Codicology atau Codicologie atau Kodikologi

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Kodikologi atau Codicology atau codicologie, yang berasal dari dua bahasa codex (Latin) dan logia (Yunani) adalah istilah yang sebenarnya sudah diusulkan sejak tahun 1944 oleh seorang ahli bahasa Yunani dan Prancis yang bernama Alphonse Dain. Tetapi istilah ini menjadi populer dan meluas lima tahun kemudian (1949) ketika bukunya yang berjudul “Les Manuscript” terbit dan dipasarkan. Menurut Alphonse Dain kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan tidak mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Adapun tugas dan wilayah jelajah ilmu ini adalah meneliti sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, tempat penyalinan dan penulisan naskah (skriptorium), tempat penyimpanan naskah, penyusunan katalog, perdagangan naskah dan penggunaan naskah.[1] Atau singkatnya Kodikologi ini adalah ilmu bantu dalam filologi untuk mengetahui fisik daripada manuskrip. Oleh sebab itu, Stefanie Brinkmann menulis dalam pendahuluannya pada sebuah Sub Bab “Codicology” dalam bukunya yang berjudul “From Codicology to Technology” sebagai berikut,

 “Besides the importance of the manuscript’s content, the artistry they display, and their way of production are other parts of the cultural history of book production. The usage certain writing materials, inks, and bindings provides knowledge about materials available dan trade contacts, apart from being crucial for dating in codicology.”[2]

Prof. Dr. Nabilah Lubis dalam bukunya, “Naskah Teks dan Metode Penelitian Filologi” mendefinisikan Kodikologi sebagai ilmu yang mempelajari segala hal tentang naskah klasik.[3] Kodikologi mempelajari seluk beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan dan perkiraan penulisan.[4]   Sedangkan, dalam Wikipedia.com Kodikologi diistilahkan sebagai berikut:

Codicology is the study of books as physical objects, especially manuscripts written on parchment or paper in codex form. It is often referred to as ‘the archaeology of the book’, concerning it self with the materials (parchment, sometimes referred to as membrane or vellumpaper, pigments, inks and so on), and techniques used to make books, including their binding. [5]

Kodikologi adalah studi yang objeknya adalah fisik buku, khususnya manuskrip yang tertulis di atas kertas dengan format codex. Studi ini sebenarnya mengarah pada arkeologi buku karena konsentrasinya pada bahan—seperti perkamen atau serat kulit buku, jenis kertas, pigmen atau zat warna, tinta dan lain sebagainya—dan teknik pembuatan buku, termasuk proses penjilidannya.

Sedangkan, dalam bukunya yang berjudul “Arabic Manuscript: A Vademecum for Readers” Adam Gacek mengistilahkan Kodikologi sebagai, “The study or science of manuscripts and their interrelationship.”[6]

Lalu, Dzurova, seorang ahli Kodikologi dan Paleografi naskah Byzantium dan Slavia mengatakan, “The science that examines the codex as a complex of its elements such as binding, material, internal organization of binding gatherings, size of the page, script, decoration, and marginalia (Ilmu yang menguji codex dengan berbagai elemennya yang kompleks seperti penjilidan, bahan, keutuhan halaman dalam satu jilid naskah, ukuran halaman, aksara, dekorasi, dan sistem margin)[7]

Berdasarkan definisi-definisi di atas menunjukkan betapa luasnya cakupan ilmu Kodikologi. Sehingga, banyak pakar yang memasukkan Kodikologi ini dalam ilmu paleografi, atau sebaliknya, paleografi adalah bagian dari ilmu kodikologi.[8] Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ilmu Kodikologi ini sebenarnya telah merangkum dua disiplin ilmu yakni “Textual Bibliography” dan “Bibliology”.

Textual Bibliography adalah studi yang berkonsentrasi pada jenis kertas, tinta dan format naskah. Sedangkan, Bibliology adalah the scientific description of books from earliest times to the present, and including all the materials and proceses involved their making (pendeskripsian secara ilmiah terhadap buku dari sejak ia dibuat hingga sekarang, termasuk pendeskripsian terhadap bahan dan proses pembuatannya).[9] Atau dapat pula diambil kesimpulan sederhana—meski ini tidak mewakili definisi Kodikologi secara menyeluruh—bahwa Kodikologi pada hakikatnya adalah ilmu yang mencoba menguak dan memberikan interpretasi terhadap proses pembuatan buku yang orisinal di masa klasik, yang saat itu masih merupakan bagian dari kerajinan tangan.[10]

