BUKAN KYAI LOTRE

by KONSULTASI~Haji&Umroh

Konon, di desa Tumanggeng yang gersang, ada kyai sepuh yang sangat arif. Namanya, Kyai Washil. Kata demi katanya bertuah hingga pernah orang paling bejat di desa itu langsung tobat mendengar nasihatnya. Beliau hidup di rezim yang menghalalkan judi buntut. Pada saat yang sama, banyak orang Tumanggeng dimabuk hadiah besar karena sawah tak banyak menjanjikan. Berbagai cara pun mereka gunakan untuk menebak nomor lotre yang akan keluar, melalui mimpi, igauan anak, perkataan orang gila, termasuk ucapan Kyai Washil.

Singkat kata singkat cerita, di desa itu ada orang bernama Kadirun, terkenal miskin dan otaknya dhedhel alias bodoh. Menghitung saja tidak bisa lebih dari duapuluh. Apalagi tambah-tambahan dan kali-kalian, sama sekali tidak paham. Tapi, orangnya lugu, ringan tangan, jujur dan tulus.

Suatu hari, Kadirun yang sawahnya dekat rumah Kyai Washil ini, panen padi. Melihat wajah sumringah Kadirun yang mendorong kluthuk (gerobak padi) penuh muatan, Kyai Washil menyapa,

“Panen, Run?”

Inggih (iya), Mbah Kyai?”

“Berapa karung?”

“Sembilan, Mbah Kyai!

“Berarti itu lima tambah empat kan, Run?

Inggih (iya), Mbah Kyai!”

Kadirun tak membaca isyarat apapun dan nyelonong pulang dengan baju yang basah oleh peluh. Sampai di rumah, matahari hampir tenggelam. Kadirun menaruh hasil panennya di dapur, lalu melepas lelah di teras rumah dengan sebatang rokok lintingan sendiri. Azan Maghrib terdengar, Kadirun pun segera mandi dan siap-siap ke warung kopi.

Bagi sebagian warga Tumanggeng, ada dua kehidupan dalam sehari, kehidupan siang di pematang sawah dan kehidupan malam di warung kopi. Orang seperti Kadirun, memulai kehidupan malamnya dari Maghrib. Jadi, saat azan Maghrib terdengar, Misenun yang nyantri berangkat ke mushalla, Kadirun cs. berangkat ke warung kopi. Masing-masing meniti jalan dan tujuannya sendiri.

***

Sesampainya di warung, Kadirun pesan kopi lalu duduk di paling pojok. Itulah tempat favorit Kadirun yang tak pernah ditempati orang lain jika Kadirun ada.

“Sudah panen, Run?” Tanya Kemis, di tengah nikmatnya kopi malam.

Iyo, Mis. Lumayan, sembilan karung.”

“Apa ya sudah kau hitung, Run?” Maka riuhlah tawa orang-orang di warung.

“Ya sudahlah! Kalau cuma sembilan, gampang, Mis! Itu kan lima tambah empat.”

“Kadirun sekarang sudah pintar!” Teriak Sunar dari luar, menambah seru suasana warung.

Iyolah, orang yang ngajari Mbah Kyai!” Mendengar jawaban Kadirun, tiba-tiba tawa orang-orang terhenti. Warung yang tadinya ramai segera sepi. Mereka buru-buru pulang. Menghilang satu per satu. Sunar yang malam itu pulang belakangan menghampiri Kadirun,

“Besok, manen sawahku, yo Run! Sama Kamto.”

Iyo, Nar, bisa!” Jawab Kadirun tenang.

Kadirun tidak menangkap gelagat orang-orang di warung yang diam-diam mengambil manfaat dari candanya. Bahkan, dia tidak paham saat Surip, si pemilik warung, meneriaki Sunar,

“Pasangkan dua, Nar!”

Iyo!”

Malam itu, warung Surip sepi sebelum tengah malam. Kadirun yang sendirian, ngobrol kesana kemari dengan Surip. Tapi, lama-lama jenuh juga dia, lalu membayar kopinya,

“Berapa, Rip?”

“Nambah apa?”

“Pisang goreng dua.”

