi antara Hadis Mursal dan Hadis Munqathi’. Mereka yang menyamakan definisi kedua hadis tersebut adalah Abu Zur’ah Ar-Razi (w. 264 H), Abu Hatim (w. 293 H), dan Ad-Daruquthni (w. 385 H)[8]. Dan, definisi ini lebih sering digunakan oleh fuqahâ’ dan ushuliyûn.[9]

Tapi, penyamaan definisi antara Hadis Mursal dan Hadis Munqathi’ ini tidak hanya menyebar di kalangan mutaqaddimîn saja. Di kalangan muta’khkhirîn juga ada yang menyamakan definisi Hadis Mursal dengan Hadis Munqathi’ seperti Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 436 H). Ia mendefinisikan Hadis Mursal sebagai berikut;

مَا اِنْقَطَعَ إِسْنَادُهُ بِاَنْ يَكُوْنَ فِي رُوَاتِهِ مَنْ لَمْ يَسْمَعْهُ مِمَّنْ فَوْقَهُ[10]

“Hadis yang sanadnya terputus karena ada rawi yang tidak mendengar hadis tersebut dari rawi sebelumnya.”

Setelah itu, ulama muta’khkhirîn yang juga menyamakan definisi antara Hadis Mursal dan Hadis Munqathi’ adalah Imam Al-Baihaqi (w. 458). Imam Al-Baihaqi ini menyamakan antara definisi Hadis Mursal dan Hadis Munqathi’ bukan sebab apa-apa selain karena beliau adalah fanatik terhadap Imam Asy-Syafi’i. Sedangkan, Imam Asy-Syafi’i sendiri sebagai ulama salaf memberikan definisi bahwa hadis yang disandarkan Tabi’in pada Nabi saw. disebut dengan Hadis Munqathi’. Definisi ini memang sudah sesuai dengan kebutuhan zaman saat itu. Namun demikian, istilah mursal sendiri sebenarnya juga muncul dari Imam Asy-Syafi’i. Dialah yang pertama mencetuskan istilah mursal. Tepatnya, ketika beliau menjelaskan Hadis Munqathi’ ini dalam kitabnya, “Ar-Risâlah”. Itu bisa dilihat dari redaksi berikut ini,

فَمَنْ شَاهَدَ أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ مِنَ التَّابِعِيْنَ فَحَدَّثَ حَدِيْثًا مُنْقَطِعًا عَنِ النَّبِيِّ، اِعْتَبَرَ عَلَيْهِ بِأُمُوْر،ٍ مِنْهَا أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا أُرْسَلَ مِنَ الْحَدِيْثِ، فَإِنْ شَرَكَهُ فِيْهِ الْحُفَّاظُ الْمَأْمُوْنُوْنَ فَأَسْنَدُوْهُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ بِمِثْلِ مَعْنًى مَا رُوِىَ، كَانَتْ هَذِهِ دِلَالَةً عَلَى صِحَّةِ مَنْ قَبْلَ عَنْهُ وَحِفْظِهِ. وَإِنِ انْفَرَدَ بِإِرْسَالِ حَدِيْثٍ لَمْ يُشْرِكْهُ فِيْهِ مَنْ يُسْنِدُهُ… [11]

“Jika ada Tabi’in yang bertemu dengan sahabat Rasulullah saw., kemudian meriwayatkan suatu hadis munqathi’ dari Nabi saw. maka perlu diperhatikan beberapa hal. Di antaranya, mesti dilihat kemursalan hadis tersebut. Jika didalam memursalkannya itu sang rawi (Tabi’in) ditemani oleh rawi-rawi lain (dari Tabi’in)  yang hafizh dan tepercaya kemudian secara berjamaah mereka menyandarkan langsung pada Nabi saw. dengan makna redaksi yang sama dengan yang diriwayatkan sang rawi maka ini menjadi tanda bahwa orang sebelum sang rawi (Sahabat) memang benar mengucapkan itu dan ini menandakan pula bahwa sang rawi ini terjaga hapalannya. Tapi, jika sang rawi (Tabi’in) ini sendirian didalam memursalkan suatu hadis dan tidak ditemani seorang pun rawi lain yang menyandarkan periwayatannya pada Nabi saw….[12]

Inilah hal penting dan merupakan fakta yang harus diketahui, bahwa definisi Hadis Mursal (dan definisi-definisi lainnya) pada hakikatnya tidak stagnan. Ia terus mengalami perkembangan dan pembaruan. Oleh sebab itu, pengambilan definisi Hadis Mursal ini yang paling selamat adalah dari karya ulama muta’akhkhirîn karena mereka sudah menelaah, memberi koreksi, catatan, pengecualian dan penyempurnaan pada definisi-definisi yang disampaikan ulama mutaqaddimîn. Tapi, masalahnya ada orang yang kurang memerhatikan hal ini, apalagi baik karya mutaqaddimîn maupun muta’akhkhirîn sama-sama mudah didapat, ditelaah dan dirujuk.

Fakta di atas juga membuktikan bahwa antara definisi satu dengan definisi lain—dalam Ilmu Hadis—memiliki keterkaitan yang erat. Sehingga, seseorang yang tidak menguasai definisi masing-masing istilah dalam Ilmu Hadis, bisa terjerumus dalam pemahaman yang sempit. Dalam Ilmu Hadis ini, definisi memiliki posisi yang sangat penting. Jika sebuah definisi itu bergeser sedikit saja—dengan mengesampingkan salah satu atau dua faktor—maka bergeser pula kualitas suatu hadis. Dari yang awalnya ittishâl (sambung hingga ke Nabi saw.), bisa berubah menjadi mursal.

Selain ada keterkaitan antara masing-masing definisi, ada juga keterkaitan antara masing-masing istilah dalam Ilmu Hadis. Seperti yang terlihat dalam bagan ini,

Ulama muta’akhkhirin-lah yang dianggap paling berjasa memetakan istilah-istilah dalam Ilmu Hadis ini.[13] Seperti bagan di atas, pada awalnya ulama muta’akhkhirîn menemukan bahwa menurut ulama mutaqaddimîn di antara unsur yang membuat hadis itu dhaif adalah as-saqthu fi ar-râwi. Setelah, ulama muta’akhkhirîn meneliti fakta di “lapangan”, lantas mereka menemukan bahwa model as-saqthu itu ternyata banyak, ada yang zhahîr, ada pula yang khafî. Yang zhahîr ternyata juga macam-macam, ada yang saqth-nyaitu satu rawi, dua rawi berturut-turut dan tidak berturu-turut dan ada pula saqth karena rawinya disamarkan. Yang khafî juga begitu. Jadi, karena banyaknya model as-saqth inilah kemudian ulama muta’akhkhirîn secara kreatif membagi-bagi ke dalam istilah-istilah tersendiri. Pembagian istilah ini juga sangat penting, karena mereka tidak sekadar membagi namun juga nantinya ulama muta’akhkhirîn sekaligus menentukan kehujahan masing-masing hadis yang mereka istilahkan—berdasarkan ketersambungan sanadnya—itu.

Oleh sebab itu, sudah menjadi keharusan, khususnya bagi pelajar hadis untuk memperbanyak bacaan dan referensi dari ulama klasik, baik mutaqaddimîn maupun muta’akhkhirîn. Jika, ia hanya merujuk pada satu referensi saja, ia bisa tergerus arus. Apalagi, hadis sebagai sebuah disiplin ilmu, terus mengalami perkembangan dan sudah dipelajari ribuan atau mungkin jutaan orang, dari generasi ke generasi. Bahkan, orang-orang non-Muslim dari kalangan Orientalis juga ikut-ikutan mempelajari Ilmu Hadis ini. Dengan memperbanyak bacaan dan referensi ulama hadis itu, diharapkan pelajar hadis siap terjun di medan perang pemikiran atau ghazw al-fikri dengan orang-orang yang hendak menghancurkan disiplin ilmu Islam.

