BENTURAN ANTARA MUSLIM DAN ORIENTALIS DALAM MELIHAT SEJARAH MUSHAF, RASM DAN QIRA’AT

by KONSULTASI~Haji&Umroh

New Picture (7)

Konsep turunnya Al-Qur’an ke bumi ini pada hakikatnya sudah dijelaskan secara detil oleh Allah swt. melalui firman-firman-Nya. Konsep inilah formula yang menguatkan keotentikan Al-Qur’an yang seringkali dipertanyakan beberapa kalangan, terutama kaum orientalis dan liberal. Hingga, Arkoun sendiri mengatakan bahwa mempersoalkan keotentikan Al-Qur’an berarti melakukan sesuatu tindakan pemikiran yang hidup atau pembaharuan pemikiran keagamaan.[1]

Tapi sebenarnya, apa yang mereka lakukan terhadap Al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Mengingat Al-Qur’an sendiri tidak pernah membatasi diri hanya untuk dikaji umat Islam, melainkan bagi semua orang dengan berbagai tujuannya. Keterbukaan itu dapat dilihat ketika Allah swt. menantang orang-orang yang meragukan Al-Qur’an untuk mendatangkan yang semisalnya, seperti yang difirmankan,

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 23)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an terbuka untuk digali dan dikaji bahkan oleh orang yang meragukannya. Dan, mereka yang meragukan Al-Qur’an tentu saja tidak mungkin menyanggupi tantangan itu tanpa mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu. Seperti yang dilakukan Musailamah Al-Kadzdzab ketika membuat surah-surah berikut,[2]

الفيل ما الفيل له خرطوم طويل

والعاجنات عجنا والخابزات الخبزا

Melihat susunan yang sama, tentu ia sudah membaca dan mempelajari terlebih dahulu susunan surah Al-Qari’ah dan Al-‘Adiyat. Ini adalah bukti keterbukaan Al-Qur’an bagi orang-orang yang meragukannya. Dan, dari sejak Musailamah hingga saat ini pun, Al-Qur’an tak pernah berhenti dikaji oleh orang-orang yang meragukan keotentikannya.

Hanya saja, terdapat perbedaan antara model Musailamah dengan kaum peragu yang diwakili orientalis dan kaum liberal dalam menerima tantangan Al-Qur’an. Tidak seperti Musailamah, orang-orang orientalis dan liberal abai untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an, tapi mereka terus mengkritisi keotentikannya melalui riwayat-riwayat janggal. Inilah fakta yang harus kita terima. Keterbukaan Al-Qur’an ini harus menjadi nilai positif bagi kita yang beriman, untuk terus berkembang dan argumentatif dalam menjelaskan Al-Qur’an beserta seluruh aspeknya kepada orang-orang yang ragu terhadapnya.

Meminjam istilah Giovani Sartori yang melihat demokrasi dengan dua perspektif yakni normatif dan empirik,[3] penulis akan mencoba menerapkannya dalam memetakan perspektif pengkaji sejarah Al-Qur’an. Sebagaimana yang kita ketahui dari uraian di atas, para pengkaji Al-Qur’an pada hakikatnya terbagi menjadi dua yakni pengkaji dari golongan orang beriman dan pengkaji dari golongan orang yang meragukan keotentikannya.

Orang-orang yang beriman, melihat Al-Qur’an dengan perspektif normatif. Artinya, perspektif yang dibangun untuk melihat Al-Qur’an adalah berdasarkan keimanan. Sehingga, secara definisi Al-Qur’an merupakan, “Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. (secara lafadz dan makna) yang memiliki unsur mukjizat, yang membacanya saja bernilai ibadah, direportasekan secara mutawatir, ditulis dalam mushaf-mushaf (dari surah Al-Fâtihah hingga surah An-Nâs).”[4]

Sebagai kitab suci, Al-Qur’an memang seharusnya dilihat dari sisi normatif saja. Tapi, aktivitas intelektual kaum orientalis dan kelompok liberal terhadap Al-Qur’an adalah fakta lain dari orang-orang yang tidak mengimani Al-Qur’an. Mereka mengkaji, meneliti bahkan mengkritisi secara leluasa. Tapi, mereka hanya di wilayah empirik Al-Qur’an saja.