“Dua ratus, Run.”

“Ini lima ratus, kembaliannya buat besok aja.”

Yo, Run. Eh, Run, nggak pasang?”

Nggak pernah untung, Rip!”

“Makanya, Run, dengerin kalau Mbah Kyai ngomong!”

“Hehe…” Kadirun nyengir dan masih belum paham juga.

***

Seminggu kemudian, penduduk desa ramai membincangkan bahwa si anu, si ini, si itu, pada menang lotre. Di antaranya adalah Sunar yang mampir ke rumah Kadirun dan membayar uang manen lebih banyak dari biasanya.

Nggak biasanya, Nar, dibayar banyak! Apa kamu juga dapat lotre?”

Alkamdulilah, Run!

“Memang berapa nomor yang keluar?” Tanya Kadirun yang dari dulu memang tidak pernah peduli dengan lotre.

Lho, kan kamu yang memberitahu!” Kadirun bingung dan agak mikir, lalu ingat akhir perbincangannya dengan Surip di warung,

“Lima empat?!” Kadirun menebak.

Iyo!”

Wah, edanane!” Keluh Kadirun yang dibalas cekikikan oleh Sunar.

Yo wes, yo! Saya ditunggu Surip, Run!”

Yo, yo, Nar! Suwun (terimakasih)!”

***

Sejak itulah, orang-orang Tumanggeng yang suka pasang lotre makin percaya akan tuahnya ucapan Kyai Washil. Orang seperti Kadirun, Kemis, Sunar dan Surip sebenarnya tahu kalau Kyai Washil marah besar jika orang Tumanggeng pasang nomor. Tapi, dalam kesempitan hidup, mereka ingin mengambil kesempatan.

Awalnya, Kyai Washil tidak tahu. Tapi, lama-lama isu menyebar dan Kyai Washil sadar kalau ucapannya ternyata dijadikan wangsit oleh sebagian orang untuk menebak lotre. Bu Nyai yang juga tahu, sangat gusar.

“Pak, awas lho! Di jalan jangan sembarangan ngomong kalau ditanya orang?” Pesan Bu Nyai saat Kyai Washil hendak berkunjung ke rumah saudaranya di seberang desa, yang biasa beliau tempuh dengan jalan kaki melewati rumah warga.

“Iya. Saya akan diam aja. Pokoknya nanti, orang tanya apa saja akan saya jawab inggih(iya) dan mboten (tidak).”

Celakanya, di antara rumah warga yang akan dilalui Kyai Washil adalah rumah orang-orang yang suka pasang lotre. Pertama rumah Kemis, lalu warungnya Surip dan terakhir rumah Kadirun. Banyak pula rumah selain itu yang dilewati Kyai Washil, tapi bukan orang yang suka pasang lotre.

***

Beberapa rumah sudah terlewati sejak Kyai Washil berangkat. Kira-kira delapan rumah lagi adalah rumah Kemis, Kyai Washil sudah siap dengan triknya. Tapi, Kyai Washil terkejut saat tiba-tiba Kemis muncul memakai sarung dan kopiah serampangan, padahal Kyai Washil belum juga sampai di depan rumah Kemis,

Waduh, Mbah Kyai kok jalan kaki tho! Bagaimana kalau saya antar saja, pakai sepeda?” Rayu Kemis setelah mencium tangan Kyai Washil.

Seketika Kyai Washil tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya. Sambil tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Kemis, Kyai Washil menolak tawarannya,

Mboten sah (tidak usah), Pak Kemis. Saya sudah biasa jalan.” Jawab Kyai Washil sambil terus berjalan. Kemis pun plonga-plongo sambil membuntuti Kyai Washil sampai di depan rumahnya. Di sisi lain, Kyai Washil merasa lega bisa menolak tawaran Kemis sebab jika bersedia diantar, beliau pasti akan diajak ngobrol Kemis dan ditanya ini-itu. Ujung-ujungnya, Kemis akan mencari kode angka untuk diundikan.