 

  • C.    Contoh Hadis Mursal

Adapun contoh Hadis Mursal adalah sebagai berikut;

حدثنا محمد بن المصفى حدثنا بقية عن الوضين بن عطاء عن يزيد بن مرثد المدعي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اَلْعَنْكَبُوْتُ شَيْطَانٌ فَاقْتُلُوْهُ.

            Hadis Mursal di atas, ada di dalam kitab Al-Marâsil karya Abu Daud. Hadis Mursal ini dhaif karena ibn Al-Mushaffa dan Baqiyyah adalah Rawi Mudallis. Adapun Al-Wadhin adalah rawi yang shadûq sayyi’ al-hifzh.[14] Sedangkan, Yazid ibn Martsad sendiri adalah Tabi’in yang tsiqah, ia memiliki banyak Hadis Mursal. Ini adalah salah satu Hadis Mursal darinya.

D.    Kitab-kitab Hadis Mursal

Karya ulama klasik mengenai kitab Hadis Mursal ini banyak. Dari sekian banyak itu terbagi lagi menjadi dua kategori. Pertama, kategori kitab yang berisi tentang hadis-hadis Mursal. Kedua, kitab yang berisi rawi-rawi dari Tabi’in yang memiliki atau meriwayatkan Hadis Mursal.

a.      Kitab yang Memuat Hadis Mursal

  1. Al-Marâsîl karya Abu Daud.
  2. Tuhfatul Asyrâf (bagian akhir) karya Al-Hafizh Al-Muzzi.
  3. Al-Jâmi’ Al-Kabîr (bagian akhir) karya Al-Imam As-Suyuthi.

b.      Kitab yang Memuat Rawi Hadis Mursal

  1. Al-Marâsîl karya Ibnu Abi Hatim
  2. Bayân Al-Mursal karya Abu Bakr Al-Bardiji
  3. At-Tafshîl li Mubhami Al-Marâsîl karya Al-Khatîb Al-Baghdadi
  4. Juz’ fi Al-Marâsîl karya Dhiya’uddin Al-Maqdisi
  5.  Juz’ fi Al-Marâsîl karya Ibnu ‘Abdilhadi Al-Maqdisi
  6. Jâmi’ At-Tahshîl li Ahkâm Al-Marâsîl karya Al-‘Ala’i
  7. Tuhfatu At-Tahshîl fi Dzikri Ruwati Al-Mursalîn karya Al-Hafizh Al-‘Iraqi

E.     Tingkatan Hadis Mursal

Syamsuddin As-Sakhawi adalah satu-satunya ulama ahli hadis yang membagi Hadis Mursal ke dalam beberapa tingkatan.[15] Pembagian ini, kemudian memudahkan para peneliti hadis untuk mengategorikan Hadis Mursal, sekaligus menentukan kualitasnya. Hanya saja, dalam tingkatan ini As-Sakhawi juga memasukkan hadis Mursal Ash-Shahâbi.[16] Meskipun, mayoritas ulama ahli hadis menyepakati bahwa Hadis Mursal terjadi hanya di thabaqah Tabi’in. Berikut ini pembagiannya:

  1. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Sahabat yang pernah mendengar hadis dari Nabi saw.
  2. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Sahabat yang pernah melihat Nabi saw. tapi belum pernah mendengar hadis dari Nabi saw.
  3. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Al-Mukhadram (pernah bertemu Nabi saw. dalam keadaan kafir, kemudian masuk Islam setelah Nabi saw. wafat)
  4. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Tabi’in yang mutqin seperti Ibnu Al-Musayyab.
  5. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Tabi’in yang sangat hati-hati dalam memilih guru seperti Asy-Sya’bi dan Mujahid.
  6. Hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Tabi’in yang gampang menerima riwayat hadis dari siapa saja seperti Al-Hasan Al-Bashri.

Adapun hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Tabi’in Muda seperti Qatadah, Humaid Ath-Thawil dan Az-Zuhri, kemungkinannya sangat kecil bahwa riwayat mereka benar-benar dari Sahabat. Kebanyakan, mereka meriwayatkannya dari Tabi’in Senior. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Hadis Mursal dari Tabi’in Muda sebagai Hadis Munqathi’.

Tapi, tingkatan di atas tidaklah paten. Artinya, dapat mengalami perubahan oleh karena beberapa sebab. Seperti, Hadis Mursal dari Al-Mukhadram belum tentu dan tidak selalu lebih tinggi dari Hadis Mursal yang diriwayatkan oleh Tabi’in yang mutqin. Terkadang, riwayat Hadis Mursal dari Tabi’in mutqin lebih kuat daripada Hadis Mursal yang diriwayatkan Al-Mukhadhram. Semua itu, terjadi karena beberapa sebab:

  1. Rawi yang sering meriwayatkan hadis dari rawi-rawi dhaif, Hadis Mursal yang diriwayatkannya cenderung dhaif.
  2. Rawi yang dikenal memiliki riwayat Hadis Mursal dengan sanad sahih, hadis Mursal yang diriwayatkannya lebih baik dari rawi yang tidak diketahui apakah ia memiliki Hadis Mursal dengan sanad sahih atau tidak.
  3. Rawi yang hapalannya kuat lebih utama karena ia menghapal semua yang ia dengar dan menancap di dalam benaknya.
  4. Seorang rawi yang bergelar Al-Hafizh selalu menyebut nama gurunya yang ia ketahui tsiqah. Tapi, jika ia meriwayatkan suatu Hadis Mursal lantas nama gurunya disamarkan, itu berarti menandakan ada “sesuatu” yang memaksa dia tidak menyebutkan nama gurunya.[17] Hal seperti ini merupakan salah satu tanda yang mengarah adanya unsur kedhaifan dalam riwayatnya.

F.     Sebab-sebab Terjadinya Irsâl

Mengetahui sebab-sebab munculnya Hadis Mursal ini juga penting. Dengan mengetahui sebab-sebab terjadinya irsâl, kita bisa menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi suatu hadis berikut rawinya. Bukan dalam arti menerima atau menolaknya. Hanya saja, pengetahuan kita pada sosok rawi menjadi lebih komprehensif dan mendalam. Kita menjadi aware atau mudrik terhadap sisi kemanusiaan mereka, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Dan, hal semacam ini tidak bisa kita dapatkan dari ulama-ulama hadis kontemporer. Kalaupun ada ulama hadis kontemporer (apalagi pelajar hadis) yang menyampaikan sebab-sebab baru adanya irsâl, paling itu hanya sebatas mengira-ngira saja. Adapun sebab-sebab tersebut adalah:

  1. Karena rawi Tabi’in yang meriwayatkan Hadis Mursal ini pernah mendengar suatu hadis yang diriwayatkan dari seklompok rawi-rawi yang tsiqah dan menurut dia hadis itu memang sahih. Maka, kemudian dia dengan sengaja meriwayatkan hadis itu—karena tahu hadisnya sahih—secara mursal dari gurunya.[18]
  2. Karena rawi Tabi’in yang meriwayatkan Hadis Mursal ini, lupa siapa yang menyampaikan hadis yang pernah ia dengar. Maka, ia terpaksa meriwayatkannya sendiri secara mursal.[19] Namun, rawi ini memiliki pendirian bahwa ia tidak meriwayatkan suatu hadis kecuali dari orang yang tsiqah. Seperti, Ibnu Al-Musayyab[20] dan Ibrahim An-Nukha’i. Mereka tidak akan meriwayatkan Hadis Mursal kecuali dari rawi yang tsiqah.[21]
  3. Jika seorang rawi Tabi’in tidak sedang meriwayatkan hadis, ia hanya menyampaikan hadis itu dalam rangka mengingat-ingat atau untuk kepentingan fatwa—yang dalam kondisi ini memang rawi tidak dituntut menyampaikan sanadnya—karena memang yang dibutuhkan dan yang penting saat itu adalah matannya.[22]
  4. Jika seorang rawi Tabi’in yakin bahwa ia pernah mendengar suatu hadis yang sahih dari salah satu guru dua guru yang sama-sama tsiqah, tapi sang rawi Tabi’in ini lupa tepatnya dari guru yang mana. Maka, kemudian ia meriwayatkan secara mursal karena tidak tahu pasti dari guru tsiqah yang mana.[23]

