ISLAM MASUK KE NUSANTARA

by KONSULTASI~Haji&Umroh

PENDAHULUAN

Melacak peristiwa yang telah lalu tidaklah mudah. Apalagi, jika data dan fakta untuk mengungkapkannya tidak begitu lengkap. Itu hanya akan menguras waktu dan pikiran hingga menjerumuskan orang pada sikap putus asa, sehingga melahirkan persepsi-persepsi yang sifatnya dugaan sementara. Tapi, dugaan ilmuwan beda dengan dugaan orang awam. Ilmuwan biasanya menduga sesuatu berdasarkan analisis dan data-data meski tidak lengkap. Sedangkan, orang awam kebanyakan menduga sesuatu berdasarkan feeling atau perasaan saja sehingga jatuhnya gambling. Nah, Ilmu Sejarah bukanlah produk gambling atau perkiraan-perkiraan sementara saja. Ilmu Sejarah sudah menjadi satu disiplin yang dipelajari secara mendalam sehingga lahir teori-teori untuk mengungkap masa lalu secara sistematis dan logis. Oleh sebab itu, setiap orang yang ahli di bidangnya tidaklah menduga-duga dalam memaparkan suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu. Ia memiliki bukti autentik dan data yang akurat untuk mendukung pendapatnya itu.

Bagi sebagian orang mungkin tidaklah penting mengingat-ingat masa lalu yang begitu lama, apalagi melampui abad. Tapi, tidak untuk sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Ini sangat penting guna mengetahui identitas nenek moyang kita dahulu sekaligus sebagai ucapan terima kasih pada mereka yang telah ikhlas mendakwahkan Islam ke Nusantara ini hingga kita semua “keluar dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang.” Generasi kita saat ini adalah generasi penikmat saja karena tidak ikut pahit getirnya para dai-dai terdahulu yang harus malang melintang melawan badai dan mendaki terjal demi menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Nusantara.

Memang sebagian orang bilang, Indonesia sudah ditakdirkan menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar. Tapi, perlu diketahui pula bahwa takdir sebelumnya membuktikan bahwa Nusantara ini dahulunya hanya dihuni oleh penganut Hindu dan Budha saja. Sayangnya, sejarah tidak bicara takdir melainkan proses peralihan dari generasi ke generasi yang terjadi di masa lampau untuk digali hikmah dan kemungkinan-kemungkinan berulangnya kembali sajarah itu. Lantas, kita yang hidup di masa kini dan memelajari sejarah melakukan antisipasi atau bahkan pelestarian terhadap peristiwa yang munkin akan datang berulang. Dalam posisi ini, sejarah kemudian menjadi way to look forward sehingga kita menjadi lebih bijak dalam menyikapi berbagai masalah yang akan terjadi.

Lantas apa pentingnya kita belajar sejarah masuknya Islam ke Nusantara? Agar kita dapat meramu sikap yang arif dan bijak dalam berdakwah dengan melihat siapa dulu generasi orang-orang Indonesia ini untuk kemudian dikombinasikan dengan karakter “agama” yang kita bawa. Di makalah kecil ini, kami akan menyajikan seputar sejarah masuknya Islam ke Nusantara dan perkembangan intelektual dari sejak masuknya Islam hingga abad ke-19.

Semoga makalah ini bermanfaat dan mampu memberikan pencerahan. Kepada bapak Prof. DR. Dien Madjid, kami haturkan limpah ruah terima kasih atas bimbingan dan arahannya selama ini. Ilmu yang Bapak berikan terlalu banyak untuk kami yang hanya mampu memetik setandan dua tandan. Dan, tiada harapan terbesit di benak kami kecuali doa, “Semoga ilmu yang kami dapat dari Anda bermanfaat dunia dan akhirat.” Amin.

