TEORI EDITING: Dipresentasikan di Pesantren Darus Sunnah

by KONSULTASI~Haji&Umroh

20150615_112025

Editing adalah kerja besar seorang editor demi menghasilkan teks yang nyaman dibaca. Oleh karena kerja besar, maka dibutuhkan perspektif yang ekstra detil saat menangani sebuah  naskah. Artinya, editor harus melihat setiap sisi dari komponen-komponen naskah sebelum ia menjadi buku, buletin, majalah, koran atau yang lain. Komponen-komponen tersebut diantaranya adalah logika berpikir penulis, tema naskah, dan target pembaca. Tujuannya adalah agar tidak ada kesenjangan antara teks, pencipta teks dan pembaca. Sehingga hasilnya adalah tulisan yang otentik dan kontekstual. Otentik dalam arti jika naskah tersebut hasil terjemahan maka ia mampu menghadirkan penulis secara utuh, baik itu dari kapasitas bahasa maupun gagasannya. Atau lebih mudahnya, saat membaca naskah tersebut, pembaca merasa Imam ibn Katsir—jika itu merupakan hasil karyanya—sedang menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang fasih. Adapun kontekstual artinya naskah dikondisikan sesuai dengan kebutuhan dan nalar pembaca.

Menghadirkan naskah seperti itu, membutuhkan intensitas yang tinggi. Bahkan, sangat penting bagi seorang editor untuk berdialog secara verbal dengan penulisnya untuk memastikan gagasan atau isi dari naskah yang sedang digarap. Atau, berdialog dengan penerjemahnya jika naskahnya berbahasa asing (Arab, Inggris, Belanda, dan sebagainya). Dan, seorang editor harus mampu memberikan briefing atau pembekalan kepada penerjemah sesuai hasil review naskah. Dialog dan diskusi dengan penerjemah ini merupakan kerja utama dan pertama sebelum penerjemahan dimulai. Dalam proses ini, penerjemah diajak berdiskusi mengenai materi dan komponen-komponen naskah. Memang, ada penerjemah yang bisa cepat menangkap, tapi ada juga yang tidak bisa memahaminya. Tujuan dari semua itu adalah agar subyektivitas penerjemah tidak mengintervensi naskah asli, yang itu dapat mengaburkan otentisitas karya dan gagasan penulis. Jika yang diintervensi penerjemah adalah gaya bahasanya, mungkin editor masih bisa meluruskan. Tapi jika yang diitervensi penerjemah adalah logika berpikir penulis, maka editor akan kewalahan.

Khusus dan terkait dengan naskah Arab, ada perbedaan yang kuat antara buku-buku terbitan Saudi Arabia, Mesir, dan Damaskus. Masing-masing buku dari tiga wilayah Timur Tengah itu, memiliki gaya bahasa yang berbeda, walaupun sama-sama berbahasa Arab. Damaskus memiliki struktur bahasa yang khas, begitu juga dengan diksinya. Terutama karya yang ditulis oleh ulama yang mencintai sastra. Ini berbeda dengan karya-karya dari Saudi Arabia. Mayoritas buku-buku dari sana menggunakan struktur bahasa yang datar dan lugas. Adapun terbitan Mesir hampir sama dengan yang di Damaskus. Kenapa itu terjadi? Mungkin karena orang Damaskus butuh pengakuan kalau dia juga Arab. Sehingga, menunjukkannya dengan taji bahasa yang indah. Sebaliknya, orang Saudi Arabia sendiri tidak memerlukan pengakuan itu dalam karyanya sehingga abai dengan tutur bahasanya.

Hal semacam ini setidaknya dapat menjadi modal bagi penerjemah demi menghadirkan terjemahan yang otentik dan kualitas gagasannya sejajar dengan naskah asli. Dengan begitu, editor bisa fokus pada bidang dan wilayah kerjanya. Dan, bagaimanapun juga, menghadirkan naskah yang otentik dan kontekstual itu mudah dilakukan, jika ditangani dengan serius. Logika berpikir manusia memang fluktuatif sehingga memengaruhi bahasa dan tulisannya, dan editor menjaga keutuhan logika itu agar tetap konsisten. Kemudian, editor mengkontekskan dengan keadaan pembaca yang menjadi target penyebaran naskah. Teori memang tak semudah praktiknya. Tapi, pasti ada formula untuk menciptakan dan menghadirkan naskah yang nyaman dibaca.  Berikut ini secuil dari teori editing yang saya buat berdasarkan secuil pengalaman saya;

  1. Memangkas kata atau kalimat berlebihan yang mengganggu keutuhan sebuah paragraf; karena kalimat terlalu panjang dan menghambat logika berpikir. Atau, karena pertimbangan efektifitas suatu kata ketika ia ada dalam sebuah kalimat. Saya menamakannya teori cutting. Berikut ini contohnya;

Naskah Asli

Berkenaan dengan hal itu, upaya menundukkan jiwa merupakan latihan dalam menggapai semua itu. Pada saat yang bersamaan, hal itu sekaligus menjadi penyelaras naluri yang akan menuntun ke arah kebaikan karena tidak ada satu pun amalan yang secara ikhlas dilakukan hanya untuk Allah swt., semisal ibadah dan doa, melainkan tentulah amalan itu membutuhkan mujahadah, kejernihan jiwa, keikhlasan, dedikasi, dan niat yang tulus.

Perbaikan

Berkenaan dengan hal itu, upaya menundukkan jiwa merupakan latihan, sekaligus menjadi penyelaras naluri yang akan menuntun ke arah kebaikan. Karena tidak ada satu pun amalan ikhlas semisal ibadah dan doa, melainkan butuh mujâhadah, kejernihan jiwa, dedikasi, dan niat yang tulus.

  1. Menemukan maksud penulis, kemudian dirangkum lagi dengan susunan baru yang mudah dipahami dan sesuai dengan gaya penyampaian yang dimengerti pembaca. Untuk teori ini saya menyebutnya dengan restructuring. Contohnya sebagai berikut;

Naskah Asli

Maksudnya adalah  jika manusia selalu bersumpah, tidak pernah melanggar sumpahnya dan juga tidak menebus dengan kafarat, berarti dosanya lebih banyak ketimbang tidak mau memberikan kafarat yang telah Allah wajibkan kepadanya. Dengan kata lain, suka melanggar janji menurutnya ada yang lebih baik.

Perbaikan

Maksudnya, orang yang melanggar sumpah karena ingkar lalu menebusnya dengan kafarat, maka itu lebih mulia daripada orang yang melanggar sumpah karena hal itu lebih baik daripada menepatinya namun tidak membayar kafarat. Padahal membayar kafarat itu hukumnya wajib. Sehingga dalam konteks ini, ada istilah melanggar sumpah yang baik dan dibenarkan.

  1. Memunculkan kembali obyek atau subyek (dhamîr) yang menurut tradisi bahasa Arab justru lebih efektif jika disembunyikan. Atau, memunculkan istilah asli dalam bahasa aslinya; Arab maupun Inggris. Saya menyebutnya dengan appearing.
  2. Menghapus satu paragraf penuh karena alasan tertentu dan tidak ada gunanya kalaupun ditampilkan atau bahkan berbahaya. Saya menyebutnya dengan celaning.
  3. Mengganti terjemahan yang salah dengan terjemahan yang benar atau changing.

 Semua teori tersebut tidak berarti mewakili seluruh kerja editor. Namun, jika dipraktikkan dengan bijaksana dan proporsional, maka sudah cukup membantu kinerja editing naskah. Semoga bermanfaat. Amin.