Rasm, qira’at dan sejarah penyalinan dan percetakannya adalah wilayah empirik Al-Qur’an yang seringkali dijadikan pintu masuk kaum orientalis dan liberal untuk melemahkan bukti keotentikan Al-Qur’an. Orang-orang yang beriman, akan melihat proses turunnya Al-Qur’an—mulai dari Allah swt. hingga menjadi mushaf—dengan sudut pandang normatif. Tapi, orang-orang Barat dalam hal ini orientalis dan kaum liberal, melihat Al-Qur’an cukup di wilayah empirik saja. Dengan meneliti masnuskrip mushaf-mushaf yang ada. Alurnya berlawanan dengan metode orang-orang beriman, jadi proses turunnya Al-Qur’an sebelum sampai kepada beliau sama sekali tidak diperhatikan. Sehingga, sangat wajar jika mereka kemudian membuat kesimpulan bahwa Al-Qur’an buatan Muhammad saw.

Domain diskusi dan kajian mereka ada di wilayah empirik Al-Qur’an karena penelitian mereka pun bersifat filologis yang sumber utamanya adalah bahan-bahan tertulis dari manuskrip-manuskrip yang ada. Dan dalam prosesnya, kesimpulan-kesimpulan yang mereka dapatkan di wilayah itu, dibuat untuk meruntuhkan pandangan-pandangan normatif tentang Al-Qur’an. Jadi, orang-orang orientalis dan kaum liberal melihat Al-Qur’an dari fakta sejarah mushaf dan penulisannya. Itu kemudian secara sadar maupun tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, berimbas pada upaya peruntuhan proses turunnya Al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz dan Baitul Izzah. Sedang umat Islam meyakini keotentikan mushaf saat ini karena iman mereka akan adanya proses di Lauh Al-Mahfudz dan Baitul Izzah.

Benturan perspektif normatif dan empirik inilah yang harus disadari para pengkaji dan peneliti Al-Qur’an. Tanpa kesadaran ini, seringkali menimbulkan kerancuan, baik dalam logika berpikir maupun dalam hasil kesimpulan sebuah penelitian. Sebab, dari sejarahnya paham empirisme—yang di antara tokoh utamanya adalah David Hume—tidak pernah bertemu dan selalu bertentangan dengan paham normatif serta rasionalisme.[5]

Bagi para peneliti dan pengkaji yang mengikuti aliran empirisme meyakini bahwa ilmu belum dikatakan sebagai ilmu—dalam arti yang sebenarnya—sebelum ditemukan hukum-hukum yang ditopang oleh pengamatan yang memungkinkan diadakan peramalan-peramalan. Bahkan, mereka menganggap metode empiris adalah metode yang paling absah dalam menentukan validitas pengetahuan.[6]

Sayangnya, data-data empirik yang digunakan oleh pengkaji Al-Qur’an—yang meragukan keotentikannya—dalam memvalidasi keotentikan Al-Qur’an kurang memadai. Contohnya, Theodor Noldeke dalam “Geschichte Des Qorans”—yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab “Târikh Al-Qur’ân” oleh Juraij Tamir—hanya mengangkat 2 mushaf pribadi milik Ubay ibn Ka’b dan Abdullah Ibnu Mas’ud sebagai data induk.[7] Itu pun hanya serpihan-serpihan yang pada dasarnya bersifat kasuistik dan tidak sebanding dengan data-data lain yang sangat mungkin menghasilkan kesimpulan yang berseberangan.

Inilah benturan dahsyat yang tak kunjung usai itu. Dan, tidak ada pejuang yang mampu membendungnya kecuali dengan kesadaran ilmiah masing-masing. Sayangnya, kenapa kita selalu sadar di belakang hari setelah berbagai propaganda sukses terlaksana?

 

FOOTNOTE

[1] Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an, (Jakarta: INIS, 1997)  Hal. 75.

[2] Abu Al-Fida’ ibn Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsîr ibn Katsîr, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1994) Jil. II. Hal. 500.

[3] Giovanni Sartori, The Theory of Democracy Revisited. Part One: The Contemporary Debate, (Chatam, NJ: Chatam House Publishers, 1987), h. 7-8; Anders Uhlin, Indonesia and the “ Third Wave of Democratization”: The Indonesian Pro-Democracy Movement in a Changing World, (London: Nordic Institute of Asian Studies, Richmond, Curzon Press, 1997), h. 8.

[4] Muhammad Abdul Azhim Az-Zurqani, Manâhil Al-‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qur’an, (Mesir: ‘Isa Al-Bab al-Halabi, t.th) Jil. I. Hal. 19.  

[5] Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, (Jakarta: Kanisius, 1997) Hal. 130.

[6] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, (Malang: Erlangga, 2005) Hal. 72.

[7] Tehodor Noldeke, Gɛschichtɛ dɛs ɋorans diterjemahkan Târikh Al-Qur’an oleh Juraij Tamir, (Beirut: Konrad, 2004) Hal. 262-297.