AWAL MULA ISLAM MASUK KE NUSANTARA

Jauh sebelum Nusantara ini didatangi Islam—sebagai negara maritim—bangsanya memiliki budaya berlayar dari satu pulau ke pulau lain hingga jauh ke negeri seberang. Di sisi lain, sebelum abad ke-7 Masehi, dunia juga sudah mengenal maritim (perdagangan laut). Bangsa Arab—sebagai nenek moyang pembawa ajaran Islam—bahkan sudah berlayar ke mana-mana untuk berdagang dan berniaga, termasuk ke Indonesia atau Nusantara.[1] Inilah, satu-satunya kesempatan paling primitif antara bangsa Arab dengan bangsa Nusantara kala itu untuk saling mengenal. Tentu saja, selain berniaga mereka saling “berdialog” dengan budaya dan tradisi di mana mereka tinggal. Dan, tidak ketinggalan pula, mereka pasti memperkenalkan agama yang mereka bawa. Kondisi ini disebut sejarawan Arnold J. Toynbee dengan encounter of civilizations atau tatap muka antar peradaban.[2]

Inilah teori dasar yang dikembangkan sebagian sejarawan Indonesia dalam seminar yang berjudul “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan pada tahun 1963. Di sana, Uka Tjandrasasmita dalam artikelnya yang berjudul, The Introduction of Islam and The Growth of Moslem Coastal Cities in The Indonesian Archipelago, menyebutkan bahwa Nusantara pada abad-abad ke-7 Masehi—yakni saat penyebaran Islam mulai berlangsung—tidak dalam kondisi vacum cultural dan vacum civilization.[3]

Apalagi, terbukti bahwa pada abad-abad itu di Nusantara tumbuh kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Tarumanegara, Kutai dan Kedah. Itu artinya, Nusantara bukan “tanah mati” atau bangsanya terbelakang. Mereka sudah memiliki peradaban yang maju dan dikunjungi banyak bangsa dari berbagai belahan dunia. Sehingga, sudah dari sejak beberapa abad sebelum Islam lahir, masyarakat Nusantara (khususnya bagian pesisir) sudah terbiasa dengan akulturasi budaya. Bahkan, Prof. Dr. Wan Hussein Azmi menyebutkan bahwa sejak abad ke-1 dan ke-2 Masehi, kapal-kapal Greek (Yunani) sudah mendarat di pulau-pulau Melayu seperti, Kalimantan Selatan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Irian Barat. Lantas, abad ke-3 Masehi, datanglah orang-orang Persia dan orang-orang dari bangsa China.[4]

Nah, di zaman Nabi saw.—sebagaimana yang kita ketahui—Yaman atau Hadhramaut yang lokasinya berada di ujung pulau Jazirah Arab adalah wilayah yang mayoritas penduduknya menganut Islam. Bahkan, Nabi saw. secara khusus mengutus Sahabat Mu’adz ibn Jabal sebagai Gubernur sekaligus dai yang mengukuh Islam di sana. Di sisi lain, bangsa Hadhramaut atau Yaman (khususnya yang tinggal di pesisir) adalah bangsa yang menyukai maritim. Dan, Nusantara tentu saja bukanlah jalur perdagangan yang asing bagi mereka. Sebab, orang Persia saja yang tinggal di sebelah utara Jazirah Arab sudah menjamah Nusantara. Kesimpulannya, interaksi dagang antara orang Arab dan orang pribumi (Nusantara) sudah terjalin jauh sebelum Islam lahir. Dan, saudagar-saudagar Muslim, baik itu dari Arab, Persia atau India itu sudah mengusai perniagaan laut sejak abad ke-7 Masehi. Bahkan, pada abad ke-8 Masehi, di India dan Vietnam sudah banyak kaum Muslim Arab dan Syam yang sudah menjadi penduduk dan menetap di sana.[5]

Mungkin, dalam hati kita bertanya, “Untuk beli apa, orang-orang Arab dan Persia itu jauh-jauh datang ke Sumatera Utara?” Jawabannya, untuk beli kapur barus. Mereka beli kapur barus ini di daerah yang bernama Barus. Bahkan, di sana ditemukan nisan yang bernama Syekh Ruknuddin yang wafat pada tahun 48 Hijriah.