Masalahnya, apakah meriwayatkan Hadis Mursal dengan sengaja itu diperbolehkan? Jawabannya, boleh. Dengan syarat, sang rawi yang meriwayatkan Hadis Mursal itu tahu bahwa gurunya adalah ‘adil, baik menurut dirinya atau menurut rawi-rawi lain.[24]

G.    Kehujahan Hadis Mursal

Mengenai kehujahan Hadis Mursal ini ada 3 pendapat, yakni madzhab yang menerima Hadis Mursal, madzhab yang menolak Hadis Mursal dan madzhab yang menerima dan menolak Hadis Mursal dengan syarat. Berikut ini penjelasannya secara sekilas:

G.1. Madzhab yang Menerima Hadis Mursal

Madzhab yang menerima Hadis Mursal ini masih terbagi ke dalam lima pendapat yang berbeda yakni;

a)      Menerima secara mutlak Hadis Mursal dari Tabi’in dan generasi-generasi setelahnya. Mereka ulama muta’akhkhirin dari madzhab Hanafiah. Pendapat ini dinilai berlebihan oleh banyak ulama dan dianggap batil.[25]

b)      Menerima Hadis Mursal dari Tabi’in dan Atba’ At-Tabi’in kecuali (Hadis Mursal) yang diketahui berasal dari rawi yang tidak tsiqah maka tidak diterima. Ini adalah pendapatnya Isa ibn Iban, Abu Bakar Ar-Razi, Al-Bazdawi, dan Al-Qadhi Abdul Wahab Al-Maliki.[26]

c)      Menerima Hadis Mursal dari Tabi’in saja dengan tingkatan yang berbeda-beda berdasarkan kualitas Tabi’in tersebut. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta mayoritas pengikutnya dan Ahmad ibn Hanbal.[27]

d)     Menerima Hadis Mursal dari Tabi’in Senior saja dan tidak menerima dari Tabi’in Muda yang notabene sangat sedikit yang meriwayatkan hadis dari Sahabat. Ini adalah pendapat Ibn ‘Abdilbarr.[28]

e)      Ibnu Jarir Ah-Thabari, Abu Al-Faraj Al-Maliki dan Abu Bakar Al-Abhari, berpendapat bahwa Hadis Mursal dan Hadis Musnad tidak ada bedanya, sama-sama diterima sebagai hujah. Bahkan, mereka berpendapat jika ada dua hadis yang bertentangan yakni antara Hadis Mursal dan Hadis Musnad maka tidak ada tarjîh. Ini bertentangan dengan mayoritas pengikut Imam Malik dan para peneliti dari Madzhab Hanafi seperti Abu Ja’far At-Thahawi yang mendahulukan Hadis Musnad daripada Hadis Mursal. Sedangkan, ulama ahli hadis tetap melihat keterputusan sanad sebagai illat dalam hadis yang membuatnya tidak wajib diamalkan.[29] Adapun mayoritas pengikut madzhab Syafi’iah berpegang pada pendapat Ibn Abi Hatim, “Hadis-hadis Mursal tidak bisa dijadikan hujah kecuali didukung oleh sanad-sanad lain yang sahih dan muttashil.”[30]

Jumhur berpendapat berpendapat bahwa pada dasarnya illat-nya Hadis Mursal adalah jahâlatu ar-râwi atau tidak diketahuinya identitas sang rawi. Padahal, jahâlatu ar-râwi ini dianggap sebagai illat jika khawatir sang rawi yang tidak diketahui identitasnya itu adalah sosok yang tidak adil. Tapi, jika rawi yang tidak diketahui identitasnya itu adalah Sahabat, apakah masih ada kekhawatiran ia sosok yang tidak adil? Bukankah kekhawatiran itu bertentangan dengan kaidah yang disepakati ulama bahwa semua sahabat itu adil (kullu shahâbiyin ‘udûl).[31] Ini khusus untuk kasus ketika seorang sahabat memursalkan hadis yang tidak pernah ia dengar dari Nabi saw. Makanya ada kaidah, jika seorang Sahabat memursalkan hadis yang tidak pernah ia dengar dari Nabi saw. maka kemungkinan besar ia mendengarnya dari Sahabat lain. Al-Barra’ berkata,

ليس كلنا سمع حديث رسول الله e، كانت لنا ضيعة وأشغال، وكان الناس لم يكونوا يكذبون يومئذ فيحدث الشاهد الغائب[32]

“Tidak semua dari kita (Sahabat) ini mendengar langsung dari Rasulullah saw. Ketika itu di antara kita ada yang jarang bertemu (Nabi saw.) dan sibuk. Tapi, semua orang saat itu tidak ada yang berbohong maka (untuk mudahnya) yang hadir (di hadapan Nabi saw.) menyampaikan pada yang tidak hadir.”

            Anas bin Malik juga berkata,

ليس كلَّ ما نحدثكم عن رسول الله e سمعناه منه، ولكن حدثنا أصحابنا ونحن قوم لا يكذب بعضهم بعضاً[33]

“Tidak semua hadis yang kami sampaikan pada kalian dari Rasulullah saw. itu kami dengar langsung dari beliau. Tapi, sahabat-sahabat kamilah yang menyampaikannya pada kami. Dan, kami adalah kaum yang tidak berbohong satu sama lain.”

Tapi, ada kasus beberapa hadis telah diriwayatkan dan tersebar di kalangan Tabi’in Senior. Lalu, Sahabat Muda meriwayatkan hadis tersebut dari Tabi’in Senior itu. Kasus ini membuka kemungkinan bahwa kemursalan hadis itu bukan hanya karena rawi Sahabat yang tidak diketahui identitasnya, tapi bisa juga rawi dari kalangan Tabi’in yang notabene tidak dijamin keadilannya. Tapi, kasus semacam ini sangat sedikit.[34]

Dalil Penerimaan Hadis Mursal

a)      Surah At-Taubah, Ayat 122:

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah [9]: 122)

Wajhu Ad-Dilâlah

Ayat di atas menunjukkan bahwa jika sekelompok orang kembali pada kaumnya kemudian mengingatkan mereka tentang apa yang diucapkan Nabi saw. maka peringatan itu wajib diterima dengan lapang dada tanpa harus mengkritisi apakah hadis itu musnad atau mursal. Dan, ayat di atas tidak membedakan secara tegas antara apakah peringatan mereka itu disandarkan pada Nabi saw. atau tidak.

b)     Surah Al-Baqarah, Ayat 159:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلاَئِكَ يَلْعَنَهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ

“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat,” (QS. Al-Baqarah [2]: 159)

Wajhu Ad-Dilâlah

Ayat di atas menunjukkan bahwa at-tablîgh penyampaian risalah atau ajaran hukumnya wajib. Sehingga, seorang rawi yang tsiqah jika berkata, “Rasulullah saw. bersabda…” maka itu sudah clear atau jelas dan dia sudah meninggalkan sikap menyembunyikan ilmu. Dan, informasinya harus kita terima tanpa membedakan antara apakah itu musnad atau mursal.

c)      Surah Al-Hujurat, Ayat 6:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Wajhu Ad-Dilâlah

Ayat di atas memerintahkan pada kita untuk tabayyun terhadap informasi yang datang dari orang yang fasik, bukan orang yang adil dan tsiqah. Artinya, jika informasi itu datang dari orang yang adil dan tsiqah wajib kita menerimanya baik itu musnad atau mursal.

d)     Hadis Nabi saw.