***

Kyai Washil terus berjalan melewati jembatan, sawah dan tikungan desa. Beberapa meter lagi Kyai Washil akan melewati warung Surip. Inilah puncak keresahan Kyai Washil karena semua orang yang suka pasang lotre biasa berkumpul di warung Surip. Beliau khawatir orang akan bertanya macam-macam dan tidak cukup dijawab dengan inggih dan mboten.Kyai Washil pun berdoa khusyuk, berharap karamah datang hingga orang-orang di warung Surip tidak melihat saat dirinya lewat.

“Alhamdulillah!” Kyai Washil berteriak lirih. Ternyata, hari itu warungnya Surip tutup. Meski begitu, Kyai Washil melipatgandakan langkahnya karena khawatir pemiliknya, Surip, ada di rumah dan melihat beliau.

Setelah sekian puluh meter melewati warung Surip, hilang sudah kekhawatiran Kyai Washil. Meski ada satu rumah lagi yakni rumah Kadirun, Kyai Washil tidak resah atau khawatir lagi karena Kyai Washil tahu Kadirun tidak akan banyak tanya karena keluguannya. Bahkan sempat terbesit dalam hati Kyai Washil, “Kalaupun Kadirun tanya macam-macam saya akan jawab sekenanya. Tidak apa-apa keluar isyarat angka, toh kalau nanti dipasang lotre dan menang, itu akan menaikkan derajat Kadirun. Pantas bagi orang seperti dia untuk sedikit menikmati kehidupan dunia.”

“Astaghfirullah!” Kyai Washil langsung tersadar akan jahatnya bisikan hati itu, “Tidak. Tidak. Saya akan tetap berkata inggih dan mboten.

Saat tersadar itulah, Kyai Washil sudah sampai di depan rumah Kadirun yang sedang memompa gerobak padinya. Bukan Kadirun yang menyapa lebih dulu, tapi justru Kyai Washil yang basa-basi,

“Run, nggak ke sawah hari ini?”

Eh, Mbah Kyai! Mboten (tidak), Mbah Kyai. Hari ini saya mbetulin gerobak!” Jawab Kadirun sambil langsung menghampiri dan mencium tangan Kyai Washil.

Yo, yo, teruskan kalau begitu.” Jawab Kyai Washil sambil melanjutkan langkah. Tapi, belum jauh langkah Kyai Washil, Kadirun melihat anaknya, Wasis, yang pulang dari bermain. Kadirun pun memintanya cium tangan Kyai Washil,

“Sis! Cepat sini, salim sama Mbah Kyai!” Seru Kadirun pada Wasis yang masih lima tahun. Kyai Washil segera tanggap dan berhenti melangkah sambil tertawa menyambut anaknya Kadirun,

“Kok, garuk-garuk kepala saja tho nak, opo kowe ngingu tumo (apa kamu memelihara kutu)?” Tanya Kyai Washil mecandai anak Kadirun yang langsung melengos setelah cium tangan. Kadirun hanya senyum-senyum mendengar candaan Kyai Washil yang langsung melanjutkan langkahnya.

Puas menatap kepergian Kyai Washil, Kadirun lantas melanjutkan pekerjaannya membenahi gerobak yang sedikit ada masalah di roda. Saat mengamat-amati roda gerobak, Kadirun terperanjat dan langsung berdiri. Ia merasa mendapat wangsit,

Tumo!” Teriak Kadirun yang langsung berdiri dan berhenti membenahi gerobaknya.

Tumo!” Kata itu diulang lagi dalam mulutnya dan terus diulang-ulang sambil berpikir.

Tumo, pitu limo (tujuh lima). Tumo, pitu limo.” Detak jantung Kadirun berdegup kencang. Ia berjalan ke sana kemari meninggalkan gerobaknya terbengkalai. Tanpa berlama-lama, akhirnya ia mengambil tiga karung padi kering. Kadirun lalu ngacir menjual padi dan diam-diam dia membeli nomor lotre.

***

Seminggu kemudian, desa Tumanggeng geger. Semua orang, tidak di jalan, tidak di warung, tidak di sawah, tidak di rumah, menggunjingkan Kadirun. Ini tentang hadiah besar yang dia dapat. Nilainya cukup untuk beli dua sapi jantan dan merombak rumahnya dari sekadar bedeng menjadi rumah mapan berdinding kayu jati. Mulai hari itu, bahkan hingga berminggu-minggu setelahnya, orang hanya bicara tentang “Kadirun menang lotre.”