Jadi, tidak mengherankan jika kemudian, pada tahun 847 Masehi atau 225 Hijriah, di Sumatera ditemukan satu kitab berbahasa Arab yang menegaskan adanya kesultanan Islam pertama bernama Perlak. Kitab itu berjudul, izh-hâr al-haqq fî silsilati râja ferlak.[6] Kitab inilah yang kemudian menjadi bukti autentik bahwa Islam sudah ada di Nusantara sejak awal abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah.

Kesimpulan tersebut diambil karena munculnya Kesultanan Perlak itu tentunya tidaklah tiba-tiba ada, melainkan melalui proses yang panjang. Maka, encounter civilazation itulah awal mula terbentuknya Kesultanan Perlak. Artinya, ia berdiri setelah saudagar Arab (Muslim) berkali-kali kunjung sekaligus menyebarkan ajaran hingga kemudian melahirkan komunitas Muslim yang memungkinkan mendirikan sebuah kesultanan. Itu berarti, jauh sebelum kesultanan didirikan masyarakat Muslim sudah terbentuk kokoh. Itulah yang seharusnya dijadikan acuan mengenai kapan Islam pertama kali masuk ke Nusantara.

Fakta-fakta ini, diabaikan sama sekali oleh sarjana Barat yang tidak jujur dalam melakukan penelitian ilmiah. Mereka sengaja membelokkan sejarah dan memelintirnya, agar umat Islam dan bangsa Indonesia terarah pada opini yang sudah mereka bangun. Tujuannya, agar kita sebagai umat Islam merasakan ada keterputusan dengan Jazirah Arab sebagai the hearth of Islam. Bagi sebagian orang mungkin ini adalah masalah yang sepele. Tapi, bagi kita ini adalah masalah yang sangat fundamental.

PERDEBATAN TENTANG AWAL MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA

Terkait dengan sejarah masuknya Islam ke Indonesia ini memang terjadi perdebatan. Tapi, tidak dipungkiri bahwa awal mula yang menulis sejarah masuknya Islam ke Indonesia adalah Snouck Hurgronje. Sayangnya, dalam tulisannya itu, dia menyebutkan bahwa Islam yang datang ke Indonesia ini adalah dari Muslim India yang pada waktu itu profesinya adalah pedagang bukan dai. Mereka ini berasal dari wilayah Gujarat, India. Seperti yang kita maklumi, pedagang memiliki kapasitas ilmu agama yang jauh dibawah kapasitas dai. Sehingga, Islam yang tersebar tidaklah Islam murni, melainkan bergantung pada keislaman masing-masing saudagar itu.

Berdasarkan pada asumsi inilah kemudian Snouck Hurgronje membuat kesimpulan—dan ini merupakan inti dari tujuan dia membuat teori sejarah masuknya Islam ke Indonesia—bahwa Islam yang dibawa ke Indonesia sudah tidak asli. Banyak sekali campuran-campuran dari tradisi dan budaya saudagar Gujarat, India.[7] Kesimpulan Snouck Hurgronje ini kemudian melahirkan reaksi besar dari kaum intelektual Muslim Indonesia. Mereka tidak terima, jika dikatakan bahwa Islam yang disebarkan ke Indonesia datangnya dari India dan sudah bercampur dengan tradisi dan budaya mereka. Makanya, pada tahun 1963 mereka membuat satu seminar besar di Aceh—yang dihadiri ratusan tokoh sejarawan Muslim—untuk mengoreksi sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dibuat Snouck Hurgronje tersebut.[8]

Tapi, pada hakikatnya Snouck Hurgronje tidaklah serampangan dalam menulis sejarah Islam Nusantara. Dia memiliki data-data dan fakta ilmiah yang kuat, sistematis dan logis—sehingga banyak pula kalangan intelektual Muslim yang menerima teori dia. Artinya, pengamatan Snouck Hurgronje sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, secara cerdik dia mempersempit ruang sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Dengan mengatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah bawaan saudagar Gujarat pada abad ke-13, Snouck Hurgronje hendak menafikan dan menutup mata kita akan fakta lain mengenai kedatangan saudagar-saudagar selain dari Gujarat yang berasal dari Arab (Muslim), jauh sebelum abad ke-13.