 

Jenis Naskah

Tidak semua naskah merupakan codex yang disebut sebagai naskah codex dan masuk dalam penelitian ilmu Kodikologi adalah manuskrip yang berbentuk lembaran-lembaran berhalaman sebagaimana bentuknya buku saat ini (lihat gambar no.4), baik itu ditulis tangan maupun dicetak melalui mesin. Sedangkan, naskah klasik atau manuskrip yang berbentuk gulungan—baik itu gulungan ke samping (volumen) atau pun gulungan memanjang (rotulus)—dan serpihan-serpihan tersendiri (single sheet) atau juga batangan-batangan kayu yang dikaitkan (accordion-fold book) seperti pada gambar no. 3, tidak bisa dikatakan sebagai codex sehingga bukan termasuk objek penelitian ilmu Kodikologi.[11] Berikut ilustrasi dari berbagai jenis manuskrip:

 

New Picture (2) New Picture (1) New Picture (3)  New Picture (4)

 

Tujuan Ilmu Kodikologi

Tujuan dari ilmu Kodikologi adalah menganalisa sebuah manuskrip jenis codex agar diketahui dengan jelas bagaimana teknik pembuatan manuskrip tersebut dan kapan ia dibuat. Sebab, banyak sekali manuskrip yang tidak diketahui proses pembuatannya hanya dengan pengamatan fisik dan sekilas saja. Sehingga ilmu Kodikologi harus memecahkan hal itu dengan melihat komposisi warna, jenis serat kertas dan lain sebagainya. Setelah jelas semua unsure-unsur yang dikaji dalam ilmu Kodikologi mulai dari teknik pembuatannya hingga jenis tintanya, tentu saja peneliti akan mudah menyimpulkan kapan sebuah manuskrip itu diproduksi. Ini adalah point pentingnya.

Dari analisa seorang yang ahli dalam ilmu Kodikologi, sebuah naskah codex dapat diketahui kapan dibuatnya hanya melalui jenis tinta dan page setting-nya. Sebab ada masa-masa tertentu dimana sebuah masyarakat mulai menggunakan warna jenis tinta, seperti tinta emas, merah, hijau dan coklat. Seperti yang dilakukan Francois Deroche saat meneliti jenis-jenis mushaf. Menurut pengamatan Francois Deroche umat Islam di masa lalu seringkali membedakan teks penting dengan warna tinta yang berbeda, misalnya merah. Tetapi, ini tidak berlaku bagi semua wilayah kekuasaan Islam. Menurut Francois Deroche yang biasa menggunakan tinta merah di awal atau akhir surah adalah manuskrip dari Damaskus pada masa Dinasti Umayah. Pembuat manuskrip menerapkan warna tinta yang berbeda, menurut Francois Deroche, adalah untuk menarik perhatian pembaca.[12] Dan, dari analisa itu Francois Deroche kemudian menentukan pada abad berapa mushaf tersebut dibuat. Namun demikian, seorang peneliti dalam disiplin ilmu ini tidak bisa cukup mengambil satu manuskrip saja untuk dijadikan objek penelitian. Kunci utama dari penelitian Kodikologi ini adalah banyaknya sampel sebagai perbandingan.[13] Sebab, tujuan ilmu Kodikologi tidak sekadar mengetahui bahannya apa dan tahun berapa ia dibuat. Lebih dari itu, ilmu Kodikologi juga menelisik, apakah satu jilid naskah klasik itu halamannya utuh atau ada yang hilang dan lepas?[14] Sebab ada beberapa naskah yang usianya berabad-abad, sehingga melewati dua masa yakni mulai dari masa pembuatan buku belum dalam bentuk jilid (abad ke-15) hingga masa pembuatan buku sudah dalam bentuk jilid. Jika, dalam kurun yang begitu lama itu sebuah naskah kehilangan beberapa halaman di dalamnya maka ilmu Kodikologi berperan sebagai alat bantu untuk menganalisanya. Apakah, hilang akibat rusak atau justru hilang akibat proses penjilidannya?

Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Kodikologi ini adalah untuk memperkuat “kejujuran” seorang filolog dalam meneliti sebuah naskah. Dari isi naskah mungkin filolog dapat menjelaskan banyak hal mengenai kandungan sebuah naskah klasik. Tapi, semua itu belum lengkap sebelum diketahui secara pasti kapan, di mana, dan bagaimana naskah klasik itu dibuat. Filolog sangat membutuhkan bantuan dari para ahli Kodikologi agar informasinya benar-benar akurat. Sebab, filolog belum tentu mengetahui dengan pasti, apakah naskah tersebut ditulis oleh pengarang aslinya semasa hidup, atau justru sudah merupakan tulisan ulang dari orang lain yang hidup di masa yang berbeda. Hal itu bisa dilihat dari bahan kertas, jenis tinta, model dekorasi, dan proses penjilidan sebuah naskah.

Buku selalu mewarnai sejarah, bahkan sejak nabi-nabi terdahulu pun sudah ada suhuf-suhuf. Dan, dalam sejarah peradaban manusia modern, ada 6 unsur yang sangat kuat terkait dan terikat dengan buku yaitu pengarang, penerbit, distribusi, produksi, kepustakaan dan budaya baca. Unsur-unsur itulah yang kemudian memantik kita untuk mengetahui pula apa yang terjadi dengan keenam unsur itu pada naskah klasik hingga kemudian kita mengatahui dengan jelas tentang otentisitasnya sebagai produk masa lalu.

 

Contoh Kode dan Analisa dalam Kodikologi

 

New Picture (6)  New Picture (5)

 

Verso = Sisi Belakang Buku

Recto = Sisi Kanan Buku

Spine = Punggung Buku

 

Jilid Model Armenia

Jilid Armenia 2

Jilid Armenia

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adam Bacek, Arabic Manuscript: A Vademecum for Readers, (Netherland: Brill, 2009)

Alan D. Crown, Samaritan Scribes and Manuscripts, (Jerman: Mohr Siebeck, 2001)

Francois Deroche, Islamic Codicology: An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script (terj.), (London: Al-Furqân Islamic Heritage Foundation, 2005)

http://en.wikipedia.org/wiki/Codicology

Nabilah Lubis, Naskah Teks dan Metode Penelitian Filologi, (Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia, 2007)

Patrick W. Conner, Anglo-Saxon Exeter: A Thenth-Century Cultural History, (New York: Boydell Press, 1993)

Stefanie Brinkmann at. all, From Codicology to Technology: Islamic Manuscripts and Their Place in Scholarship, (Berlin: Frank & Timme, 2009)

Tatiana Nikolaeva, Margins and marginalityMarginalia and colophons in South Slavic Manuscripts During the Ottoman Period, 1393–1878, (USA: Nokolova-Houston, 2008)

Titik Pudjiastuti, Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya (Depok: Universitas Indonesia, 2007) Vol. 9. No. 1, April, 2007.

Footnote

[1] Titik Pudjiastuti, Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya (Depok: Universitas Indonesia, 2007) Vol. 9. No. 1, April, 2007, Hal. 122.

[2] Stefanie Brinkmann at. all, From Codicology to Technology: Islamic Manuscripts and Their Place in Scholarship, (Berlin: Frank & Timme, 2009) Hal. 19.

[3] Nabilah Lubis, Naskah Teks dan Metode Penelitian Filologi, (Jakarta: Yayasan Media Alo Indonesia, 2007) Hal. 42

[4] Nabilah Lubis, Naskah Teks dan Metode Penelitian Filologi, hal. 42.

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Codicology

[6] Adam Bacek, Arabic Manuscript: A Vademecum for Readers, (Netherland: Brill, 2009) Hal. 64.

[7] Tatiana Nikolaeva, Margins and marginalityMarginalia and colophons in South Slavic Manuscripts During the Ottoman Period, 1393–1878, (USA: Nokolova-Houston, 2008) Hal. 40.

[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Codicology

[9] Adam Bacek, Arabic Manuscript: A Vademecum for Readers, hal. 64.

[10] Adam Bacek, Arabic Manuscript: A Vademecum for Readers, hal. 64.

[11] Francois Deroche, Islamic Codicology: An Introduction to the Study of Manuscripts in Arabic Script (terj.), (London: Al-Furqân Islamic Heritage Foundation, 2005) Hal. 11-14.

[12] Francois Deroche at. all, From Codicology to Technology: Islamic Manuscripts and Their Place in Scholarship, hal. 84.

[13] Alan D. Crown, Samaritan Scribes and Manuscripts, (Jerman: Mohr Siebeck, 2001) Hal. VII

[14] Patrick W. Conner, Anglo-Saxon Exeter: A Thenth-Century Cultural History, (New York: Boydell Press, 1993) Hal. 96.

Iklan