Rasulullah saw. bersabda,

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَة

“Sampaikan dariku meski itu hanya satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah saw. bersabda,

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ

“Hendaklah yang hadir dari kalian menyampaikannya pada yang tidak hadir.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis-hadis di atas merupakan anjuran untuk menyampaikan hadis dari Nabi saw., tanpa harus dibedakan antara musnad dan mursal.

e)      Kaul Sahabat

اَلْمُسْلِمُوْنَ عُدُوْلٌ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا مَجْلُوْداً فِي حَدٍّ أَوْ مُجَرَّباً عَلَيْهِ شَهَادَة زُوْرٍ أَوْ ظَنِيْناً فِي وَلَاءٍ أَوْ قَرَابَةٍ

Ungkapan Umar ibn Al-Khaththab inilah yang dijadikan dasar, khususnya ulama ushul bahwa Hadis Mursal dari Tabi’in dan Atba’ Tabi’in itu diterima. Sebagaimna disebutkan dalam kitab Al-Fushûl fi Al-Ushûl karya Ahmad ibn Ali Ar-Razi Al-Jashshash.[35]

 f)       Ijma’

Menurut mereka, model irsâl dalam periwayatan hadis ini sudah muncul sejak masa Sahabat dan Tabi’in tanpa ada yang mengingkari atau menentangnya. Di antara Sahabat Muda, ada yang meriwayatkan banyak sekali hadis dari Nabi saw. dan diterima begitu saja oleh Tabi’in meskipun Tabi’in tahu bahwa di antara hadis yang diriwayatkan mereka itu tidak didengar secara langsung dari Nabi saw. Seperti riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair, An-Nu’man ibn Basyir dan lainnya.[36]

Hanya saja, belakangan muncul penelitian-penelitian baru yang berasal dari Barat untuk membuat keraguan di hati kaum Muslimin. Apalagi, mereka menyodorkan data-data yang masuk akal. Padahal, kondisi semacam itu tidak bisa cukup dinilai dengan penelitian terkini. Sebab, untuk mengetahui hakikat yang sebenarnya orang harus menjadi pelaku sejarah itu sendiri. Penerimaan Tabi’in terhadap riwayat hadis dari Sahabat Muda pada hakikatnya adalah bukti bahwa penilian hadis berdasarkan ketersambungan sanad tidak sejeli masa kini. Di masa kini, sanad dilihat dari kecurigaan, sedangkan di masa Sahabat dan Tabi’in sanad diterima dengan keimanan. Artinya, sudut pandang orang-orang sekarang dengan generasi terdahulu terhadap sanad itu berbeda jauh. Sehingga definisi irsâl yang berkembang saat ini melebihi fakta yang terjadi di masa Sahabat dan Tabi’in. Di kalangan Tabi’in Hadis Mursal menyebar ke mana-mana tanpa ada yang mempermasalahkan untuk diamalkan.[37] Hanya saja, setelah masa Tabi’in diketahuilah beberapa Tabi’in ternyata ada yang meriwayatkan hadis dari bukan Sahabat yang tidak memiliki shuhbah.[38]

Imam Abu Daud dalam kitabnya Ar-Risâlah ila Ahli Makkah berkata,

وأما المراسيل فقد كان يحتج به العلماء فيما مضى، مثل سفيان الثوري ومالك بن أنس، والأوزاعي حتى جاء الشافعي فتكلم فيها وتابعه على ذلك أحمد بن حنبل وغيره

“Adapun Hadis Mursal-Hadis Mursal maka dahulunya dijadikan hujah oleh ulama generasi awal, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik ibn Anas dan Al-Auza’i. Hingga kemudian datang Asy-Syafi’i yang kemudian mempermasalahkannya yang kemudian diikuti Ahmad ibn Hanbal dan yang lainnya.”[39]

             Imam Ibn Jarir Ath-Thabari juga berkata,

لَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى الْعَمَلِ بِاْلُمُرْسَلِ وَقَبُوْلِهِ حَتَّى حَدَثَ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ اَلْقَوْلُ بِرَدِّهِ (يشير إلى الإمام الشافعي رضي الله عنه)

“Orang-orang (terdahulu) tetap mengamalkan Hadis Mursal dan menerimanya, hingga setelah abad ke-2 Hijriah muncul pendapat yang menolaknya (maksud dari perkataan Imam Ath-Thabari ini adalah menunjuk pada Imam Asy-Syafi’I ra.).”

Imam Al-Qurthubi menegaskan,

وزعم الطبري أن التابعين بأسرهم أجمعوا على قبول المرسل ولم يأت عنهم انكاره ولا عن أحد الأئمة بعدهم إلى رأس المائتين كأنه يعني أن الشافعي أول من أبى من قبول المرسل.

“Imam Ath-Thabari meyakini bahwa Tabi’in sepakat menerima Hadis Mursal dan ketika itu tidak ada pengingkaran terhadapnya begitu juga imam-imam setelah mereka (Atba’ Tabi’in) hingga awal abad ke-2 Hijriah. Seolah-olah (Ath-Thabari hendak menegaskan) bahwasanya Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang pertama kali abai untuk menerima Hadis Mursal.”[40]

Tapi, kalangan yang menolak Hadis Mursal membahas dalil-dalil dan hujah di atas. Mereka kemudian memberikan counter dengan berbagai argumen yang masuk akal. Al-Hafizh Al-‘Ala’i dalam kitabnya “Jami’ At-Tahshîl” umpamanya, berpendapat bahwa Hadis Mursal ini masalahnya bukan Sahabat yang disembunyikan saja, tetapi juga terkait jahalah­-nya rawi. Maksudnya, seandainya rawi yang disembunyikan ini tidak diketahui identitasnya bagaimana mungkin orang bisa memastikan keadilannya? Keadilan seorang rawi itu diketahui setelah bisa dipastikan sosoknya. Sedangkan, dalam konteks Hadis Mursal ini, rawinya benar-benar tidak diketahui apakah itu Sahabat atau bukan. Beliau berkata,

لأن فيه جهالة العين والصفة ولأن من لا يعرف عينه كيف تعرف صفته من العدالة؟[41]

“Karena di dalam Hadis Mursal sosok dan sifat rawi tidak diketahui, sedangkan orang yang tidak diketahui sosoknya bagaimana mungkin dapat diketahui kualitas keadilannya?”

             Selanjutnya, tentang berhujah dengan surah Al-Hujurat ayat 6, ini dianggap tidak sesuai dengan konteks. Memang benar bahwa orang yang tidak fasik tidak perlu diragukan kabar berita yang disampaikannya. Tapi masalahnya, lagi-lagi adalah karena sosoknya ini tidak ada. Jadi, bukan masalah kebenaran berita yang dibawanya karena dari orang mukmin melainkan karena sosoknya tidak ada. Adapun hadis yang menyatakan, “Khairu an-nâs qarnî tsumma al-ladzîna yalûnahum…” adalah bersifat umum dalam arti ada orang yang hidup setelah generasi Sahabat yang juga dicap sebagai pribadi yang tidak baik seperti Al-Harits Al-A’war dan ‘Athiyyah ibn Sa’id Al-‘Aufi. Ini membuktikan bahwa pada generasi-generasi mulia (al-qurûn al-fâdhilah) ada beberapa—dalam arti tidak banyak—rawi yang bermasalah seperti Basyir ibn Ka’b sehingga Ibn ‘Abbas tawaqquf dengan Hadis Mursal yang diriwayatkannya. Sedangkan Basyir ibn Ka’b ini orang yang hidup di awal masa Tabi’in. Jika, di masa awal Tabi’in saja ada sosok-sosok yang diragukan keadilannya, apalagi sosok-sosok yang hidup pada generasi setelahnya? Makanya ‘Urwah ibn Az-Zubair berkata,

إني لأسمع الحديث أستحسنه، فما يمنعني من ذكره إلا كراهية أن يسمعه سامع فيقتدي به، وذلك أني اسمعه من الرجل لا أثق به قد حَدَّثَ به عمن أثق به، أو أسمعه من رجل أثق به قد حَدَّثّ به عَمَّنْ لا أثق به فلا أُحَدَّثُ به[42]

“Sungguh, saya telah mendengar hadis yang menurut saya bagus (hasan). Tapi, tidak ada yang membuatku urung mengungkapkannya kecuali khawatir ada orang yang mendengarnya lalu mengikuti. Sebab, di antara hadis itu ada yang sesungguhnya aku mendengarnya dari orang yang tidak aku anggap tsiqah namun meriwayatkannya dari orang yang aku anggap tsiqah. Atau, dari orang yang aku anggap tsiqah meriwayatkan dari orang yang tidak aku anggap tsiqah,maka aku tidak meriwayatkannya.”