Kadirun kaya mendadak dan ia juga bilang ke mana-mana bahwa nomor yang dia pasang adalah petunjuk dari ucapan Kyai Washil. Sedangkan Kyai Washil sendiri, di rumahnya, tidak habis uring-uringan dengan Bu Nyai. Hanya gara-gara Kadirun menang lotre.

Hingga pada suatu malam yang hening—saat Kyai Washil dan Bu Nyai lelah berdebat—Kyai Washil membangunkan Bu Nyai dan bicara setengah berbisik,

“Bu, mulai besok pagi setelah Subuh, saya tidak akan berbicara kecuali untuk mengaji pada santri.” Ungkap Kyai Washil yang masih di atas sajadahnya usai shalat malam.

Bu Nyai bangun dan menatap lama wajah tulus Kyai Washil. Ia turut merasakan beratnya duka yang dirasakan Kyai Washil. Sambil tersenyum Bu Nyai berkata,

“Meski itu akan berat buat Bapak, aku akan mendukung.”

“Kalau begitu, mulai besok kamu harus mendampingi saya jika ada tamu.”

“Untuk apa?”

Lho, piye tho (gimana tho) kamu ini? Saya kan tidak akan bicara kecuali untuk mengaji?”

“Lha, terus aku mesti bilang apa?”

“Bilang ke setiap tamu yang datang bahwa saya puasa bicara kecuali untuk berdoa.”

“Pak, Pak…Akhirnya aku tertimpa juga bebannya.” Jawab Bu Nyai yang sudah puluhan tahun tidak dikaruniai anak ini.

“Ya, bagaimana lagi tho, Bu. Ini kan demi kemaslahatan warga Tumanggeng.”

***

Kabar tentang puasa bicaranya Kyai Washil segera menyebar setelah beberapa warga silaturahim ke rumah beliau. Dan, ternyata ini lebih heboh dari berita tentang undian yang didapat Kadirun. Kyai Washil memang sosok kyai kharismatik yang tegas dalam kebaikan dan selalu berani mengambil risiko meski dirinya harus menanggung sendirian beban beratnya.

***

Akibat keputusan Kyai Washil itu, lama-lama Bu Nyai lelah juga. Ia bahkan merasa bosan harus menemani Kyai Washil setiap ada tamu. Dan seringnya, tamu masih saja ada yang datang meski sudah tengah malam. Ketika tamu sudah tidak ada lagi, Bu Nyai pun mengeluh,

“Pak, aku mulai keberatan atas ujian ini.”

“Hush…jika kamu merasa berat maka saya lebih berat berkali-kali dari kamu.”

“Iya, aku tahu. Aku paham. Tapi, apakah ini akan selamanya?”

“Ibu harus tahu. Saat ini, Allah SWT sedang menguji saya dengan kemaksiatan yang paling saya benci.”

“Atau mungkin setan yang sedang menggoda Bapak pada titik yang paling melemahkan?” Celetuk, Bu Nyai.

“Ya, memang itulah bentuk ujiannya.” Jawab Kyai Washil sambil menatap wajah Bu Nyai dalam-dalam. Lalu, Kyai Washil beranjak dari kursinya menuju kamar tidur sambil menasihati Bu Nyai,

“Sudah-sudah. Nanti keluhmu makin runcing dan membuatku gagal menghadapi ujian ini.”

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Desa Tumanggeng sudah mulai tenang. Orang-orang sudah behenti menggunjingkan Kadirun. Kyai Washil juga sudah tidak bisa diharapkan lagi memberi “wangsit” pada orang-orang yang suka pasang lotre. Tapi, lotre masih terus berjalan dan Sunar cs. masih tetap pasang meski tak pernah menang. Dan, selama berbulan-bulan itu pula Kyai Washil masih tetap puasa bicara kecuali pada istri dan saat mengaji kitab kuning untuk santri.