Namun, dua kesimpulan ini—Islam datang ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi oleh saudagar dan dai dari Arab serta Islam datang di abad ke-13 oleh saudagar dari Gujarat—sebenarnya adalah satu rangkaian yang dapat dikompromikan sehingga menghasilkan informasi sejarah yang komprehensif. Artinya, pada awal abad ke-7 Masehi atau abad 1 Hijriah, sudah terjadi encounter civilazition antara saudagar Muslim—baik itu yang datang dari India, Arab, Persia atau China[9]—dengan masyarakat Nusantara. Awalnya hanyalah hubungan dagang semata. Tapi, akibat intensitas hubungan yang tinggi itulah yang kemudian menjadi sarana dakwah Islam hingga penduduk Perlak menerimanya sebagai agama mayoritas. Dan, puncaknya pada abad ke-8 Masehi berdirilah Kesultanan Perlak.[10]

Menurut menurut Taufik Abdullah, cara mengompromikannya adalah sebagai berikut “Islam sudah datang ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi tetapi baru dianut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke-13 dengan berdirinya kerajaan Perlak dan Samudera Pasir (Pasai). Hal ini, terjadi akibat arus balik kehancuran Baghdad—ibukota Dinasti Abbasiyah—oleh Hulagu Khan. Kehancuran Baghdad itulah yang mengalihkan aktivitas perdagangan mereka ke Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara.”[11]

Rangkaian inilah yang kemudian membuktikan bahwa, pertama Snouck Hurgronje—dalam menjelaskan sejarah masuknya Islam ke Indonesia—memutus alur sejarah Islam di Nusantara. Dia mengambil abad pertengahan (13 Masehi) berkembangnya Islam di Nusantara, sebagai awal masuknya Islam ke Nusantara. Dalam dunia ilmiah dan akademisi, apa yang dilakukan Snouck Hurgronje ini adalah “kejahatan intelektual” yang tidak bertanggung jawab. Ini diperkuat dengan pendapat Prof. Dr. Musyrifah Sunanto yang menyatakan bahwa orientalis seringkali berusaha meminimalisasi peran Islam dalam masyarakat Nusantara. Dan, begitulah karakter mereka, yang mendalami banyak ilmu demi untuk menyampaikan propaganda dan ketidakjujuran.[12]

Kedua, ketika Snouck Hurgronje mengatakan bahwa bukti masuknya Islam di Nusantara ini dibawa oleh orang-orang Gujarat adalah banyaknya paham Syi’ah—yang itu banyak berkembang di daerah Malabar, India—, berkembangnya paham sufi falsafi seperti Wahdatul Wujud dan Al-Hululiyah, dan tahayul-tahayul di lapisan rakyat kelas bawah.[13] Padahal, jika Snouck Hurgronje mau melihat sejarah Timur Tengah, semua itu justru menunjukkan miniatur kota Baghdad pada masa itu. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab sejarah, Baghdad pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-13 M) adalah kota yang penuh dengan pergolakan intelektual, dimana benturan antar paham dan mazhab tumbuh subur dan beragam. Disebutkan bahwa mazhab Syi’ah, pertama kali muncul di Mesir. Tapi, ia berkembang pesat di Baghdad karena saat itu Baghdad adalah wilayah yang sangat terbuka dan marak dengan berbagai sekte dan pemikiran. Bahkan, pada masa itu, filsafat tumbuh subur di sana.[14]

Jadi, keberagamaan masyarakat Muslim Nusantara yang dikemukakan Snouck Hurgronje di atas, bukanlah fakta bahwa Islam disebarkan oleh saudagar dari Gujarat. Semua itu, justru merupakan fakta bahwa Islam yang berkembang di Nusantara sangat dipengaruhi oleh corak pemikiran yang ada di Baghdad pada saat kejayaannya. Lagi-lagi, di sini Snouck Hurgronje memutus alur sejarah.