Berangkat dari ungkapan ini kemudian Ibn ‘Abdilbarr di dalam kitabnya “At-Tamhîd” mengatakan bahwa berarti pada masa itu (al-qurûn al-fâdhilah) ada rawi tsiqah dan tidak tsiqah yang meriwayatkan hadis. Beliau berkata,

وفي خبر عروة هذا دليل على أن ذلك الزمان كان يحدث فيه الثقة وغير الثقة[43]

“Dari khabar ‘Urwah ini membuktikan bahwa di masa itu ada rawi yang meriwayatkan hadis yang mana derajatnya ada yang tsiqah dan tidak tsiqah.”

 

G.2. Madzhab yang Menolak Hadis Mursal

Madzhab yang menolak Hadis Mursal ini masih terbagi ke dalam tiga pendapat yang berbeda yakni;

  1. Menolak semua Hadis Mursal kecuali Mursal Ash-Shahabi. Ini adalah pendapat jumhur ahli hadis, sebagian ahli fikih dan ahli ushul. Ibnu Shalah berkata,

وما ذكرناه من سقوط الاحتجاج بالمرسل، والحكم بضعفه، هو المذهب الذي استقر عليه آراء جماهير حُفَّاظ الحديث ونُقَّاد الأثر، وقد تداولوه في تصانيفهم[44]

“Pendapat kita tentang tidak sahnya berhujah dengan Hadis Mursal dan menghukuminya sebagai hadis dhaif adalah madzhab yang diputuskan oleh jumhur Huffâzh Al-Hadîts dan para peneliti atsar. Mereka pun telah mendiskusikannya dalam karya-karya mereka.”

  1. Menolak Hadis Mursal secara mutlak, apapun itu meski Mursal Ash-Shahabi. Ini adalah pendapat Abu Ishak Al-Isfira’ dan beberapa orang saja.[45]
  2. Tidak menerima Hadis Mursal kecuali jika dia mendapat persetujuan dari dan diterima oleh ijma’ ulama. Ini adalah pendapat Ibn Hazm.

Dalil Penolakan Hadis Mursal

a)      Surah Al-Isrâ’, ayat 36

وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isrâ’ [17]: 36)

Wajh Ad-Dilalâh

Orang yang menerima berita dari orang yang tidak diketahui identitasnya apakah dia adil atau tidak berarti telah mengikuti sesuatu yang tidak diketahui.

b)     Hadis Riwayat Ibn Mas’ud

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا، فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغ أوْعَى مِنْ سَامِعٍ (أخرجه الترمذي)

Abdullah ibn Mas’ud berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah swt. akan membuat berseri-seri orang yang mendengar sesuatu dari kita kemudian menyampaikannya kembali (persis) seperti yang ia dengar. (Mengingat) betapa banyak (kasus yang menunjukkan bahwa) orang yang diberitahu lebih teguh dan hapal daripada orang yang mendengar langsung.’” (HR. At-Turmudzi)

c)      Kaul Sahabat

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ t أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ إِذَا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ e حَدِيْثاً نَفَعَنِيَ اللهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِيَ بِهِ، وَإِذَا حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اِسْتَحْلَفْتُهُ، فَإِذَا حَلَفَ لِي صَدَقْتُهُ، وَإِنَّهُ حَدَّثَنِي أَبُوْ بَكْرٍ وَصَدَقَ أَبُوْ بَكْرٍ (أخرجه الترمذي)

Ali ibn Abi Thalib berkata, “Jika aku mendengar hadis dari Rasulullah saw. maka Allah akan memberikan manfaat pada kami dengan hadis itu sesuai yang Dia kehendaki. Tapi, jika ada seorang dari sahabat beliau (Rasulullah saw.) menyampaikan suatu hadis padaku maka aku meminta sumpahnya. Jika dia bersumpah padaku (akan kebenaran hadis yang ia sampaikan) maka aku membenarkannya. Dan, sesungguhnya Abu Bakar (sering) menyampaikan hadis padaku, tapi Abu Bakar adalah orang yang jujur.” (HR. At-Turmudzi)

Wajh Ad-Dilalâh

Atsar di atas membuktikan bahwa salaf ash-shâlih dari kalangan Sahabat dan Tabi’in sangat hati-hati dalam menerima kabar atau riwayat. Mereka menelitinya dan bahkan  memperhatikan ketersambungannya.

d)     Ijma’

Semua ulama sepakat bahwa dalam periwayatan dibutuhkan keadilan rawi dan sifat itu harus diketahui. Tapi, bagaimana dengan fakta yang menunjukkan bahwa ternyata ada Tabi’in yang meriwayatkan dari guru yang dhaif dan tidak dhaif? Inilah yang kemudian membuat banyak ulama menolak Hadis Mursal. Sebab, Hadis Mursal yang mereka sampaikan bisa jadi dari guru yang hadisnya tidak boleh diterima. Oleh sebab itu, harus diketahui identitas sang rawi itu. Tapi, kenyataannya orang tidak bisa meneliti hal itu karena sosoknya rawi memang tidak wujud. Ibnu ‘Abdilbarr berkata,

وإنما ذكر في قسم المردود للجهل بحال المحذوف، لأنه يحتمل أن يكون صحابياً، ويحتمل أن يكون تابعياً، وعلى الثاني يحتمل أن يكون ضعيفاً، ويحتمل أن يكون ثقة. وعلى الثاني يحتمل أن يكون حمل عن صحابي، ويحتمل أن يكون حمل عن تابعي آخر[46]

“Adapun sebab (Hadis Mursal) dimasukkan ke dalam bagian hadis yang ditolak adalah karena tidak bisa diketahuinya identitas rawi yang “dibuang”. Sehingga, memungkinkan rawi yang “dibuang” itu adalah Sahabat dan bisa juga Tabi’in. Oleh karena itu, (jika memang dari kalangan Tabi’in), memungkinkan dia itu adalah dhaif atau bisa juga tsiqah. Kemungkinan lainnya, hadis itu diriwayatkan dari Sahabat (ke sahabat) dan bisa juga dari Tabi’in (ke Tabi’in) yang lain.”

             Bahkan di dalam kitab “At-Tamhîd” Ibnu ‘Abdilbarrberkata, “Seandainya Hadis Mursal itu bisa diterima (sebagai hujah), tentu saja riwayat Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i dan yang lainnya dari Nabi saw. juga bisa diterima. Jika hal itu sudah diperbolehkan maka akan diperbolehkan juga riwayat orang-orang yang hidup setelah mereka (dari Nabi saw.) hingga masa sekarang. Jika sudah begitu, gugurlah hakikat hadis yang sebenarnya.”[47] Di kitab lain, yakni “Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab” Imam An-Nawawi berkata,

ودليلنا في رد المرسل مطلقا انه إذا كانت رواية المجهول المسمى لا تقبل لجهالة حاله فرواية المرسل أولي لان المروى عنه محذوف مجهول العين والحال ثم ان مرادنا بالمرسل هنا ما انقطع اسناده[48]

“Alasan kami menolak Hadis Mursal sudah tidak bisa diganggu gugat. Sebab, kenyataannya, jika suatu hadis itu dalam sanadnya ada orang yang tidak diketahui sosoknya (meski namanya ada) saja tidak diterima dengan alasan tidak bisa diketahui bagaimana sifat sang rawi, maka Hadis Mursal harus lebih ditolak. Alasannya, karena rawi (dalam Hadis Mursal itu) dibuang dan tidak diketahui sosok maupun sifatnya. Adapun maksud Hadis Mursal menurut kami adalah hadis yang sanadnya terputus.”