***

Nahas, mungkin hari itu merupakan puncak ujian yang harus dihadapi dan diterima Kyai Washil, karena tiba-tiba saja Walsinah, seorang janda tua dari desa sebelah yang hidup miskin, sebatang kara, dan tak punya anak, datang menghadap Kyai Washil minta diberi tahu angka lotre yang bakal keluar. Ketika itu, tanpa basa-basi, Walsinah langsung cium tangan Kyai Washil yang baru saja turun dari masjid sehabis mengajar santri-santrinya, lalu bertanya dengan penuh iba,

“Mbah Kyai, nyuwun ngapunten (mohon maaf), mbok ya saya dikasih tahu nomor lotre yang akan keluar, biar saya juga kaya seperti Kadirun.”

Mendengar pertanyaan yang berani itu, sontak Kyai Washil marah. Di depan para santrinya, hari itu juga Kyai Washil membatalkan puasa bicaranya. Kyai Washil langsung mengomeli Walsinah dengan suara yang lantang dan tegas,

“Sudah tua masih pasang lotre! Minggat! Lungo kono (pergi sana)! Lungo kono(pergi sana)!” Lalu, Kyai Washil melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Para santri yang melihat kejadian itu terperangah kaget. Kaget pada pertanyaan Walsinah dan kaget karena Kyai Washil membatalkan puasa bicaranya yang sudah berbulan-bulan.

Sedangkan, Walsinah yang dimarahi Kyai Washil, menangis tersedu-sedu sepanjang jalan sambil mengadu pada semua orang yang ia temui. Orang-orang pun bertanya pada Walsinah, “Ada apa mbah?”, “Ada apa mbah?” dan semua dijawab sama oleh Walsinah,

“Mbah Kyai duko (marah), saya diusir, ‘Lungo kono, lungo kono!’ katanya.”

Tapi, semua orang yang bertanya Walsinah justru seperti melihat air di padang tandus. Mereka membaca bahwa lungo sebenarnya adalah isyarat yang diberikan Kyai Washil pada Walsinah. Di antara mereka ada yang memaknai “lungo” dengan “telu songo” atau tiga sembilan. Sedang yang lain memaknai “lungo” dengan “wolu songo” atau delapan sembilan. Maka, masing-masing pun memasang nomor sesuai keyakinannya. Hari itu menjadi hari bersejarah karena seluruh warga Tumanggeng pasang lotre. Ada yang terang-terangan seperti Sunar cs. Tapi, sebagian yang lain pasangnya diam-diam. Mereka coba-coba karena penasaran akan kekeramatan ucapan Kyai Washil.

Dua minggu kemudian, Tumanggeng masuk berita di koran karena seluruh warga desanya menang lotre dalam jumlah yang bervariasi, ada yang besar ada pula yang kecil. Baik yang pasang tiga sembilan atau delapan sembilan sama-sama dapat. Ini benar-benar menakjubkan bagi warga Tumanggeng.

Kyai Washil yang mengetahui itu, menangis pilu di atas sajadahnya. Meratapi kegagalannya menghadapi ujian Allah. Sejak hari itu hingga wafatnya, beliau tidak bicara sepatah pun pada manusia bahkan kepada istri dan santrinya. Sisa hidupnya selama sepuluh tahun, dihabiskan untuk berzikir dan menghafal Al-Qur’an hingga beliau hafidz di akhir hayatnya. Sejak hari itu pula, seluruh warga Tumanggeng tidak pasang lotre demi menghormati tirakatnya Kyai Washil, termasuk Sunar cs. Entah kenapa, warga Tumanggeng tiba-tiba mengharamkan diri bicara tentang lotre. Mungkin mereka ingin memendamnya dalam-dalam bersama “puasanya” Kyai Washil, untuk selama-lamanya. Satu-satunya orang yang berani bicara tentang lotre di depan Kyai Washil hanyalah Bu Nyai, itu pun untuk terakhir kalinya,

“Pak! Sunar dan teman-temannya tidak mengambil uang lotre. Mereka memberikannya pada Walsinah.” Mendengar itu, Kyai Washil tersenyum tapi airmatanya deras mengalir.