Artinya, ketika fakta tentang pertumbuhan mazhab Syi’ah ini terjadi di Malabar dan di Baghdad, Snouck Hurgronje memilih pengaruh Malabar, India sebagai sumber “arus pemikiran” yang datang ke Nusantara ini. Alasannya, saudagar-saudagar India pada saat itu banyak yang menetap di Nusantara. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang lain, Baghdadlah yang memiliki pengaruh kuat terkait hal itu. Apalagi, orang-orang dari Baghdad juga sudah banyak yang menetap di Nusantara. Bahkan, mereka—khususnya kaum Muslimin bermazhab Syi’ah—sudah menetap sejak kesultanan Perlak dan mendirikan kesultanan Perlak. Menurut Prof. Dr. Wan Hussein Azmi, Syi’ahlah akidah pertama yang dianut oleh kesultanan Perlak. Dari dinasti pertama Perlak hingga berujung pada penyerangan Kerajaan Sriwijaya pun (840-983 M) Syi’ah menjadi akidah mayoritas di Kesultanan Perlak ini.[15]

KESULTANAN PERLAK

Dalam sejarah Islam Nusantara, tercatat ada beberapa kesultanan yang mampu berkembang besar dan berjaya. Berikut ini adalah beberapa kesultanan tersebut:

Kesultanan adalah bukti penyebaran yang paling banyak disoroti dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Meskipun begitu, kesultanan tidak bisa dijadikan acuan tanggal awal masuknya Islam ke Nusantara. Kesultanan hanyalah bukti kekuatan politik masyarakat Muslim di Nusantara atas hegemoni kerajaan-kerajaan Hindu-Budha pada saat itu.

Adapun kesultanan Islam pertama di Nusantara adalah Kesultanan Perlak. Kesultanan Perlak ini penting dipaparkan karena ia merupakan bukti sejarah yang secara sistematis “dikikis” oleh teori-teori Barat untuk mendukung gagasannya mengenai sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Seperti yang sudah dijelaskan, dengan teori itu mereka ingin mengebiri peran saudagar Muslim dan para dai dalam membangun Nusantara ini. Jadi, sosok seperti Snouck Hurgronje, secara tidak langsung ingin mengatakan Belandalah yang banyak berjasa dalam membangun dan memajukan masyarakat Indonesia ini, termasuk—bisa jadi—dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Di sini, akan kami jelaskan sedikit tentang Kesultanan Perlak. Kesultanan Perlak ini, memiliki tiga dinasti besar yaitu:

  1. Dinasti Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah
    1. Sultan Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H/840-864 M)
    2. Sultan Sayyid Maulana Abdurrahim Syah (249-285 H/864-888 M)
    3. Sultan Sayyid Maulana Abbas Syah (285-300 H/888-913 M)

Di masa dinasti ini, di pemerintahan Perlak mulai bermunculan orang-orang Muslim dari Sunni. Bahkan, pengusungnya adalah salah satu dari keluarga Kesultanan Perlak. Dan, itu membuat sebagian besar masyarakat Syi’ah tidak menyukainya. Maka, pada masa Sultan Sayyid Maulana Abbas Syah terjadilah perang saudara yang membuat sang sultan terbunuh. Setelah itu, pemerintahan di Perlak vakum selama kurang lebih 2 tahun. Setelah vakum selama itu, dipilihlah kembali sultan dari kaum Syi’ah yakni Sayyid Maulana Ali Mughayat Syah.

  1. Dinasti Sayyid Maulana Ali Mughayat Syah (302-305 H/915-918 M)

Pada masa kesultanan Sayyid Maulana Ali Mughayat Syah ini, di akhir kekuasaannya, terjadi lagi pergolakan antara Syiah dan Sunni yang berakhir pada kemenangan pihak Sunni. Lantas, kaum Sunni memilih sultan dari golongan mereka yakni Sultan Makhdum Alauddin Malik Abdul Kadir Syah Johan. Beliau berkuasa di Kesultanan perlak selama kurang lebih 4 tahun yakni dari tahun 306-310 H/928-932 M.