Selain mereka, Imam Ahmad ibn Hanbal juga tidak menerima Hadis Mursal, bahkan beliau lebih memilih Hadis Mauquf. Berikut ini dalilnya,

أخبرني محمد بن موسى ان إسحاق بن إبراهيم حدثهم قال قلت لأبي عبد الله حديث مرسل عن النبي صلى الله عليه وسلم برجال ثبت احب إليك أو حديث عن بعض الصحابة والتابعين متصل برجال ثبت قال أبو عبد الله عن الصحابة اعجب الي[49]

Muhammad ibn Musa mengabarkan padaku bahwa Ishaq ibn Ibrahim bercerita pada mereka, “Aku pernah betanya pada Abu ‘Abdillah (Ahmad ibn Hanbal), ‘Mana yang Anda sukai, antara Hadis Mursal dari Nabi saw. dengan rawi-rawi yang tsabat atau hadis dari Sahabat dan Tabi’in muttashil dengan rawi-rawi yang tsabat? Abu ‘Abdillah menjawab, “Yang dari Sahabat lebih aku kagumi.”  

             Tapi, jika memang tidak ada lagi dalil yang bisa menjadi hujah, maka Imam Ahmad ibn Hanbal akan menggunakan Hadis Mursal atau hadis dhaif sekalipun. Sebagaimana yang dikabarkan Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “I’lâm Al-Muwaqi’în”.[50] Selain Imam Ahmad, Imam Abu Daud juga menjadikan Hadis Mursal sebagai alternatif terakhir. Beliau berkata,

فإذا لم يكن مسندٌ غير المراسيل ولم يوجد السند فالمرسل يحتج به وليس هو مثل المتصل في القوة[51]

“Jika tidak ada hadis musnad melainkan hadis-hadis mursal yang tidak memiliki sanad, maka Hadis Mursal bisa menjadi hujah. Tapi, tetap saja ia tidak bisa dianggap sekuat hadis muttashil.”

             G.3. Madzhab yang Menerima/Menolak Hadis Mursal dengan Syarat

Madzhab yang menolak atau menerima Hadis Mursal dengan syarat ini terbagi ke dalam lima pendapat yang berbeda yakni;

a)      Jika al-mursil (rawi yang memursalkan) itu diketahui orangnya atau jelas sekali bahwa dia tidak meriwayatkan Hadis Mursal kecuali dari guru yang tsiqah maka riwayat mursalnya diterima. Wa illâ fa lâ. Pendapat inilah yang kemudian dikuatkan oleh Al-‘Ala’i dalam kitabnya, “Jami’ At-Tahshîl”. Pendapat ini merupakan madzhab yang dipilih oleh Yahya ibn Sa’id Al-Qaththan, Ali ibn Al-Madini dan yang lainnya.[52]

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani juga berkata,

لم تزل الأئمة يحتجون بالمرسل إذا تقارب عصر المرسل والمرسل عنه ولم يعرف المرسل بالرواية عن الضعفاء[53]

“Para imam selalu berhujah dengan Hadis Mursal jika masa antara al-mursil (rawi yang memursalkan) dan al-musal ‘anhu (rawi yang riwayatnya dimursalkan) berdekatan. Selain itu, al-mursil tidak diketahui pernah meriwayatkan dari guru-guru yang dhaif.”

 

b)      Seandainya a-mursil itu adalah dari a’immatu an-naqli yang al-marjûh ilaihim fi at-ta’dîl wa tajrîh maka Hadis Mursalnya diterima. Ini adalah pendapat Isa ibn Aban dari madzhab Hanafi, Abu Bakar Ar-Razi, Al-Qadhi ‘Abdul Wahib dari madzhab Maliki dan Abu Walid Al-Baji. Bahkan, Abu Walid Al-Baji menjadikan ini sebagai syarat mutlak untuk menerima Hadis Mursal.[54]

c)      Jika Hadis Mursal itu berasal dari orang yang sahih dalam jarh dan ta’dîl maka itu diterima, baik itu hadisnya musnad atau mursal. Ini adalah pendapat Ibn Burhan dan dia sendirian dalam pendapatnya.[55]

d)     Menerima Hadis Mursal dari Tabi’in Senior dengan ketentuan yang berlaku bagi al-mursal dan al-mursil. Ini adalah pilihan Imam Asy-Syafi’i dan inilah ketentuan yang dipuji oleh Al-Hafizh Ibn Rajab dengan perkataan, “Wahuwa kalam hasanun jiddan”.[56] Berikut ini ketentuannya;

Ketentuan bagi Hadis Mursalnya harus tidak bertentangan dengan salah satu hal berikut:

  1. Harus ada riwayat lain dari rawi yang hâfizh dan tepercaya (huffâzh al-ma’munûn) yang semakna dengan Hadis Mursal tersebut.
  2. Atau ada Hadis Mursal lain yang muwafiq yang diriwayatkan dari rawi selain Hadis Mursal yang dimaksud.
  3. Ada perkataan sebagian sahabat yang sesuai dengan Hadis Mursal tersebut.
  4. Tidak ada tiga syarat di atas, tapi semua ulama sepakat menerimanya.

Ketentuan bagi rawi yang meriwayatkan Hadis Mursal adalah sebagai berikut:

  1. Rawi tidak pernah atau tidak diketahui meriwayatkan hadis dari guru yang tidak diterima riwayatnya sebab majhûl atau majrûh.
  2. Rawi bukanlah termasuk orang yang riwayatnya bertentangan dengan al-huffazh. Jika, ia termasuk orang yang riwayatnya bertentangan dengan al-huffazh maka Hadis Mursalnya tidak diterima.

e)      Menerima semua Hadis Mursal dari Tabi’in, baik Tabi’in Senior maupun Tabi’in Muda dengan berpatokan pada ketentuan yang dibuat Imam Asy-Syafi’i di atas. Ini adalah pendapatnya Al-Khatib Al-Baghdadi dan mayoritas fukaha.

H. Penutup

Jika ada kesalahan dalam makalah ini mohon dimaklumi dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kelebihannya, itu semua tidak lain datangnya dari Allah swt. Terakhir, semoga guru kita dan keluarganya yang mengajarkan ilmu ini (Dr. Syahabuddin) mendapatkan barakah dalam hidupnya, di dunia dan akhirat serta mendapat ridha dari Allah swt. Amin.

Wallâhu a’lamu bish shawâb

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abu ‘Amr Utsman ibn Abdurrahman (Ibnu Shalah), ‘Ulûm Al-Hadîts, (Mesir: Maktabah Al-Farabi, 1984)

Abu Muhammad ibn Abi Hatim, Al-Marâsîl, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1397 H)

Al-‘Ala’i, Abu Sa’id, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, (Beirut: ‘Alam Al-Kutub, 1986)

Al-‘Asqalani, Ibnu Hajar, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu al-Fikr fi Mushtalahi Ahli al-Atsar, (Riyadh: Mathba’ah Safir, 1422 H)

______, Ibnu Hajar, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, (Saudi Arabia: Al-Jami’ah Al-Islamiyah, 1984)

Badruddin ibn Bahadur, An-Nukat ‘Ala muqaddimati ibni Shalah, (Riyadh: Adhwa’ As-Salaf, 1998)

Al-Baghdadi, Abu Bakr Al-Khatib, Târîkh Baghdâd, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, t. th.)

______, Abu Bakr Al-Khatib, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi Ar-Riwâyah (Madinah: Al-Maktabah Al-‘Ilmiyah, t. th.)

______, Abu Bakr Al-Khatib, Al-Jâmi’ li Akhlâqi Ar-Râwi, (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1403 H)

Al-Jaza’iri, Thahir, Taujîh An-Nazhr Ila Ushûl Al-Atsar, (Halb: Maktabah Al-Mathbu’at Al-Islamiyah, 1995)

Al-Jashshash, Ahmad ibn Ali Ar-Razi, Al-Fushûl fi Al-Ushûl, (Kuwait: Wuzarah Al-Auqaf wa Asy-Syu’un Al-Islamiyah, 1985)

Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, t. th)

Ibnu ‘Abdilbarr, At-Tamhîd limâ fî Al-Muwaththa’ min Al-Ma’âni wa Al-Masânid, (Madinah: Muassasah Al-Qurthubah, t.th.)

Muhammad Khalaf Salamah, Lisân Al-Muhadditsîn, (Saudi Arabia: Multaqa Ahli Hadits, 2007)

Muhammad ibn Abi Bakr, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, I’lâm Al-Muwaqi’în, (Beirut: Dar Al-Jîl, 1973)

Al-Minawi, Abdurrauf, Al-Yawâqît wa Ad-Durar fi Syarh Nukhbati ibn Hajar, (Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd, 1999)

An-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin, Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar Al-Fikr, t. th.)

Al-Qurthubi, Abu ‘Amr An-Namri, At-Tamhîd lima fi Al-Muwaththa’ min Al-Ma’âni wa Al-Masânid, (Madinah: Muassasah Al-Qurthubah, t. th.)

As-Sakhawi, Syamsuddin Muhammad, Fath Al-Mughîts Syarh Alfiyati Al-Hadîts, (Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1403 H)

Sulaiman ibn Al-‘Asy’ats Abu Daud, Risâlah Abi Daud ila Ahli Makkah wa Ghairihim fi Washfi Sunanihi, (Beirut: Dar Al-‘Arabiyah, t.th)

Asy-Syafi’i, Al-Imam Al-Mathlabi Muhammad ibn Idris, Ar-Risâlah, (Mesir: Dar Al-Hadis, 2005)

Zainuddin Abu Al-Faraj, Ibnu Rajab, Syarah ‘Ilal At-Turmudzi, (Madinah: Multaqa Ahl Al-Hadits, t. th.)

 


[1] Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, t. th) Jil. XI. Hal. 281.

[2] Ibnu Manzhur, Lisân Al-‘Arab, jil. XI. Hal. 281.

[3] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu al-Fikr fi Mushtalahi Ahli al-Atsar, (Riyadh: Mathba’ah Safir, 1422 H) Hal. 100.

[4] Abdurrauf Al-Minawi, Al-Yawâqît wa Ad-Durar fi Syarh Nukhbati ibn Hajar, (Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd, 1999) Jil. I. Hal. 498.

[5] Thahir Al-Jaza’iri, Taujîh An-Nazhr Ila Ushûl Al-Atsar, (Halb: Maktabah Al-Mathbu’at Al-Islamiyah, 1995) Jil. II. Hal. 555.

[6] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, (Saudi Arabia: Al-Jami’ah Al-Islamiyah, 1984) Jil. II. Hal. 546.

[7] Muhammad Khalaf Salamah, Lisân Al-Muhadditsîn, (Saudi Arabia: Multaqa Ahli Hadits, 2007) Jil. V. Hal. 78.

[8] Dalam usia 80 tahun. Lihat, Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, t. th.) Jil. XII. Hal. 39.

[9] Syamsuddin Muhammad As-Sakhawi, Fath Al-Mughîts Syarh Alfiyati Al-Hadîts, (Libanon: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1403 H) Jil. I. Hal. 137.

[10] Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi Ar-Riwâyah (Madinah: Al-Maktabah Al-‘Ilmiyah, t. th.) Hal. 21.

[11] Al-Imam Al-Mathlabi Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, Ar-Risâlah, (Mesir: Dar Al-Hadis, 2005) Hal. 261.

[12] Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berpendapat bahwa kata irsâl yang digunakan ahli hadis mutaqaddimîn memang mencakup Hadis Munqathi’ dan Hadis Mursal. (Lihat, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu Al-Fikr fî Mushthalâhi Ahli Al-Atsar, [Riyadh: Maktabah Al-Madinah Ar-Raqmiyah, 1422 H] Ha. 65) Mungkin, inilah yang kemudian membuat banyak ahli hadis muta’akhkhirîn menyamakan antara Hadis Munqathi’ dan Hadis Mursal.

12 Hadis yang salah satu rawi dalam sanadnya gugur atau yang gugur lebih dari satu rawi dengan syarat thabaqah-nya tidak berurutan. Lihat, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu Al-Fikr fî Mushthalâhi Ahli Al-Atsar, hal. 102.

13 Yaitu:

ما روى عن التابعى ومن دونه موقوفا عليه من قوله أو فعله

Hadis yang diriwayatkan oleh Tabi’i dan generasi setelahnya secara mauquf, baik itu berupa perkataan atau perbuatan. Lihat, Al-Khatîb Al-Baghdadi, Al-Kifâyah fî ‘Ilmi Ar-Riwayah, (Maadinah: Maktabah Al-‘Ilmiyah, t.th.) Hal. 22.  

14 Yaitu:

الذي حذف من أول إسناده واحد فأكثر

“Hadis yang dari awal sanadnya dibuang satu rawi atau lebih.” Hadis Mua’llaq ini bisa menjadi sahih jika ada riwayat lain yang menunjukkan bahwa sanadnya muttashil. Lihat, Badruddin ibn Bahadur, An-Nukat ‘Ala muqaddimati ibni Shalah, (Riyadh: Adhwa’ As-Salaf, 1998) Jil. I. Hal. 97.    

15 Yaitu:

ما روي الراوي عمن سمع منه ما لم يسمع منه بالصيغة الموهمة

“Hadis yang diriwayatkan rawi dari seorang guru—yang memang ia pernah mendegar hadis darinya—dengan redaksi seolah mendengar langsung. Padahal (khusus untuk hadis itu) ia tidak pernah mendengarnya secara langung.” Lihat, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu al-Fikr fi Mushtalahi Ahli al-Atsar, hal. 41.    

16 Yaitu:

ما روي الراوي عمن عاصره ولم يسمع منه بالصيغة الموهمة

“Hadis yang diriwayatkan rawi dari seorang guru yang semasa dengannya, dengan redaksi seolah mendengar langsung padahal ia tidak pernah mendengar langsung dari sang guru. Lihat, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu al-Fikr fi Mushtalahi Ahli al-Atsar, hal. 41.   

[14] Shadûq sendiri menurut ulama mutaqaddimîn dan muta’akhkhirîn adalah istilah yang disematkan pada rawi yang derajat ke-tsiqah-annya berada di paling bawah. Ia sekelas dengan rawi yang ‘adl dan dhabith, tapi ke­-dhabith-annya lemah. Atau, tsiqah tapi ghairu mutqin artinya tidak menutup kemungkinan ada cacat. Rawi yang shadûq ini, selama riwayatnya tidak bertentangan dengan rawi yang lebih tsiqah, hadisnya masih bisa dijadikan hujah. Ulama muta’akhkhirîn secara mutlak mengakui periwayatan rawi yang shadûq ini. Tapi, ulama mutaqaddimîn masih pilih-pilih, tergantung pada hasil seleksi dan koreksi (amârât naqdiyah) mereka yang sangat jeli dan teliti dan itu tidak mungkin mampu dikerjakan oleh ulama muta’akhkhirîn. Lihat, Muhammad Khalaf Salamah, Lisân Al-Muhadditsîn,jil. III. Hal. 337-338.   