  1. Dinasti Makdhum Johan
    1. Sultan Makhdum Alauddin Malik Abdul Kadir Syah Johan (306-310 H/928-932 M)
    2. Sultan Makdhum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah Johan (310-334 H/932-956 M)
    3. Sultan Makhdum Alauddin Abdul Malik Syah Johan (334-362 H/956-983 M)

Di akhir pemerintahan dinasti ini, terjadi lagi pergolakan antara Syi’ah dan Sunni. Sehingga, terjadilah perang saudara selama kurang lebih 4 tahun dan tidak ada satu pihak pun yang menang. Hingga akhirnya mereka sepakat membagi Kesultanan Perlak pada dua pemerintahan yakni pemerintahan Sunni ada di Perlak bagian dalam dan pemerintahan Syi’ah ada di Perlak bagian pesisir. Kesultanan Perlak pesisir mengangkat Sultan Alauddin Sayyid Maulana Syah (365-377 H/976-988 M) dan Kesultanan Perlak dalam mengangkat Sultan Makhdum Alauddin Malik Ibrahim Syah Johan (365-402 H/986-1023 M).

Nahasnya, Kesultanan Perlak pesisir kemudian diserang oleh Kerajaan Sriwijaya hingga pada tahun 395 H/1006 M Kesultanan Perlak pesisir tumbang. Lalu, setelah itu dan hingga Kesultanan Perlak berakhir, kekuasaan diambil alih oleh Kesultanan Perlak dalam atau Kesultanan Perlak Sunni. Hingga berkuasa 9 sultan setelah itu:

  1. Sultan Mahkdum Alauddin Malik Mahmud Syah Johan (402-450 H/1012-1059 M)
  2. Sultan Makhdum Alauddin Malik Manshur Syah Johan (450-470 H/1059-1078)
  3. Sultan Makhdum Alauddin Malik Abdullah Syah Johan (470-501 H/1078-1109 M)
  4. Sultan Makhdum Alauddin Malik Ahmad Syah Johan (501-527 H/1109-1135 M)
  5. Sultan Makhdum Alauddin Malik Mahmud Syah Johan (527-552 H/1135-1160 M)
  6. Sultan Makhdum Alauddin Malik Usman Syah Johan (552-565 H/1160-1173 M)
  7. Sultan Makhdum Alauddin Malik Muhammad Syah Johan (565-592 H/1173-1200 M)
  8. Sultan Makhdum Alauddin Abdul Jalil Syah Johan (592-622 H/1200-1230 M)
  9. Sultan Makhdum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah Johan (622-659 H/1230-1267 M)[16]

Inilah, fakta besar yang diabaikan oleh sejawaran Barat tentang sejarah Islam di Nusantara. Mereka memangkas sejarah dan memulainya dari abad ke-13 yang padahal itu adalah abad berakhirnya Kesultanan Perlak setelah sebelumnya berkuasa selama kurang lebih 5 abad. Lalu, Snouck Hurgronje memulai sejarah awal masuknya Islam dari Kesultanan Samudera Pasai yang berdiri beberapa tahun setelah Kesultanan Perlak berakhir.

Tapi, bisa jadi Snouck Hurgronje tidak memiliki data akurat mengenai Kesultanan Perlak ini. Padahal, Marco Polo sudah menyebutkan adanya Kesultanan Perlak, hanya saja memang Marco Polo tidak menjelaskan detail mengenai Kesultanan Perlak selain hanya menunjukkan fakta bahwa pada saat ia berkunjung ke Nusantara abad ke-13 ia menemukan Kesultanan Perlak ini. Dr. B.J.O Schrieke dalam bukunya “Het Boek van Bonang” menyebutkan bahwa dalam catatannya Marco Polo pernah menulis, “This Kingdom (Perlak), you must know, is so much frequented by the Saracen merchants that they have converted the natives to the law of Muhammad—I mean town pople only.”[17]

PENUTUP

Demikianlah ulasan kami mengenai sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Sampai kapan pun kesimpangsiuran sejarah masa lalu Nusantara ini akan tetap bertahan. Tapi, berkat membaca, kami dapat menentukan arah mana yang kami pilih dan teori mana yang kami menangkan. Sehingga, pikiran dan benak kami tidak di wilayah abu-abu atau dalam kondisi bimbang. Semoga, makalah kecil ini memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya pada penulis pribadi. Wassalam. Wallâhu a’lam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Al-Ma’arif, 1989)

Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Nusantara, (Solo: Ramadhani, 1985)

Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Mazdahib Al-Islamiyah, (Kairo: Dar Al-Fikr Al-‘Arabi, tth.)

Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010)

Roeslan Abdulgani, Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Antar Kota, 1983)

Taufik Abdullah, (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: MUI, 1991)

 

FOOTNOTE

[1] Pada abad ke-9 Masehi sudah mulai ramai saudagar-saudagar Arab Muslim dari Hadhramaut dan Yaman yang datang ke Nusantara. Bahkan, Prof. Dr. Wan Hussein Azmi mengatakan bahwa jauh sebelum Islam lahir orang-orang Arab sudah banyak yang berlayar ke Nusantara. Lihat, A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Al-Ma’arif, 1989) Hal. 174-175.

[2] Roeslan Abdulgani, Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Antar Kota, 1983) Hal. 17-20.

[3] Roeslan Abdulgani, Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, hal. 20.

[4] A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 174.

[5] A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 184.

[6] Penemuan ini merupakan hasil kajian DR. N.A. Baloch—seorang sejarawan asal Pakistan—yang kemudian dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul Advent of Islam in Indonesia. Lihat, A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 24.

[7] A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 113.

[8] Menurut Prof. Dr. Wan Hussein Azmi, ada tiga teori yang menjelaskan tentang datangnya Islam ke tanah Melayu. Pertama, teori yang menyatakan bahwa Islam di Nusantara datang dari Arab. Ini dikemukakan oleh Sir. John Crowford. Kedua, teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari India. Ini dikemukakan oleh c. Snouck Hurgronje pada tahun 1883 dan kemudian didukung oleh banyak ilmuan orientalis lainnya sperti, Dr. Gonda, Marrison, R.A. Kern, Van Ronkel dan masih banyak lagi. Ketiga, teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari negeri China. Ini dinyatakan oleh ilmuan Spanyol yang bernama Emanuel Godinho de Eradie. Lihat, A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 180.     

[9] Terdapat buku tua di China yang menginformasikan bahwa pada gugusan pulau Melayu (Malaka dan Pasai) terdapat kerajaan bernama Tashi yang sudah mengikat perjanjian diplomatik dengan China sejak tahun 630 Masehi. Lihat, A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 179.     

[10] Selain Perlak ada juga kerajaan Islam pertama Nusantara di abad ke-3 Hijriah yaitu, Lamuri dan Pasai. Ini adalah pendapat dan merupakan hasil penelitian A. Hasjmy terhadap tiga naskah kuno yaitu, kitab, izhhâr al-haqq karya Abu Ishaq Makarani Al-Fasy, kitab, tadzkirah tabaqât jumû’ sulthân as-salathîn karya Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al-‘Asyi, dan kitab Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai karya Sayid Abdullah bin Habib Saifuddin. Lihat, A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 144.     

[11] Taufik Abdullah, (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: MUI, 1991) Hal. 39. Bahkan, menurut Prof. Dr. Aboebakar Aceh, setelah kehancuran Baghdad—sebagai ibu kota kekhilafahan Islam saat itu—saudagar-saudagar Muslim dari Timur Tengah banyak yang mencari tempat tinggal baru di pesisir Nusantara. Kebanyakan dari mereka tinggal di pesisir Sumatera, Jawa dan Bornoe. Lihat, Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Nusantara, (Solo: Ramadhani, 1985) Hal. 2.

[12] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010) Hal. 7.

[13] Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Nusantara, hal. 4.

[14] Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Mazdahib Al-Islamiyah, (Kairo: Dar Al-Fikr Al-‘Arabi, tth.) Hal. 38.

[15] A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 198-200.

[16] A. Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, hal. 198-200.

[17] Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Nusantara, hal. 8.