[15] Syamsuddin As-Sakhawi, Fath Al-Mughîts Syarh Alfiyati Al-Hadîts, jil. I. Hal. 155.

[16] Hadis Mursal Shahabi ini bahkan tidak diterima sebagai hujah oleh Ibnu ‘Abbas, Ibn Az-Zubair, Nu’man ibn Basyir dan beberapa Sahabat Muda lain yang kebanyakan meriwayatkan dari Sahabat Senior karena mereka tidak mendengar hadis secara langsung dari Nabi saw. kecuali beberapa hadis saja. Lihat, Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, (Beirut: ‘Alam Al-Kutub, 1986) Hal. 36.

[17] Ibnu Rajab Al-Hanbali, Syarh ‘Ilal At-Turmudzi li Ibni Rajab, jil. I. Hal. 195.

[18] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. Hal. 555-556.

[19] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. Hal. 555-556.

[20] Dalam kitab Al-Marâsil karya Ibnu Abi Hatim disebutkan begini,

حَدّثَنِيْ أَبِيْ قَالَ سَمِعْتُ يُوْنُسَ بْنِ عَبْدِ الأَعْلَى اَلصَّدَفِي يَقُوْلُ قَالَ لِي مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسِ الشَّافِعِي نَقُوْلُ اَلْأَصْلُ قُرْآنٌ أَوْ سُنَّةٌ فَإِنْ لَمْ يِكُنْ فَقِيَاسٌ عَلَيْهِمَا وَإِذَا اتَّصَلَ الْحَدِيْثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَحَّ الإِسْنَادُ بِهِ فَهُوَ سُنَّةٌ وَلَيْسَ الْمُنْقَطِعُ بِشَيْءٍ مَا عَدَا مُنْقَطِعُ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ أَبُوْ مُحَمَّد ابْنِ أَبِي حَاتِم رَحِمَهُ اللهُ يَعْنِي مَا عَدَا مُنْقَطِعُ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبَ أَنْ يُعْتَبَرَ بِهِ

“Bapakku (Abu Hatim Ar-Razi) pernah mengabariku (Abu Muhammad ibn Abi Hatim), ia berkata, “Aku pernah mendengar Yunus ibn Abdul A’la Ash-Shadafi berkata, ‘Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i pernah berpendapat begini, ‘Menurut saya, sumber utama segala sesuatu itu (ayat) Al-Qur’an atau Sunnah, jika tidak ada (dalil di keduanya) maka dikiaskan pada (dalil yang ada di) keduanya. Dan, jika hadis itu (sanadnya) bersambung hingga Rasulullah saw. dengan sanad yang sahih maka itu dinamakan Sunnah. Jika (sanad di thabaqah Sahabatnya) terputus maka itu tidak masalah, kecuali keterputusan (sanad di thabaqah Sahabat) yang dibuat oleh (Tabi’in) selain Sa’id ibn Al-Musayyab. Abu Muhammad ibn Abi Hatim berkata, ‘Maksudnya, keterputusan (sanad Sahabat) yang dibuat (Tabi’in) selain Sa’id ibn Al-Musayyab mesti dipertimbangkan.’” Lihat, Abu Muhammad ibn Abi Hatim, Al-Marâsîl, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1397 H) Hal. 6.

[21] Tapi, ada catatan untuk Ibrahim An-Nukha’i. Untuk Hadis Mursal yang ia riwayatkan dari Ibnu Mas’ud dianggap ulama dhaif. Begitu juga, riwayat Hadis Mursal yang ia riwayatkan dari Ali ra., Syu’bah menganggapnya dhaif. Sedangkan, Yahya ibnu Ma’in menganggap semua Hadis Mursal riwayat Ibrahim An-Nukha’i sahih kecuali hadis tâjir al-bahrain dan al-qahqahah. Lihat, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. 556.

[22] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. Hal. 555-556.

[23] Muhammad Khalaf Salamah, Lisân Al-Muhadditsîn,jil. II. Hal. 62.    

[24] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. Hal. 557.

[25] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 33.

[26] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 33.

[27] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 34.

[28] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 34.

[29] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 34.

[30] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 36.

[31] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 36.

[32] Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Jâmi’ li Akhlâqi Ar-Râwi, (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1403 H) Jil. I. Hal. 117.

[33] Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi Ar-Riwâyah, hal. 386.

[34] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 36.

[35] Ahmad ibn Ali Ar-Razi Al-Jashshash, Al-Fushûl fi Al-Ushûl, (Kuwait: Wuzarah Al-Auqaf wa Asy-Syu’un Al-Islamiyah, 1985) Jil. III. Hal. 147.

[36] Hatim Ibn ‘Arif Al-‘Auni, Mabâhits fi Tahrîri Ishtilâhi Al-Hadîts Al-Mursal wa Hujjiyatihi ‘inda As-Sâdât Al-Muhadditsîn, hal. 20.

[37] Hatim Ibn ‘Arif Al-‘Auni, Mabâhits fi Tahrîri Ishtilâhi Al-Hadîts Al-Mursal wa Hujjiyatihi ‘inda As-Sâdât Al-Muhadditsîn, hal. 20.

[38] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 38.

[39] Sulaiman ibn Asy’ats Abu Daud, Risâlah Abi Daud ila Ahli Makkah wa Ghairihim fi Washfi Sunanihi, (Beirut: Dar Al-‘Arabiyah, t.th.) Hal. 24.

[40] Abu ‘Amr An-Namri Al-Qurthubi, At-Tamhîd lima fi Al-Muwaththa’ min Al-Ma’âni wa Al-Masânid, (Madinah: Muassasah Al-Qurthubah, t. th.) Hal. 4.

[41] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 65.

[42] Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi Ar-Riwâyah, hal. 32.

[43] Ibnu ‘Abdilbarr, At-Tamhîd limâ fî Al-Muwaththa’ min Al-Ma’âni wa Al-Masânid, (Madinah: Muassasah Al-Qurthubah, t.th.) Hal. 39.

[44] Abu ‘Amr Utsman ibn Abdurrahman (Ibnu Shalah), ‘Ulûm Al-Hadîts, (Mesir: Maktabah Al-Farabi, 1984) Hal. 31.

[45] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 36.

[46] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Nuzhatu An-Nazhr fi Taudhîhi Nukhbatu Al-Fikr fî Mushthalâhi Ahli Al-Atsar, hal. 101.

[47] Ibnu ‘Abdil Barr, At-Tamhîd limâ fî Al-Muwaththa’ min Al-Ma’âni wa Al-Masânid, hal. 6.

[48] Abu Zakariya Muhyiddin An-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar Al-Fikr, t. th.) Jil. I. Hal. 60.

[49] Abu Bakr Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi Ar-Riwâyah, hal. 393.

[50] Muhammad ibn Abi Bakr, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, I’lâm Al-Muwaqi’în, (Beirut: Dar Al-Jîl, 1973) Jil. I. Hal. 31.

[51] Sulaiman ibn Al-‘Asy’ats Abu Daud, Risâlah Abi Daud ila Ahli Makkah wa Ghairihim fi Washfi Sunanihi, (Beirut: Dar Al-‘Arabiyah, t.th) Hal. 25.

[52] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 38.

[53] Syamsuddin As-Sakhawi, Fath Al-Mughîts Syarh Alfiyati Al-Hadîts, (Lebanon: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah, 1403 H) Jil. I. Hal. 140.

[54] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, An-Nukat ‘ala Kitâb ibni Shalâh, jil. II. Hal. 551.

[55] Abu Sa’id Al-‘Ala’i, Jâmi’ At-Tahshîl fî Ahkâm Al-Marâsil, hal. 92.

[56] Zainuddin Abu Al-Faraj, Ibnu Rajab, Syarah ‘Ilal At-Turmudzi, (Madinah: Multaqa Ahl Al-Hadits, t. th.) Jil. 1. Hal. 56.